BANYUMASEKSPRES.ID, PURWOKERTO – Retno Haryanto, yang lebih akrab disapa Reno, tak pernah mengira bahwa eksperimen kecil-kecilan membuat sambal di rumah justru menjadi cikal bakal usaha yang kini berkembang pesat di berbagai kota di Indonesia.
Bermula dari kejenuhan saat kembali ke Cikarang, Reno memutuskan mencoba membuat sambal dengan modal awal hanya Rp100 ribu.
“Lagi di rumah, bingung mau ngapain. Saya lihat-lihat motivator, terus mikir, hidup kok begini ya. Dari situ kepikiran coba bikin sambel. Mulai kecil-kecilan, modalnya cuma seratus ribu,” kenangnya.
Dengan peralatan dapur seadanya, Reno kembali mengolah resep sambal yang sebenarnya sudah ia kembangkan 15 tahun silam.
Saat itu, ia hanya memiliki dua varian sambal yaitu sambel bawang dan sambel tongkol yang dipasarkan melalui status WhatsApp pribadinya.
Tak disangka, minat dari konsumen mulai berdatangan hingga akhirnya menjadikannya pelanggan tetap dari berbagai kota seperti Surabaya, Jakarta, Bandung, dan Bali.
“Aku nyari variasi yang nggak pasaran akhirnya bikin sambel tongkol,” ungkap Reno kepada Banyumas Ekspres.
Usahanya terus berkembang hingga kini memiliki enam varian sambal termasuk sambel asap yang diproses dengan metode pengasapan menggunakan kayu buah-buahan.
“Smoky-nya itu yang dicari orang,” tambahnya.
Seiring waktu, usahanya semakin maju dengan ukuran kemasan yang kini tersedia lebih besar untuk memenuhi kebutuhan restoran dan para pelanggan serta reseller yang tersebar di Purwokerto, Bali, Bandung, Jakarta, Semarang, dan Yogyakarta.
Dalam setiap produksi, Reno kini mampu menghasilkan sekitar 30 botol sambal per hari, jumlah yang jauh meningkat dibandingkan awal usahanya yang hanya memproduksi lima botol.
Namun demikian, Reno harus bersikap cermat dalam menghadapi kenaikan harga cabai rawit terutama saat musim hujan dan menjelang hari-hari besar seperti Natal dan Tahun Baru serta Lebaran.
“Kalau harga cabe murah, aku beli agak banyak. Bisa sampai 50 kilo, langsung tak packing… masuk freezer,” jelasnya dengan telaten.
Reno berharap agar pemerintah melalui Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) dapat terus menjaga stabilitas harga bahan pangan di pasar.
Meskipun pernah ditawari pasokan cabai langsung dari petani lokal untuk mendapatkan harga lebih murah dan stabilitas stok bahan baku tetap terjaga sepanjang tahun, Reno menolak tawaran tersebut.
“Takutnya nanti pasarnya mati karena nggak bisa nyesuaiin,” ucapnya dengan pertimbangan matang.
Label produk Sambal Iboe ini menggunakan foto ibunya sebagai ciri khas branding sehingga semakin dikenal luas oleh masyarakat.
Setiap hari ia mengolah sekitar tiga kilogram cabai untuk lebih dari 30 botol sambal yang seluruhnya dipasarkan melalui WhatsApp tanpa menggunakan toko e-commerce atau platform penjualan online lainnya.
Selain itu, Reno telah menyiapkan sepuluh resep baru yang sudah diuji coba untuk memperkaya varian produk sambalnya ke depannya.
“Banyak juga ide dari costumer. Selama ada masukan, aku terima,” katanya dengan semangat menerima saran dari pelanggannya demi inovasi produk.
Meski usahanya berjalan lancar di dalam negeri, satu kendala besar muncul ketika ada permintaan untuk ekspor ke luar negeri karena produk sambalnya tergolong cair sehingga sulit untuk dikirim ke luar negeri seperti Belanda.
“Pernah ada yang minta kirim ke Belanda, tapi susah banget masuk,” ujarnya sembari berharap suatu saat nanti ada solusi bagi tantangan ekspor tersebut.
Namun begitu, Reno tetap menikmati setiap proses dalam menjalankan bisnisnya ini dan merasa bahagia ketika pelanggannya menyukai hasil masakannya.
“Aku tuh seneng kalau orang suka masakanku. Penjualan itu kayak bayangan. Kalau valuenya bagus, rasanya enak, penjualan pasti ikut,” tutupnya penuh optimisme akan masa depan usahanya tersebut. (dms/dda)
















