BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Sastrawan sekaligus novelis nasional Ahmad Tohari mengajak generasi muda untuk membiasakan diri membaca dan menulis sebagai bekal menghadapi tantangan masa depan.
Menurut penulis novel legendaris Ronggeng Dukuh Paruk itu, budaya literasi menjadi salah satu faktor utama yang menentukan kemajuan suatu bangsa.
Pesan tersebut disampaikan Ahmad Tohari saat menghadiri kegiatan Meet and Greet bertajuk “Ngobrol Santai Menumbuhkan Minat Literasi Generasi Muda” di SMAN 1 Sigaluh, Kabupaten Banjarnegara, Jumat (17/7/2026).
Kehadirannya disambut antusias oleh ratusan siswa dan guru yang mengikuti diskusi mengenai pentingnya membaca, menulis, serta membangun budaya literasi sejak usia sekolah.
Dalam kesempatan itu, Ahmad Tohari menegaskan bahwa kemampuan menulis bukan sekadar keterampilan akademik, melainkan sarana untuk mengembangkan pola pikir, memperluas wawasan, sekaligus membentuk karakter seseorang.
“Menulis merupakan aktivitas strategis untuk mengembangkan diri. Orang yang menulis biasanya kepandaiannya di atas rata-rata. Maju tidaknya suatu bangsa ditentukan oleh literasi masyarakatnya,” ujar Ahmad Tohari.
Penulis yang telah menghasilkan berbagai karya sastra terkenal tersebut juga membagikan pengalaman pribadinya selama menekuni dunia kepenulisan.
Menurutnya, menulis selalu menjadi aktivitas yang dilakukan dengan penuh kesungguhan dan keikhlasan.
Ahmad Tohari mengungkapkan bahwa dirinya memandang kegiatan menulis sebagai bagian dari ibadah dan bentuk refleksi diri.
“Kalau saya, menulis saya anggap sebagai cara berdzikir. Maka saya khusyuk setiap kali menulis,” ungkapnya.
Ia juga berpesan kepada para pelajar agar tidak takut memulai menulis meskipun masih belajar.
Menurutnya, semua penulis besar memulai perjalanan mereka dengan banyak membaca dan belajar dari karya para pendahulu.
“Awal menulis, mencontoh tidak apa-apa karena kita pasti membutuhkan inspirasi dari karya penulis terdahulu,” jelasnya.
Menurut Ahmad Tohari, kebiasaan membaca akan memperkaya kosakata, memperluas cara berpikir, sekaligus menjadi modal penting untuk menghasilkan tulisan yang berkualitas.
Kunjungan Ahmad Tohari ke SMAN 1 Sigaluh bertepatan dengan peluncuran hasil program Satu Kelas Satu Buku (SKSB) yang telah dijalankan sekolah.
Melalui program tersebut, setiap kelas didorong untuk menghasilkan karya tulis dalam bentuk buku sebagai bagian dari penguatan budaya literasi di lingkungan sekolah.
Hasilnya, sebanyak 24 buku karya siswa berhasil diterbitkan. Selain itu, guru dan tenaga kependidikan juga menerbitkan satu buku, sehingga total terdapat 25 buku yang lahir dari program tersebut.
Peluncuran puluhan buku itu menjadi bukti bahwa budaya membaca dan menulis mulai tumbuh di kalangan warga sekolah.
Kepala SMAN 1 Sigaluh, Linovia Karmelita, berharap program Satu Kelas Satu Buku tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, tetapi menjadi tradisi yang terus berkembang setiap tahun.
Menurutnya, budaya literasi perlu ditanamkan sejak dini agar siswa memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, serta mampu menyampaikan gagasan melalui tulisan.
Program tersebut juga diharapkan mampu meningkatkan minat baca sekaligus melahirkan lebih banyak karya yang bermanfaat bagi masyarakat.
Dukungan terhadap gerakan literasi di SMAN 1 Sigaluh juga datang dari Pemerintah Kabupaten Banjarnegara.
Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Banjarnegara, Arief Rahman, memberikan apresiasi atas keberhasilan sekolah melahirkan puluhan buku karya siswa dan guru.
Ia berharap seluruh karya tersebut dapat menjadi koleksi Perpustakaan Daerah Banjarnegara sehingga dapat dibaca oleh masyarakat luas dan menjadi inspirasi bagi sekolah lainnya.
Menurutnya, keterlibatan pelajar dalam menghasilkan buku merupakan langkah nyata untuk meningkatkan budaya literasi di Kabupaten Banjarnegara sekaligus mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Melalui kegiatan bersama Ahmad Tohari dan peluncuran program Satu Kelas Satu Buku, SMAN 1 Sigaluh menunjukkan komitmennya dalam membangun budaya membaca dan menulis di kalangan generasi muda.
Diharapkan, gerakan tersebut mampu melahirkan lebih banyak penulis muda sekaligus memperkuat budaya literasi sebagai fondasi kemajuan bangsa di masa depan. (jud/stch/dda)
















