BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Dieng Culture Festival (DCF) 2026 kembali dimanfaatkan sebagai momentum strategis untuk memperkenalkan produk unggulan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Banjarnegara kepada wisatawan dari berbagai daerah.
Tidak hanya berorientasi pada peningkatan penjualan selama festival berlangsung, ajang tahunan ini juga ditargetkan mampu membuka peluang kerja sama bisnis serta menghasilkan repeat order yang berkelanjutan setelah acara berakhir.
Melalui Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM (Disperindagkop UKM) Kabupaten Banjarnegara, pemerintah daerah kembali menghadirkan puluhan stan yang diisi pelaku UMKM binaan.
Beragam produk lokal akan dipamerkan, mulai dari makanan, minuman, hingga aneka kerajinan khas daerah yang memiliki potensi bersaing di pasar nasional maupun internasional.
Kepala Bidang Perdagangan Disperindagkop UKM Banjarnegara, Rohana Kudus Al Hajj, mengatakan bahwa DCF merupakan salah satu agenda pariwisata terbesar di Banjarnegara yang memiliki daya tarik tinggi bagi wisatawan dari luar daerah.
Kondisi tersebut menjadi peluang emas bagi pelaku UMKM untuk memperkenalkan produknya kepada pasar yang lebih luas.
Menurutnya, keberhasilan sebuah pameran tidak hanya diukur dari besarnya transaksi yang terjadi selama kegiatan berlangsung, tetapi juga dari kemampuan pelaku usaha membangun jaringan pemasaran baru yang dapat memberikan manfaat jangka panjang.
“Tujuan kami memang sebagai ajang promosi sekaligus mendukung kegiatan strategis Pemerintah Kabupaten. Produk UMKM Banjarnegara sebenarnya sudah bagus, tinggal bagaimana memperluas jaringan bisnis dan pasarnya,” ujarnya.
Rohana mengungkapkan bahwa pengalaman pada pelaksanaan Dieng Culture Festival tahun sebelumnya menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan.
Banyak pelaku UMKM tetap menerima pesanan setelah festival selesai karena produk mereka dikenal oleh pengunjung yang berasal dari berbagai kota di Indonesia.
“Alhamdulillah tahun lalu repeat order teman-teman UMKM cukup bagus. Karena pengunjung DCF banyak dari luar kota, ini menjadi kesempatan pelaku usaha untuk mengenalkan produknya lebih luas. Tahun ini harapannya tentu bisa lebih baik lagi,” katanya.
Pada penyelenggaraan DCF 2026, Disperindagkop UKM menyiapkan sekitar 30 stan pameran yang akan diisi oleh sekitar 15 asosiasi UMKM binaan.
Produk yang ditampilkan cukup beragam, mulai dari makanan olahan, minuman khas, hingga produk kerajinan seperti batik Banjarnegara, anyaman bambu, ecoprint, dan rajutan.
Menurut Rohana, pihaknya tidak memberikan arahan khusus terkait tema produk yang harus dipamerkan.
Fokus pembinaan lebih diarahkan pada peningkatan kualitas agar setiap produk mampu bersaing di tengah persaingan pasar yang semakin ketat.
“Kami tidak menargetkan produk harus seperti apa, tetapi lebih menekankan peningkatan kualitas produknya sehingga semakin diminati konsumen,” jelasnya.
Selain kualitas produk, aspek legalitas usaha juga menjadi perhatian utama.
Seluruh produk yang mengikuti expo dipastikan telah memenuhi persyaratan dasar, seperti memiliki izin Produk Industri Rumah Tangga (PIRT) serta sertifikat halal, sehingga mampu meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap produk yang dipasarkan.
“Kami terus mendorong pelaku usaha agar legalitas produknya terpenuhi karena itu menjadi salah satu bentuk kepercayaan konsumen. Produk yang ikut expo juga sudah dipastikan memenuhi legalitas tersebut,” ungkap Rohana.
Meski tidak menetapkan target khusus mengenai nilai transaksi selama festival berlangsung, Disperindagkop mencatat capaian penjualan pada penyelenggaraan tahun sebelumnya tergolong tinggi.
Dalam satu hari efektif, total transaksi langsung di arena expo bahkan mencapai sekitar Rp130 juta.
Namun demikian, Rohana menegaskan bahwa angka penjualan selama festival bukan menjadi indikator utama keberhasilan program.
Yang jauh lebih penting adalah terciptanya hubungan bisnis baru yang mampu menghasilkan pesanan berulang setelah kegiatan selesai.
“Tahun lalu transaksi langsung selama dua hari cukup tinggi, dalam satu hari efektif bahkan mencapai sekitar Rp130 juta. Namun yang paling kami harapkan sebenarnya bukan hanya penjualan di lokasi, melainkan repeat order setelah kegiatan selesai,” katanya.
Ia menambahkan, sejumlah produk unggulan Banjarnegara seperti batik dan ecoprint telah dikenal hingga luar daerah bahkan mulai menembus pasar internasional.
Melalui pelaksanaan Dieng Culture Festival 2026, pemerintah berharap semakin banyak produk lokal lainnya yang memperoleh kesempatan serupa.
Dengan memadukan sektor pariwisata dan pengembangan ekonomi kreatif, DCF diharapkan tidak hanya menjadi festival budaya yang menarik wisatawan, tetapi juga menjadi pintu masuk bagi produk-produk UMKM Banjarnegara untuk memperluas pasar, meningkatkan daya saing, serta memperkuat perekonomian masyarakat secara berkelanjutan.
“Harapan kami produk-produk lain juga semakin dikenal. Expo ini bukan hanya soal jualan selama tiga hari, tetapi menjadi pintu agar produk UMKM Banjarnegara terus mendapat pesanan setelah kegiatan berakhir,” pungkas Rohana. (*/stch/dda)
















