BANYUMASEKSPRES.ID, JAKARTA – Setelah lebih dari dua dekade berkecimpung di dunia perfilman dan tampil di hadapan kamera dalam lebih dari 55 film, Acha Septriasa kini memasuki babak baru dalam kariernya.
Aktris yang telah meraih Piala Citra ini resmi beralih ke belakang layar sebagai salah satu pendiri Avarta Media, sebuah langkah yang jarang ditempuh oleh aktris Indonesia.
Perubahan ini menjadikannya bagian dari generasi kreator yang mengendalikan proses kelahiran sebuah cerita, sebuah pergeseran signifikan di industri film nasional.
Menurut Acha, pengalaman dua puluh tahun sebagai aktris bukan hanya perjalanan panjang tetapi juga bekal penting untuk memahami bagaimana sebuah film dapat menyentuh hati penonton.
Semua pengalaman itu kini dibawa ke meja kreatif, tempat keputusan awal dalam pembuatan film dibentuk.
“Setelah 20 tahun di industri ini, saya tahu cerita seperti apa yang benar-benar menyentuh penonton,” ujar Acha saat ditemui di Jakarta Selatan, pada Rabu (10/12).
Di Avarta Media, Acha terlibat dari tahap paling dini dalam proses kreatif: mulai dari memilih ide cerita, membangun karakter, hingga menjaga kejujuran emosional dalam setiap narasi.
Peran baru ini memberikan perspektif berbeda bagi Acha, karena selama ini ia hanya menyaksikan proses kreatif dari sudut pandang seorang pemain.
Kini, ia termasuk salah satu dari sedikit aktris yang meningkat menjadi kreator yang memegang kendali dan menentukan arah cerita sejak awal.
“Di sini, saya terlibat sejak tahap paling awal, memilih cerita, mengembangkan karakter, dan memastikan visinya tetap jujur secara emosional,” katanya lagi.
Transformasi Acha berlangsung bersamaan dengan perubahan besar dalam industri film Indonesia yang bergerak menuju sistem kerja yang lebih mapan.
Mulai dari akses pendanaan modern hingga pengelolaan hak kekayaan intelektual dan strategi pengembangan katalog karya.
Posisi Acha berada tepat di tengah-tengah perubahan tersebut, membawa sudut pandang seorang praktisi lapangan ke ruang pengambilan keputusan strategis.
Acha menilai bahwa sinergi antara kekuatan kreatif dan fondasi finansial adalah kunci utama. Dengan dukungan modal yang kokoh, ruang untuk bereksperimen semakin luas terbuka.
“Ketika risiko dikelola dengan matang, kreator bisa lebih fokus pada kualitas cerita dan keberanian artistik,” ungkapnya dengan penuh keyakinan.
Keberanian tersebut tampak jelas dalam proyek perdana Avarta Media bertajuk “9 AKU, CINTA TANPA SYARAT”, sebuah drama psikologis yang menggali tema kompleks seperti Dissociative Identity Disorder (DID), kesehatan mental serta isu kekerasan terhadap anak.
Meskipun tema-tema ini tidak umum di arus utama perfilman Indonesia, pilihan ini merupakan langkah sadar dari Acha untuk membuka ruang empati dan diskusi publik melalui layar lebar.
Pilihan berani ini juga menjadi bukti bahwa Acha sebagai aktris tidak ingin terjebak dalam stereotip yang ada.
Ia menolak mengikuti arus mainstream dan malah mengarahkan arus tersebut.
Dengan langkah inovatif ini, Acha memperkuat dirinya sebagai penggerak narasi yang berani mengambil risiko demi menciptakan cerita-cerita yang lebih relevan dan berdampak nyata.
Ke depannya, transformasi Acha diperkirakan akan menjadi inspirasi bagi banyak talenta muda yang ingin mengembangkan karier lebih jauh daripada sekadar berakting.
Pengalaman perjalanannya menunjukkan bahwa seorang aktor dapat bertransformasi menjadi kreator yang memimpin sebuah proyek kreatif dari awal hingga akhir.
Avarta Media sendiri diperkenalkan sebagai rumah kreatif baru bagi sineas Indonesia.
Perusahaan ini lahir dari perpaduan visi inovatif Acha dengan dukungan investasi Virtuelines Entertainment yang dipimpin oleh saudara kembar Ardi dan Arya Setiadharma.
Kolaborasi ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem kerja baru yang mendukung terciptanya film-film dengan keberanian tema dan kedalaman emosional.
Dengan demikian, langkah Acha Septriasa ke belakang layar bukan hanya sekadar pergeseran karier melainkan juga simbol peralihan paradigma di industri perfilman nasional menuju arah yang lebih berani dan inovatif.
Ini adalah era baru bagi para pelaku seni di Indonesia untuk mengeksplorasi batas-batas kreativitas mereka tanpa takut akan keterbatasan konvensionalitas. (*/dda)
















