Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode
STNK Diperpanjang Online tapi Belum Cap Samsat, Ini yang Terjadi Saat Razia
Abu Vulkanik Anak Krakatau Bergerak Menjauhi Indonesia, Radius Aman Tetap 3 Kilometer

Abu Vulkanik Anak Krakatau Bergerak Menjauhi Indonesia, Radius Aman Tetap 3 Kilometer

Anak Krakatau Kembali ErupsifAnak Krakatau Kembali Erupsif

BANYUMASEKSPRES.ID, JAKARTA – Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan aktivitas erupsi pada Selasa (8/9).

Badan Geologi mencatat terjadi delapan kali erupsi dalam rentang waktu yang relatif pendek.

Meski demikian, abu vulkanik dari erupsi tersebut tidak menyebar luas dan sejauh pengamatan hanya berada di sekitar gunung.

Gunung Anak Krakatau saat ini masih berstatus Level III atau Siaga. Dengan kondisi tersebut, masyarakat, pengunjung, dan wisatawan tetap dilarang memasuki radius tiga kilometer dari pusat aktivitas gunung api.

Kepala Badan Geologi Lana Saria mengatakan, delapan erupsi yang terjadi berlangsung dalam waktu singkat.

Durasi setiap erupsi berkisar antara 10 hingga 15 detik sehingga abu vulkanik tidak menyebar jauh dari kawasan gunung.

“Kita hari ini melihat ada sebanyak 8 kali, tetapi ini dalam rentang yang sangat pendek dan hanya 10 sampai 15 detik. Jadi tidak ada penyebaran abu vulkanik, penyebarannya hanya di sekitar gunung saja,” kata Lana.

Badan Geologi memastikan batas aman di sekitar Gunung Anak Krakatau masih ditetapkan sejauh tiga kilometer dari pusat aktivitas.

Masyarakat maupun wisatawan diminta tidak memasuki kawasan tersebut demi keselamatan.

Lana mengatakan, berdasarkan aktivitas erupsi yang terpantau, radius erupsi tidak melebihi tiga kilometer.

“(Radius erupsi) Tidak melebihi 3 kilometer. Jadi memang kita masih menetapkan radius aman untuk tidak dimasuki sejauh 3 kilometer dari aktivitas, dari pusat aktivitas,” ujarnya.

Pembatasan tersebut tetap berlaku meskipun abu vulkanik dari delapan erupsi terbaru tidak menyebar luas.

Aktivitas gunung api masih harus dipantau karena perubahan intensitas erupsi maupun kondisi atmosfer dapat memengaruhi potensi bahaya.

Badan Geologi juga mengamati adanya perubahan karakter aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Menurut Lana, aktivitas erupsi kini kembali memasuki fase Strombolian yang dinilai sesuai dengan karakter gunung tersebut.

“Artinya dengan kembalinya fase erupsi kepada karakter Anak Krakatau, Insya Allah ini sudah kembali kepada sifat atau karakter dari Anak Krakatau,” katanya.

Pada fase tersebut, erupsi cenderung memiliki amplitudo yang tidak terlalu luas dan tidak berlangsung dalam waktu panjang. Durasi erupsi juga relatif singkat, yakni hanya beberapa detik.

“Di mana di dalam fase ini terjadi erupsi dalam amplitudo yang tidak terlalu luas, tidak terlalu panjang, dan juga durasi waktu hanya beberapa detik,” lanjut Lana.

Namun, kembalinya aktivitas ke fase Strombolian bukan berarti seluruh potensi bahaya telah hilang.

Badan Geologi tetap memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau dan meminta masyarakat mengikuti perkembangan informasi resmi.

Meskipun delapan erupsi terbaru tidak menyebabkan abu menyebar luas di sekitar gunung, potensi bahaya abu vulkanik masih tetap ada.

Lana menjelaskan, arah dan luas penyebaran abu sangat bergantung pada beberapa faktor.

Di antaranya adalah arah angin, kondisi kolom udara atau plume, serta intensitas erupsi.

“Ancaman itu masih ada. Jadi penyebaran abu vulkanik itu masih kita nyatakan sebagai potensi risiko bahaya, tapi semua itu tergantung pada arah angin dan kolom udara atau plume, sehingga juga akan tergantung pada intensitas daripada erupsi tersebut,” jelasnya.

Jika aktivitas Anak Krakatau tetap berada dalam fase Strombolian, penyebaran abu diperkirakan tidak berlangsung terlalu lama.

Kendati demikian, masyarakat di wilayah yang berpotensi terdampak tetap diminta memperhatikan informasi mengenai pergerakan abu dan kondisi udara.

Selain mengamati aktivitas erupsi, Badan Geologi juga memantau perkembangan aktivitas seismik Gunung Anak Krakatau.

Berdasarkan pengamatan seismik, pergerakan seismik disebut mulai menurun sejak 5 September. Aktivitas vulkanik masih terekam, tetapi tidak menunjukkan tingkat yang terlalu tinggi.

“Ya, jadi berdasarkan pengamatan seismik kami, bahwa sejak tanggal 5 September ini pergerakan seismik itu sudah menurun. Ada aktivitas vulkanik itu tadi tidak terlalu tinggi, tetap terekam, tapi itu adalah hal yang wajar karena pergerakan fluida di dalam tubuh gunung api itu sendiri,” kata Lana.

Meski terdapat penurunan aktivitas seismik, pemantauan tetap dilakukan untuk mengantisipasi perubahan aktivitas gunung api.

Sementara itu, BMKG pada Selasa pukul 04.00 WIB mengamati adanya sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang bergerak menjauhi wilayah Indonesia.

Berdasarkan informasi PVMBG, VAAC Darwin, serta analisis citra Himawari-9, abu vulkanik dari permukaan hingga sekitar 6.000 kaki atau 1,8 kilometer bergerak ke arah selatan-barat daya.

Sebaran tersebut mengarah ke Samudera Hindia di sebelah barat laut Banten.

BMKG menyebut masih terdapat sebaran abu vulkanik yang dapat menurunkan kualitas udara dan jarak pandang. Pada ketinggian tertentu, abu juga berpotensi mengganggu aktivitas penerbangan.

Meski demikian, arah pergerakan abu diprakirakan menjauhi wilayah Indonesia.

Masyarakat di wilayah yang terdampak diminta tetap mengikuti informasi resmi dari BMKG, PVMBG, serta instansi terkait.

Kondisi udara dan jarak pandang juga perlu diperhatikan, terutama bagi masyarakat yang melakukan aktivitas di luar ruangan.

Delapan Bandara Kembali Beroperasi
Seiring membaiknya kondisi udara, delapan bandara yang sebelumnya terdampak sebaran abu vulkanik telah dinyatakan kembali beroperasi.

Hasil pemeriksaan menggunakan paper test juga menunjukkan tidak terdapat paparan abu vulkanik pada titik-titik pemeriksaan.

Kendati demikian, BMKG tetap melakukan pemantauan ruang udara secara real-time untuk memastikan kondisi penerbangan tetap aman.

Kepala BMKG Teuku Faisal mengatakan, pihaknya juga mempercepat upaya pembersihan atmosfer melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) bersama BNPB dan Kementerian Perhubungan.

“BMKG tetap memantau pergerakan abu secara real-time agar seluruh penerbangan berjalan aman. BMKG juga mempercepat pembersihan atmosfer melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) bersama BNPB dan Kementerian Perhubungan sejak Senin, 7 September 2026,” kata Teuku Faisal.

OMC telah dilakukan sebanyak lima sorti penerbangan.

Rinciannya, satu sorti menggunakan powder NaCl, satu sorti menggunakan liquid CaCl2, serta tiga sorti menggunakan metode spraying atau watermist.

Operasi tersebut masih dilakukan dengan menyesuaikan kondisi atmosfer dan arah sebaran abu vulkanik.

Tidak Ada Anomali Gelombang Laut
Selain memantau udara dan aktivitas gunung api, BMKG juga melakukan pemantauan kondisi laut di sekitar kawasan terdampak.

Pemantauan dilakukan menggunakan 20 tsunami gauge dan alat pemantauan di Tanjung Lesung.

Hingga Selasa, hasil pemantauan tidak menemukan anomali gelombang air laut yang mengindikasikan terjadinya tsunami.

BMKG menyebut kemungkinan terjadinya tsunami saat ini berada dalam kategori rendah.

“Hasil pemantauan tidak ditemukan adanya anomali gelombang air laut sehingga kemungkinan terjadinya tsunami berada pada kategori rendah,” tulis BMKG.

Badan Geologi juga menyatakan kondisi morfologi Gunung Anak Krakatau saat ini belum menunjukkan potensi runtuh dalam skala yang dapat memicu tsunami seperti peristiwa 2018.

BNPB Kirim Tim Pendahulu
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) turut mengambil langkah dengan mengirim Tim Pendahulu untuk memantau langsung aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Hingga Selasa, belum ada laporan korban jiwa akibat erupsi tersebut.

Pemerintah kabupaten maupun provinsi yang terdampak juga belum menetapkan status kedaruratan.

Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto mengatakan pihaknya terus melakukan koordinasi dengan lembaga terkait untuk memantau perkembangan situasi.

“Kami juga terus berkomunikasi menit demi menit dengan Kepala BMKG, serta mendapat arahan langsung dari Bapak Presiden,” ujar Suharyanto.

BNPB juga menyiapkan OMC Hybrid. Ketika terdapat awan, operasi dilakukan dengan stimulasi hujan.

Sementara ketika kondisi tidak memungkinkan karena tidak terdapat awan, digunakan metode water mist untuk membantu mengikat partikel abu dan polutan.

“Diharapkan operasi modifikasi cuaca yang dilakukan sejak hari ini hingga nanti malam dapat membantu mempercepat peluruhan abu vulkanik,” katanya.

Di tengah penanganan aktivitas Gunung Anak Krakatau, BNPB juga masih menangani sejumlah kelompok bencana lainnya.

Tiga di antaranya adalah gempa bumi di Nusa Tenggara Timur, kebakaran hutan dan lahan, serta pemulihan banjir bandang di Sumatra.

Untuk gempa bumi di NTT, tercatat sebanyak 98.986 rumah mengalami kerusakan.

Rumah yang mengalami rusak ringan mendapatkan bantuan Rp15 juta, sedangkan rusak sedang mendapatkan Rp30 juta.

Untuk rumah yang mengalami rusak berat, penanganan dilakukan melalui hunian sementara atau Dana Tunggu Hunian sebelum pembangunan rumah baru tipe 36.

BNPB juga memanfaatkan tenda darurat sebagai sekolah sementara bagi masyarakat terdampak.

Sementara untuk karhutla, hingga 6 September total lahan terbakar di enam provinsi prioritas mencapai 72.009,10 hektare. Dari jumlah tersebut, 939,45 hektare masih belum padam.

Luas lahan yang masih terbakar meliputi Kalimantan Barat 97,8 hektare, Riau 283,35 hektare, Kalimantan Selatan 116,3 hektare, Kalimantan Tengah 91,3 hektare, Sumatera Selatan 341,7 hektare, dan Jambi 9 hektare.

“Kendalanya terutama karakter lahan, akses, cuaca dan ketersediaan sumber air,” kata Suharyanto.

Menurutnya, kebakaran di lahan gambut memiliki tantangan tersendiri karena api dapat bertahan di bawah permukaan.

Di beberapa lokasi, akses darat juga sulit sehingga membutuhkan dukungan water bombing.

BNPB juga melaporkan perkembangan pemulihan banjir bandang di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Hingga 6 September, transfer bantuan stimulan untuk rumah rusak ringan dan sedang mencapai Rp703,017 miliar.

Dari 27.809 usulan hunian tetap, sebanyak 14.897 unit telah melalui proses review dan siap dibangun.

Sebanyak 1.055 unit telah masuk proses pembangunan, terdiri atas 841 unit yang sudah selesai dan 214 unit yang masih dalam pengerjaan.

“Kami terus mendorong pemerintah daerah untuk mempercepat proses verifikasi dan pencairan agar masyarakat segera dapat menyelesaikan perbaikan rumahnya,” kata Suharyanto.

BNPB menargetkan seluruh hunian tetap yang sudah melalui proses review dapat segera dibangun.

Koordinasi dengan Kementerian PUPR dan pemerintah daerah juga terus diperkuat. Untuk sementara, kondisi Gunung Anak Krakatau masih dalam pemantauan.

Masyarakat diminta tidak memasuki radius tiga kilometer dari pusat aktivitas serta terus mengikuti informasi resmi terkait perkembangan erupsi dan potensi penyebaran abu vulkanik. (*/stch/dda)

Berita Sebelumnya
STNK

STNK Diperpanjang Online tapi Belum Cap Samsat, Ini yang Terjadi Saat Razia