Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Menguak Petilasan Joko Tole di Desa Bakulan Purbalingga, Antara Sejarah dan Mitos

Mitos, Mistis, dan Jejak Ambisi di Tapal BatasMitos, Mistis, dan Jejak Ambisi di Tapal Batas
MEMBERSIHKAN: Suratno Sang Juru Kunci tengah membersihkan petilasan Joko Tole di Desa Bakulan, Kecamatan Kemangkon

BANYUMASEKSPRES.ID, PURBALINGGA – Di ujung Desa Bakulan, Kecamatan Kemangkon, Kabupaten Purbalingga, tepatnya di wilayah RT 6 RW 3, terdapat sebuah tempat yang dijaga keheningannya seolah waktu sengaja melambat di sana.

Angin berhembus lembut melewati pepohonan yang menaungi sebuah garis tak kasat mata, yaitu tapal batas yang memisahkan Desa Bakulan dengan Desa Panican dan Kedunglegok.

Suasana tenang ini bukan sekadar kebetulan, melainkan menyimpan makna yang dalam bagi masyarakat setempat.

Bagi sebagian orang, garis tersebut mungkin hanya tampak sebagai batas administratif biasa.

Namun, di dalam tradisi Jawa, tapal batas desa sering dianggap sebagai pertemuan antara dua dunia—yang terlihat dan yang tak kasat mata.

Di lokasi-lokasi seperti inilah cerita-cerita tentang aura wingit atau keangkeran sering kali lahir dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Ini bukan hanya sekadar cerita pengantar malam, tetapi juga bagian dari kosmologi Jawa yang memandang alam sebagai ruang penuh makna dan energi.

Keberadaan Situs Tanah Raja di sudut Desa Bakulan tidak hanya menawarkan rasa mistis, tetapi juga menyimpan jejak sejarah dan spiritualitas yang terus dirawat oleh waktu serta ingatan warga.

Di tempat yang rimbun dan sunyi ini berdiri sebuah situs sederhana yang nyaris tidak mencolok bagi orang-orang yang baru pertama kali melintas.

Namun bagi warga sekitar, situs tersebut memiliki arti jauh lebih dalam daripada sekadar sebidang tanah atau batu tua.

Situs Tanah Raja dikelola oleh seorang juru kunci bernama Suratno, sosok yang selama bertahun-tahun dengan setia menjaga dan merawat petilasan tersebut.

Bagi Suratno, Situs Tanah Raja bukan sekadar tempat fisik yang harus dirawat; ia juga merupakan ruang yang menyimpan cerita masa lalu sekaligus doa-doa masa kini.

Daya tarik utama dari situs ini bukanlah bangunan megah atau ornamen bersejarah. Justru perhatian utama tertuju pada sebuah batu sederhana berbentuk nisan yang berdiri diam di tengah tanah teduh.

“Orang Jawa itu sudah paham bahwa jika letaknya di perbatasan desa pasti terkenal wingit,” ujar Suratno ketika membuka ceritanya.

Nada suaranya tenang dan seolah sudah akrab dengan berbagai kisah yang beredar di sekitar lokasi tersebut. Masyarakat setempat tidak merasa heran dengan anggapan itu.

Dengan perlahan ia menunjukkan arah ke petilasan dan melanjutkan ceritanya, “Di situ ada satu batu semacam nisan. Istimewanya, dari dulu batu itu tidak pernah berpindah atau bergeser dari tempatnya.”

Menurut cerita yang beredar di kalangan warga setempat, batu tersebut sudah berada di tempat yang sama sejak lama tanpa ada yang benar-benar tahu kapan pertama kali batu itu muncul di sana.

Keberadaannya yang tidak pernah berubah ini menumbuhkan keyakinan tersendiri dalam masyarakat.

Perlahan-lahan, Situs Tanah Raja mulai dikenal bukan hanya sebagai lokasi bersejarah tetapi juga sebagai tempat dengan daya spiritual tinggi.

Keyakinan akan hal ini semakin kuat saat musim politik tingkat desa mendekat.

Suasana sepi di sekitarnya kerap berubah ketika sejumlah orang datang secara diam-diam pada waktu-waktu tertentu untuk keperluan pribadi mereka.

“Orang-orang biasanya datang meminta doa restu di situ,” ungkap Suratno sambil tersenyum mengenang pengalaman-pengalamannya.

Ia mengungkapkan bahwa ia telah melihat cukup banyak tamu dengan tujuan khusus datang untuk memanjatkan doa atau sekadar berdiam diri dekat batu petilasan itu.

“Biasanya mereka datang saat ingin mencalonkan diri jadi Kepala Desa atau perangkat desa,” tambahnya.

Di mata mereka, tuah tempat ini diyakini bisa membantu melancarkan hajat mereka.

Kepercayaan semacam ini bukanlah hal baru dalam budaya Jawa. Banyak lokasi lain juga dianggap memiliki nilai spiritual dan sering menjadi tujuan bagi orang-orang yang mencari restu atau keberuntungan dalam hidup mereka.

Namun di balik berbagai cerita dan keyakinan tersebut, terdapat pertanyaan mendasar tentang siapa sebenarnya sosok yang meninggalkan jejak di tapal batas desa ini.

Pertanyaan ini telah menjadi misteri selama bertahun-tahun tanpa ada catatan tertulis menjelaskan asal-usul batu tersebut.

Cerita-cerita yang beredar lebih banyak merupakan kisah turun-temurun tanpa dasar fakta historis jelas.

Baru pada tahun 2018, pemerintah Desa Bakulan mengambil inisiatif untuk menelusuri sejarah sebenarnya dari situs ini agar masyarakat tidak hanya mengenalnya melalui mitos tetapi juga pengetahuan faktual tentang asal-usulnya.

Langkah awal dari upaya penelusuran adalah menggelar prosesi mediasi spiritual dengan mengundang seorang ahli spiritual dari Jawa Timur untuk membantu membuka tabir masa lalu situs tersebut.

Proses mediasi ini menjadi momen penting bagi warga desa karena dari sanalah muncul cerita-cerita tersembunyi selama ini.

“Dari mediasi tahun 2018 itu baru ketahuan asal-usul aslinya,” ungkap Suratno dengan antusiasme di wajahnya.

Ia menjelaskan bahwa hasil penelusuran mengarah pada satu nama terkenal dalam sejarah Jawa—Joko Tole—yang merupakan salah satu keturunan Adipati Arya Wiraraja.

“Dulu tempat ini jadi tempat istirahat beliau saat menyebarkan agama Islam di sekitar Desa Bakulan,” katanya menjelaskan lebih lanjut tentang pentingnya situs tersebut dalam konteks sejarah penyebaran Islam di daerah itu.

Cerita mengenai asal-usul Situs Tanah Raja memberikan perspektif baru mengenai tempat ini; kini ia dipahami sebagai bagian dari perjalanan sejarah penyebaran Islam di wilayah sekitar.

Kesadaran akan nilai sejarah dan spiritualitas tersebut mendorong warga desa untuk melakukan tindakan nyata agar petilasan itu tidak dibiarkan tersembunyi dalam rimbunnya pepohonan tanpa perawatan.

“Setelah mengetahui sejarahnya, kami langsung melakukan pembersihan bareng-bareng di area sekitar batu,” tutur Suratno tentang kegiatan gotong royong warga desa itu.

Mereka membersihkan semak-semak serta merapikan area sekitar batu agar lebih terjaga kebersihannya dan terlihat lebih terawat.

Tidak berhenti sampai situ saja; warga juga membangun sebuah rumah kecil atau cungkup untuk melindungi batu petilasan tersebut agar tetap terjaga baik fisiknya maupun maknanya bagi masyarakat setempat.

“Kami buatkan rumah kecil supaya batunya terlindungi,” tambahnya dengan penuh rasa bangga akan usaha kolektif warga desa.

Cungkup sederhana itu kini berdiri tegak menaungi batu petilasan Joko Tole, memberikan kesan bahwa situs ini kini benar-benar dijaga oleh komunitas lokal.

Kini Situs Tanah Raja tidak lagi hanya dikenal sebagai tapal batas desa penuh mitos; ia telah menjadi bagian integral dari identitas kultural masyarakat Bakulan.

Di bawah lindungan cungkup kecilnya, batu petilasan tetap berdiri diam seperti dahulu kala; namun seiring waktu berjalan, cerita terus tumbuh—tentang sejarah penyebaran Islam, warisan mistis Jawa serta harapan-harapan manusia yang datang dengan doanya ke tempat sakral ini. (*/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Game Parking Rush

Main Game ParkingRush, Cuan Ratusan Ribu Bisa Langsung Cair ke DANA

Berita Selanjutnya
Minta Doa Terkait Rumah Tangga

Maissy Pramaisshela Tegaskan Kondisinya Baik-baik Saja di Tengah Isu Perselingkuhan