BANYUMASEKSPRES.ID, Musim kemarau 2026 menjadi perhatian banyak pihak di Jawa Tengah karena berpengaruh langsung terhadap berbagai sektor kehidupan.
Mulai dari kebutuhan air bersih, aktivitas pertanian, hingga potensi munculnya kekeringan menjadi aspek yang perlu diantisipasi sejak dini oleh masyarakat maupun pemerintah daerah.
Berdasarkan prediksi yang dirilis Stasiun Klimatologi Jawa Tengah, sebagian wilayah provinsi ini mulai memasuki musim kemarau secara bertahap sejak April hingga pertengahan 2026.
Meski saat ini periode tersebut telah berlalu sekitar satu bulan, informasi mengenai pola musim kemarau tetap penting sebagai bahan evaluasi sekaligus referensi menghadapi kondisi cuaca pada bulan-bulan berikutnya.
Data tersebut menunjukkan bahwa tidak semua wilayah Jawa Tengah mengalami awal musim kemarau pada waktu yang sama.
Beberapa daerah bahkan baru memasuki fase awal kemarau ketika sebagian besar wilayah lainnya sudah lebih dahulu mengalami penurunan curah hujan.

Wilayah Jawa Tengah Memasuki Kemarau Pertengahan 2026
Menurut prediksi iklim yang dikeluarkan Stasiun Klimatologi Jawa Tengah, sekitar 20,4 persen wilayah Jawa Tengah telah memasuki musim kemarau sejak April 2026.
Sementara itu, mayoritas daerah atau sekitar 66,7 persen wilayah mulai mengalami musim kemarau pada Mei 2026.
Adapun sisanya, yakni sekitar 12,9 persen wilayah Jawa Tengah, diperkirakan baru memasuki awal musim kemarau pada pertengahan berkisar Juni dan Juli 2026.
Persentase tersebut setara dengan 11 wilayah yang tersebar di sejumlah kabupaten. Perbedaan waktu masuk musim kemarau ini dipengaruhi oleh berbagai faktor.
Hal ini termasuk kondisi geografis, topografi, serta pola atmosfer yang memengaruhi distribusi hujan di setiap daerah. Selain itu, BMKG juga peringatkan dampak datangnya Awan Cumolonimbus di Indonesia.
Daftar 11 Wilayah yang Mengalami Awal Musim Kemarau pada Juni 2026
Beberapa daerah yang tercatat memasuki awal musim kemarau pada pertengahan 2026 meliputi wilayah dataran tinggi hingga kawasan pesisir utara Jawa Tengah. Berikut daftar wilayah yang termasuk dalam kategori tersebut:
- Kabupaten Purbalingga
- Sebagian besar wilayah Kabupaten Banyumas
- Sebagian besar wilayah Kabupaten Banjarnegara
- Sebagian wilayah Kabupaten Pekalongan
- Sebagian wilayah Kabupaten Batang
- Sebagian wilayah Kabupaten Wonosobo
- Sebagian kecil wilayah Kabupaten Brebes
- Sebagian kecil wilayah Kabupaten Tegal
- Sebagian kecil wilayah Kabupaten Pemalang
- Sebagian kecil wilayah Kabupaten Kendal
- Sebagian kecil wilayah Kabupaten Kebumen
Wilayah-wilayah tersebut menjadi daerah yang relatif lebih lambat memasuki musim kemarau dibandingkan sebagian besar kawasan lainnya di Jawa Tengah.
Prediksi Curah Hujan Selama Musim Kemarau 2026
Selain memprediksi awal musim kemarau, Stasiun Klimatologi Jawa Tengah juga memberikan gambaran mengenai kondisi curah hujan sepanjang musim kemarau di tahun 2026.
Secara umum, sebagian besar wilayah diperkirakan mengalami curah hujan rendah dengan intensitas kurang dari 50 milimeter per dasarian atau periode sepuluh hari.
Meski demikian, beberapa daerah masih berpotensi menerima curah hujan kategori menengah. Oleh karena itu, hadirnya hujan menjadi salah satu perhatian masyarakat.
Wilayah tersebut mencakup sebagian Kabupaten Cilacap, Banyumas, Purbalingga, Pekalongan, Batang, serta sebagian wilayah Banjarnegara, Brebes, Pemalang, dan Kendal.
Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun musim kemarau mulai berlangsung, hujan berpeluang turun di beberapa kawasan tertentu dengan intensitas yang relatif lebih tinggi dibandingkan daerah lainnya.
Perubahan Curah Hujan pada Akhir Juni
Memasuki dasarian kedua atau periode 11 hingga 20 Juni 2026, sebagian besar wilayah Jawa Tengah diperkirakan tetap berada pada kategori curah hujan rendah.
Namun sejumlah daerah seperti Cilacap, Banyumas, Purbalingga, Pemalang, Pekalongan, Banjarnegara, Purworejo, dan sebagian wilayah Brebes masih memiliki peluang mendapatkan curah hujan kategori menengah.
Sementara itu, pada dasarian ketiga atau tanggal 21 hingga 30 Juni 2026, kondisi cuaca semakin mengarah ke pola kemarau yang lebih dominan.
Hampir seluruh wilayah Jawa Tengah diprediksi mengalami curah hujan rendah. Hanya sebagian kecil wilayah Kabupaten Cilacap dan Banyumas diperkirakan memiliki curah hujan kategori menengah.
Kondisi tersebut menjadi indikasi bahwa musim kemarau mulai berlangsung lebih merata di berbagai daerah.
Dampak Musim Kemarau yang Perlu Diantisipasi
Masuknya musim kemarau tentu membawa sejumlah konsekuensi yang perlu diperhatikan. Salah satu sektor yang terdampak adalah pertanian, terutama pada lahan yang bergantung pada pasokan air hujan.
Selain itu, berkurangnya intensitas hujan dapat memengaruhi ketersediaan air bersih di sejumlah wilayah.
Risiko kekeringan, terutama pada daerah dengan sumber air terbatas, juga perlu menjadi perhatian pemerintah daerah dan masyarakat setempat.
Di sisi lain, kondisi cuaca yang lebih cerah dapat memberikan keuntungan bagi aktivitas pertanian tertentu, proses panen, hingga sektor pariwisata.
Karena itu, pemahaman terhadap pola musim menjadi langkah penting dalam menyusun strategi adaptasi yang tepat.
Prediksi musim kemarau 2026 menunjukkan bahwa 11 wilayah di Jawa Tengah baru memasuki awal musim kemarau pada pertengahan tahun 2026.
Bersamaan dengan itu, sebagian besar daerah mengalami penurunan curah hujan yang semakin signifikan hingga memasuki Juli 2026. (*/nds)














