BANYUMASEKSPRES.ID, KEBUMEN – Bagi sebagian orang, batu alam mungkin hanya dianggap sebagai material bangunan atau bebatuan yang banyak ditemukan di alam.
Namun, pandangan berbeda dimiliki Suhanto, seorang seniman ukir asal Kabupaten Kebumen.
Di tangannya, bongkahan batu justru menjadi media untuk melahirkan karya seni yang unik, detail, dan memiliki nilai jual hingga jutaan rupiah.
Berbekal keterampilan mengukir yang terus diasah selama bertahun-tahun, Suhanto mampu mengubah batu alam menjadi berbagai bentuk karya seni realistis.
Mulai dari sosok naga yang tampak gagah, burung rajawali dengan detail bulu yang menyerupai aslinya, hingga berbagai bentuk ukiran lain yang menonjolkan ketelitian dalam setiap pahatan.
Setiap karya yang dihasilkan memperlihatkan detail yang rumit.
Lekukan tubuh, tekstur permukaan, hingga ekspresi objek yang diukir dibuat sedemikian rupa sehingga memberikan kesan hidup meski seluruhnya berasal dari bongkahan batu.
Menariknya, seluruh proses pengerjaan masih dilakukan secara manual menggunakan peralatan sederhana.
Tanpa bantuan mesin berteknologi tinggi, Suhanto mengandalkan ketelitian tangan, kesabaran, serta pengalaman yang dimilikinya untuk membentuk setiap detail ukiran.
Sebelum mulai memahat, ia terlebih dahulu membuat pola pada permukaan batu sebagai panduan utama dalam proses pengerjaan.
Pola tersebut menjadi dasar untuk menentukan bentuk akhir karya yang akan dibuat.
Setelah itu, proses pemahatan dilakukan secara bertahap hingga perlahan-lahan batu berubah menjadi karya seni sesuai desain yang telah direncanakan.
Tahapan demi tahapan dikerjakan dengan penuh ketelitian karena kesalahan kecil saja dapat memengaruhi bentuk akhir karya dan sulit diperbaiki.
Karena itu, proses pembuatan satu karya tidak bisa dilakukan secara terburu-buru.
Untuk menyelesaikan sebuah ukiran, Suhanto membutuhkan waktu sekitar 15 hari. Lama pengerjaan bergantung pada tingkat kerumitan desain yang diinginkan.
Semakin banyak detail yang harus dibuat, semakin panjang pula waktu yang diperlukan hingga proses finishing selesai.
“Ini saya kerjakan setengah bulan. Mulai dari bahan baku sampai finishing,” paparnya, Rabu (1/7).
Selain membutuhkan ketelitian tinggi, kualitas bahan baku juga menjadi faktor penting dalam menghasilkan karya yang baik.
Beruntung, Kabupaten Kebumen memiliki kekayaan batu alam yang melimpah sehingga Suhanto tidak mengalami kesulitan memperoleh bahan baku berkualitas.
Menurutnya, batu-batu yang tersedia di wilayah Kebumen memiliki karakter yang sesuai untuk dijadikan media seni ukir karena cukup kuat sekaligus memiliki tekstur yang baik untuk dipahat.
Ketersediaan bahan baku tersebut menjadi salah satu keunggulan yang dimiliki para perajin batu di Kebumen dibandingkan daerah lain.
Setelah melalui proses pemahatan dan penyelesaian akhir, setiap karya memiliki nilai jual yang cukup tinggi.
Suhanto memasarkan hasil ukirannya dengan harga mulai Rp5 juta hingga Rp7,5 juta untuk satu karya, tergantung ukuran, tingkat kesulitan, serta detail pengerjaan.
“Harga produk mulai Rp5 sampai Rp7,5 juta per satu karya seni,” tuturnya.
Meski memiliki kualitas yang baik dan nilai ekonomi yang cukup tinggi, Suhanto mengaku masih menghadapi tantangan besar dalam memasarkan hasil karyanya.
Selama ini, pemasaran masih dilakukan secara terbatas sehingga jangkauan pembeli belum terlalu luas.
Padahal, menurutnya, karya seni ukir batu memiliki peluang besar untuk diminati kolektor maupun pecinta seni, baik di dalam maupun luar negeri.
Karena itu, ia berharap ada dukungan dari pemerintah daerah maupun pihak terkait untuk membantu memperluas pemasaran hasil karyanya.
Bentuk dukungan yang diharapkan bukan hanya melalui pameran, tetapi juga promosi yang lebih luas sehingga produk seni ukir batu asal Kebumen dapat dikenal masyarakat di berbagai daerah bahkan hingga pasar internasional.
“Pengin ada yang bisa memasarkan karya saya. Inilah paling tidak lewat Pemda atau apa yang terkait itu bisa memasarkan karya saya sampai bisa go internasional,” ucapnya.
Menurut Suhanto, dukungan dalam bidang pemasaran menjadi kebutuhan utama bagi para pelaku seni dan usaha kreatif.
Sebab, menghasilkan karya berkualitas saja belum cukup apabila tidak diimbangi dengan akses pasar yang memadai.
Ia optimistis apabila promosi dilakukan secara lebih luas, karya seni ukir batu asal Kebumen mampu bersaing dengan produk kerajinan dari daerah lain karena memiliki ciri khas tersendiri.
Keberadaan batu alam yang melimpah di Kabupaten Kebumen juga menjadi potensi besar untuk mengembangkan industri kreatif berbasis sumber daya lokal.
Melalui sentuhan kreativitas para seniman seperti Suhanto, material yang semula hanya berupa bongkahan batu mampu berubah menjadi karya seni bernilai tinggi yang tidak hanya memiliki fungsi dekoratif, tetapi juga menjadi identitas budaya dan kreativitas masyarakat daerah.
Dengan dukungan promosi dan pemasaran yang lebih baik, karya-karya seni ukir batu dari Kebumen diharapkan dapat menjangkau pasar yang lebih luas, meningkatkan kesejahteraan para perajin, sekaligus memperkenalkan potensi seni dan kerajinan Kabupaten Kebumen hingga ke tingkat nasional bahkan internasional. (mam/stch/dda)
















