BANYUMASEKSPRES.ID, CILACAP – Dua ekor penyu lekang (Lepidochelys olivacea) ditemukan dalam kondisi mati di kawasan pesisir Pantai Cilacap, Jawa Tengah, pada Rabu (1/7).
Penemuan satwa laut yang termasuk spesies dilindungi tersebut terjadi dalam satu hari saat tim Konservasi Penyu Nagaraja Cilacap melaksanakan patroli rutin di sepanjang garis pantai.
Peristiwa ini kembali menjadi perhatian para pegiat konservasi karena penyu lekang merupakan salah satu spesies penyu yang populasinya terus menghadapi berbagai ancaman, mulai dari aktivitas manusia hingga kerusakan habitat.
Ketua Konservasi Penyu Nagaraja Cilacap, Jumawan, menjelaskan bahwa bangkai penyu pertama ditemukan di kawasan Pantai Wagir Indah, Desa Welahan Wetan.
Saat ditemukan, kondisi penyu sudah tidak bernyawa dan berada di bibir pantai.
Berdasarkan ukuran karapas atau tempurungnya, penyu pertama diperkirakan masih berusia sekitar dua hingga tiga tahun, sehingga belum memasuki masa reproduksi.
“Saat ditemukan kondisinya sudah mati di pinggir pantai,” ujar Jumawan, Kamis (2/7).
Tidak lama setelah penemuan pertama, tim konservasi kembali menerima laporan dari nelayan mengenai adanya bangkai penyu lain di kawasan Pantai Pagubugan Kulon.
Setelah dilakukan pengecekan, petugas memastikan bangkai tersebut juga merupakan penyu lekang.
Berbeda dengan temuan sebelumnya, penyu kedua diperkirakan telah memasuki usia dewasa atau usia produktif berdasarkan ukuran tubuh dan karapasnya.
Hingga kini penyebab pasti kematian kedua penyu tersebut belum dapat dipastikan.
Namun, berdasarkan kondisi yang ditemukan di lapangan, dugaan sementara mengarah pada kemungkinan penyu terjerat jaring ikan saat berenang di laut.
“Kami belum bisa memastikan penyebab kematiannya, tetapi kemungkinan terjerat jaring ikan,” kata Jumawan.
Jeratan alat tangkap ikan memang menjadi salah satu ancaman terbesar bagi populasi penyu di berbagai wilayah pesisir Indonesia.
Penyu yang terjebak di dalam jaring sering kali tidak dapat naik ke permukaan untuk bernapas sehingga berisiko mengalami kematian.
Selain ancaman alat tangkap, penyu juga menghadapi berbagai tekanan lain seperti pencemaran laut, sampah plastik, perburuan telur, hingga rusaknya habitat pantai yang menjadi lokasi bertelur.
Usai dilakukan identifikasi, kedua bangkai penyu kemudian dievakuasi untuk mencegah pencemaran lingkungan dan gangguan terhadap ekosistem pesisir.
Proses evakuasi dilakukan oleh tim Konservasi Penyu Nagaraja Cilacap bersama mahasiswa magang dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang dan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, serta pihak terkait lainnya.
Selanjutnya, bangkai penyu dikuburkan sesuai prosedur konservasi satwa liar agar tidak menimbulkan dampak terhadap lingkungan sekitar.
Konservasi Penyu Nagaraja Cilacap terus melakukan patroli rutin di sepanjang kawasan pesisir sebagai bagian dari upaya pemantauan populasi penyu sekaligus penyelamatan satwa yang masih hidup maupun penanganan jika ditemukan penyu yang mati terdampar.
Pihak konservasi juga mengajak masyarakat, khususnya nelayan dan warga pesisir, untuk segera melaporkan apabila menemukan penyu yang terdampar, terluka, atau terjerat alat tangkap ikan agar dapat segera dilakukan penanganan.
Partisipasi masyarakat dinilai sangat penting dalam mendukung pelestarian penyu yang menjadi salah satu satwa laut dilindungi di Indonesia.
Penemuan dua penyu lekang yang mati dalam satu hari menjadi pengingat bahwa upaya perlindungan satwa laut masih membutuhkan perhatian bersama.
Melalui kolaborasi antara pemerintah, komunitas konservasi, akademisi, nelayan, dan masyarakat, diharapkan angka kematian penyu di perairan Indonesia dapat terus ditekan sehingga populasi spesies ini tetap terjaga untuk generasi mendatang. (jul/stch/dda)














