Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Sejarah Lokomotif PG Klampok 100 Tahun Terungkap, Kini Dirawat di Museum Belanda

Sejarawan Belanda Buka Jejak Lokomotif PG KlampokSejarawan Belanda Buka Jejak Lokomotif PG Klampok
Lokomotif tua Soemberhardjo No. 09

BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Lokomotif tua Soemberhardjo No. 09 yang pernah mengangkut tebu di jalur sempit Pabrik Gula (PG) Klampok, Kabupaten Banjarnegara, kembali menjadi perhatian dunia.

Tepat satu abad setelah mulai beroperasi, lokomotif bersejarah tersebut menjadi topik utama dalam webinar internasional yang mempertemukan pegiat sejarah perkeretaapian dari Indonesia dan Belanda.

Webinar bertajuk “100 Year D&B Locomotive of PG Soemberhardjo” yang diselenggarakan Komunitas Sejarah Perkeretaapian Indonesia (KSPI) pada Rabu (1/7) membahas perjalanan panjang lokomotif tersebut, mulai dari masa operasionalnya di industri gula hingga proses penyelamatan, restorasi, dan pelestariannya di The Nederlands Smalspoor Museum di Belanda.

Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk mengangkat kembali sejarah industri gula dan jaringan kereta api lori yang pernah berkembang di Indonesia, khususnya di kawasan Pabrik Gula Klampok yang memiliki nilai historis tinggi.

Peneliti sejarah perkeretaapian asal Belanda, Gerrard de Graaf, menjelaskan bahwa Lokomotif Soemberhardjo No. 09 merupakan salah satu aset penting dalam operasional Pabrik Gula Klampok pada masa kejayaan industri gula di Hindia Belanda.

Lokomotif tersebut digunakan untuk menarik rangkaian lori pengangkut tebu dari lahan perkebunan menuju pabrik pengolahan.

Menurut Gerrard, menyelamatkan dua unit lokomotif bersejarah dari Indonesia menuju Belanda bukanlah pekerjaan yang mudah.

Prosesnya membutuhkan waktu panjang karena harus melalui berbagai tahapan administrasi dan perizinan.

“Dua lokomotif yang kami bawa ke Belanda harus melalui proses birokrasi yang panjang. Selain itu kami juga harus membayar sekitar 5.000 dolar AS kepada Kementerian BUMN, belum termasuk biaya pengangkatan dan pengiriman yang sangat besar,” ujarnya.

Selain biaya administrasi, proses pemindahan lokomotif juga memerlukan dukungan teknis karena bobot lokomotif yang sangat besar.

Seluruh tahapan dilakukan agar aset bersejarah tersebut dapat direstorasi dan tetap terjaga kondisinya untuk generasi mendatang.

Kini, lokomotif tersebut menjadi salah satu koleksi penting di The Nederlands Smalspoor Museum, sebuah museum yang berfokus pada pelestarian sejarah jalur kereta api sempit atau narrow gauge railway.

Dalam webinar tersebut, Gerrard juga menyampaikan harapannya agar hubungan antara Indonesia dan Belanda dalam bidang pelestarian sejarah semakin diperkuat.

Menurutnya, kerja sama tidak hanya sebatas pelestarian benda bersejarah, tetapi juga mencakup pertukaran informasi, penelitian, serta akses terhadap dokumen dan arsip yang berkaitan dengan sejarah industri gula dan perkeretaapian.

Ia bahkan menyatakan kesiapannya membantu membuka akses berbagai arsip sejarah yang tersimpan di Belanda agar dapat dimanfaatkan oleh para peneliti dan pemerintah daerah di Indonesia.

Dukungan tersebut dinilai sangat penting karena Pemerintah Kabupaten Banjarnegara tengah mengembangkan kawasan bekas Pabrik Gula Klampok sebagai kawasan cagar budaya yang memiliki nilai sejarah tinggi.

Pengembangan kawasan itu diharapkan tidak hanya melestarikan bangunan dan artefak bersejarah, tetapi juga mampu menjadi destinasi wisata edukasi yang memperkenalkan sejarah industri gula serta perkembangan transportasi kereta api di Indonesia.

Ketua Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Banjarnegara, Heni Purwono, memberikan apresiasi terhadap upaya pelestarian yang dilakukan komunitas sejarah di Belanda.

Menurutnya, kisah perjalanan Lokomotif Soemberhardjo No. 09 menjadi pengingat bahwa masih banyak warisan sejarah Indonesia yang belum memperoleh perhatian maksimal.

Ia berharap semakin banyak pihak yang terlibat dalam upaya dokumentasi, penelitian, dan pelestarian aset budaya agar sejarah lokal tidak hilang ditelan zaman.

Pelestarian benda bersejarah seperti lokomotif tua tidak hanya bertujuan menjaga nilai fisiknya, tetapi juga mempertahankan cerita di balik perkembangan industri, teknologi, dan kehidupan masyarakat pada masa lalu.

Melalui kegiatan seperti webinar internasional ini, masyarakat diajak memahami pentingnya menjaga warisan budaya sebagai bagian dari identitas bangsa.

Ke depan, kolaborasi antara komunitas sejarah, akademisi, pemerintah daerah, hingga lembaga internasional diharapkan mampu memperkuat upaya konservasi berbagai peninggalan bersejarah Indonesia.

Dengan demikian, kisah Lokomotif PG Klampok yang telah berusia 100 tahun tidak hanya menjadi catatan sejarah, tetapi juga menjadi sumber pembelajaran bagi generasi mendatang mengenai perkembangan industri gula dan perkeretaapian di Tanah Air. (jud/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Paraguayita yang Dikira AI

Profil Naiel Aguilera: Model Paraguay yang Viral di Piala Dunia 2026 karena Dikira Ai

Berita Selanjutnya
Karya Realistis Dari Batu Alam

Suhanto Sulap Batu Alam Jadi Karya Seni Bernilai Tinggi yang Siap Go Internasional