BANYUMASEKSPRES.ID, Harga Pertamax hingga kini masih belum mengalami penyesuaian meskipun harga minyak dunia sedang mengalami penurunan.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan di masyarakat mengenai alasan di balik keputusan Pertamina yang masih mempertahankan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi tersebut.
Saat ini, harga Pertamax masih berada di angka Rp 16.250 per liter.
Harga tersebut telah bertahan selama kurang lebih satu bulan dan belum mengalami perubahan meski tren harga minyak global bergerak menurun.
Menurut ekonom Universitas Padjadjaran (Unpad) Yayan Satyakti, harga Pertamax yang berlaku saat ini masih berada dalam batas yang wajar.
Penilaian tersebut didasarkan pada kondisi harga produk BBM dunia dan formula penetapan harga yang selama ini menjadi acuan.
Ekonom Nilai Harga Pertamax Masih Sesuai Kondisi Pasar
Yayan menjelaskan bahwa ketika Pertamax mengalami kenaikan menjadi Rp 16.250 per liter pada Juni lalu, harga tersebut sebenarnya masih berada di bawah angka yang tercermin dalam formula harga.
Saat itu, harga produk BBM di pasar dunia sedang berada pada level yang sangat tinggi.
“Ketika Pertamax dinaikkan menjadi Rp 16.250 pada Juni lalu, harga tersebut sebenarnya masih berada di bawah harga yang disiratkan formula karena harga produk BBM dunia saat itu sedang sangat tinggi,” ujar Yayan, dikutip dari Antaranews, Sabtu (3/7).
Menurutnya, keputusan Pertamina yang belum menurunkan harga Pertamax sebenarnya sudah dapat diperkirakan berdasarkan perhitungan ekonomi.
Kebijakan tersebut dinilai menjadi bagian dari strategi penyesuaian harga yang telah lama diterapkan perusahaan.
Yayan menerangkan bahwa Pertamina menerapkan strategi price smoothing atau penghalusan harga dalam menentukan harga jual Pertamax.
Melalui pendekatan tersebut, harga BBM tidak selalu langsung berubah mengikuti naik turunnya harga minyak dunia.
Ketika harga minyak dunia melonjak tinggi, Pertamina disebut sempat menahan kenaikan harga Pertamax agar tidak langsung membebani konsumen.
Sebaliknya, saat harga minyak mulai turun, perusahaan memilih tidak segera menurunkan harga guna memulihkan margin yang sebelumnya tertekan.
“Pertamina menyerap kerugian ketika itu, sehingga saat harga minyak turun, margin tersebut dipulihkan dengan menahan harga Pertamax, bukan langsung menurunkannya,” kata Yayan.
Pendekatan tersebut membuat perubahan harga BBM nonsubsidi tidak selalu berlangsung secara cepat mengikuti dinamika harga minyak mentah dunia.
Dengan demikian, harga jual kepada konsumen cenderung lebih stabil dibandingkan jika sepenuhnya mengikuti fluktuasi pasar internasional.
Harga BBM Nonsubsidi Tidak Hanya Mengacu pada Harga Minyak Dunia
Lebih lanjut, Yayan menjelaskan bahwa penetapan harga BBM nonsubsidi tidak hanya dipengaruhi oleh pergerakan harga minyak mentah dunia.
Menurutnya, terdapat berbagai pertimbangan lain yang digunakan dalam proses penetapan harga.
Berdasarkan model perhitungan yang mengacu pada formula pemerintah serta pola kebijakan Pertamina sebagai penentu harga, Pertamax diperkirakan memang masih akan dipertahankan pada level saat ini.
Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa perubahan harga minyak global tidak otomatis diikuti oleh perubahan harga BBM nonsubsidi di dalam negeri.
Faktor strategi perusahaan juga menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan.
Formula Dasar Mengarah ke Harga Lebih Rendah, tetapi Smoothing Membuat Harga Tetap Stabil
Untuk periode bulan depan, Yayan menyebut formula dasar sebenarnya mengarah pada harga sekitar Rp13.700 per liter.
Namun, jika menggunakan pendekatan price smoothing, harga Pertamax diperkirakan tetap berada di kisaran Rp16.000 per liter.
Perkiraan tersebut menunjukkan bahwa selisih harga dengan kondisi saat ini relatif kecil.
Karena itu, peluang terjadinya penurunan harga dalam waktu dekat dinilai tidak terlalu besar apabila strategi penghalusan harga tetap diterapkan.
Kebijakan tersebut juga dinilai sejalan dengan pola penyesuaian harga yang selama ini dilakukan Pertamina.
Perusahaan tidak selalu langsung mengubah harga ketika terjadi perubahan harga minyak dunia dalam jangka pendek.
Yayan juga menjelaskan bahwa terdapat konsekuensi ekonomi apabila harga Pertamax langsung diturunkan sesuai formula dasar pemerintah.
Salah satu manfaat yang diperkirakan muncul adalah penurunan tingkat inflasi.
Menurut perhitungannya, apabila harga Pertamax mengikuti formula, inflasi diperkirakan dapat turun sekitar 0,4 poin persentase dalam kurun waktu tiga bulan.
Di sisi lain, apabila harga Pertamax tetap dipertahankan, maka manfaat dari turunnya harga minyak dunia lebih banyak digunakan untuk memperbaiki margin Pertamina.
Dalam kondisi tersebut, beban subsidi pemerintah terhadap Pertalite dan Solar tetap menjadi komponen terbesar dalam anggaran.
“Jika Pertamax dipangkas ke formula, estimasi pass-through kami menyiratkan sekitar −0,4 poin persentase dari inflasi selama tiga bulan (pelonggaran tahunan dari 3,34 persen menuju sekitar 2,9 persen), jika ditahan, dampaknya nihil dan seluruh penurunan minyak mengalir ke anggaran dan pemulihan margin Pertamina,” kata dia.
Penjelasan tersebut menggambarkan bahwa kebijakan harga Pertamax tidak hanya berkaitan dengan pergerakan harga minyak dunia, tetapi juga mempertimbangkan kondisi keuangan perusahaan serta dampaknya terhadap perekonomian secara lebih luas.
Dengan demikian, keputusan mempertahankan harga Pertamax dinilai sebagai bagian dari strategi yang telah diperhitungkan, bukan semata-mata mengikuti perubahan harga minyak global.(taa)














