BANYUMASEKSPRES.ID, CILACAP – Penyebab pelarian seorang narapidana dari Lapas Nirbaya Nusakambangan kini menjadi sorotan utama masyarakat Cilacap.
Pada Senin malam, 9 Maret, upaya tersebut berhasil digagalkan berkat respons cepat dari petugas lapas, aparat keamanan, serta bantuan dari masyarakat sekitar.
Narapidana berinisial SN, yang terlibat dalam kasus pencurian, diketahui tidak berada di dalam area lapas saat petugas melakukan pengecekan rutin terhadap jumlah warga binaan.
Kejadian ini bermula ketika petugas lapas melakukan pemeriksaan untuk memastikan semua narapidana berada di tempat.
Namun, saat penghitungan dilakukan, petugas mendapati bahwa satu orang narapidana tidak ada di lokasi.
Menyadari hal tersebut, mereka segera melakukan penelusuran dan berkoordinasi dengan aparat keamanan setempat serta meminta bantuan masyarakat untuk mempercepat pencarian.
Kepala Seksi Keamanan dan Ketertiban (Kasi Kamtib) Lapas Nirbaya, Bergi Riyadi, menekankan pentingnya koordinasi yang cepat dalam situasi darurat seperti ini.
“Begitu diketahui ada warga binaan yang tidak berada di dalam area lapas saat pengecekan, petugas langsung melakukan penelusuran dan berkoordinasi dengan aparat keamanan serta masyarakat sekitar,” ungkap Bergi dalam keterangan resminya pada Kamis, 12 Maret.
Berdasarkan informasi yang diperoleh, SN merupakan narapidana yang menjalani masa pembinaan di Lapas Minimum Security Nirbaya Nusakambangan.
Tindakan pelarian ini diduga terjadi secara spontan. Menurut keterangan yang ada, ia melarikan diri karena merasa tertekan akibat utang kepada narapidana lain.
Dalam upayanya melarikan diri, SN menggunakan strategi memanjat pagar lapas dan menuju hutan di sekitar kawasan Nusakambangan.
Pengalaman melarikan diri ini menunjukkan betapa rentannya sistem keamanan di lapas dalam menjaga narapidana agar tetap berada di dalam area yang telah ditentukan.
Setelah berhasil keluar dari Lapas Nirbaya, SN dilaporkan sempat memaksa seorang nelayan untuk membantunya menyeberang ke wilayah Kutawaru, Cilacap Tengah.
“Yang bersangkutan melarikan diri dengan memanjat pagar, kemudian menuju area hutan dan akhirnya menyeberang ke wilayah Kutawaru,” jelas Bergi.
Namun, keberadaan SN tidak bertahan lama. Dalam waktu singkat, ia terdeteksi berada di permukiman warga di daerah Kutawaru oleh masyarakat setempat.
Berkat kepedulian warga dan kerja sama dengan aparat setempat, pencarian pun dilakukan secara intensif.
Dalam waktu kurang dari tiga jam sejak laporan diterima bahwa seorang narapidana melarikan diri, warga bersama aparat keamanan bergerak cepat dan berhasil menemukan SN saat ia bersembunyi di belakang rumah salah satu warga.
“Alhamdulillah dalam waktu kurang dari tiga jam, warga bersama aparat sudah berhasil mengamankan yang bersangkutan,” kata Bergi menegaskan keberhasilan kolaborasi antara masyarakat dan aparat dalam menghadapi situasi mendesak ini.
Setelah berhasil diamankan kembali, SN diserahkan kepada petugas lapas untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut terkait pelariannya.
Proses hukum akan dilanjutkan guna menentukan langkah selanjutnya bagi narapidana tersebut.
Sebagai tindakan pengamanan tambahan setelah insiden ini, pihak lapas memutuskan untuk memindahkan SN ke sel dengan tingkat pengamanan yang lebih tinggi.
“Saat ini yang bersangkutan sudah dipindahkan ke sel dengan pengamanan maksimum untuk proses pemeriksaan lebih lanjut,” tambah Bergi menjelaskan langkah-langkah yang diambil untuk mencegah terulangnya kejadian serupa.
Insiden pelarian ini menggambarkan betapa pentingnya kolaborasi antara lembaga pemasyarakatan dan masyarakat dalam menjaga keamanan serta ketertiban lingkungan sekitar.
Kasus ini juga menjadi pengingat bagi pihak berwenang mengenai perlunya evaluasi terhadap sistem keamanan di lembaga pemasyarakatan agar kejadian serupa dapat diminimalisir di masa depan.
Melihat fenomena pelarian narapidana seperti yang dialami oleh SN ini bukanlah hal baru dalam konteks lembaga pemasyarakatan Indonesia.
Seringkali berbagai faktor seperti tekanan sosial maupun masalah internal dapat memicu tindakan nekat dari para penghuni lapas tersebut.
Oleh karena itu, pendekatan holistik perlu diterapkan dalam menangani masalah ini agar tidak hanya mengandalkan aspek keamanan fisik semata.
Ke depannya, pihak Lapas Nirbaya perlu mengevaluasi kembali prosedur operasional standar mereka serta meningkatkan interaksi dengan masyarakat lokal guna menciptakan lingkungan yang aman bagi semua pihak.
Dengan adanya dukungan dari masyarakat serta kerjasama yang baik antara berbagai instansi terkait, diharapkan insiden serupa dapat dicegah dan situasi ketertiban publik tetap terjaga. (jul/stch/dda)
















