Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Keunikan Masjid Alif Baa di Banjarnegara, Memadukan Arsitektur Tradisional dan Filosofi Spiritual

Arsitektur Tak Biasa Masjid Alif Baa BanjarnegaraArsitektur Tak Biasa Masjid Alif Baa Banjarnegara
MASJID UNIK: Suasana masjid unik yang berada di Ponpes Alif Baa, Bawang, Banjarnegara

BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Di tengah pesona alam Kabupaten Banjarnegara, sebuah masjid dengan arsitektur yang mencuri perhatian berdiri megah di Desa Mantrianom, Kecamatan Bawang.

Masjid ini dikenal dengan nama Masjid Alif Baa dan terletak di dalam lingkungan Pondok Pesantren Alif Baa.

Apa yang membuat masjid ini istimewa adalah perpaduan antara material alami dan filosofi spiritual yang terkandung dalam setiap bagiannya.

Dengan ukuran sekitar 15 x 15 meter, masjid ini mampu menampung hingga sekitar 500 jamaah.

Dari sudut pandang luar, tampilan Masjid Alif Baa sangat berbeda dibandingkan dengan masjid-masjid pada umumnya.

Pemilihan material alami seperti batu kali, kayu tua, dan atap ijuk memberikan nuansa tradisional yang kental.

Dinding masjid tersusun rapi dari batu kali yang tidak hanya berfungsi untuk memperkuat struktur bangunan tetapi juga melambangkan simbol keteguhan.

Filosofi mendalam yang diusung dalam pembangunan masjid ini menggambarkan harapan agar setiap individu dapat menjadi penopang kebaikan bagi sesama.

Begitu memasuki bagian dalam masjid, pengunjung akan disambut oleh empat tiang utama atau soko guru yang terbuat dari kayu sanakeling dan jati. Kayu tersebut diperkirakan memiliki usia sekitar 650 tahun.

Keberadaan empat tiang ini bukan sekadar aspek arsitektur, melainkan juga melambangkan empat pilar penting dalam kehidupan seorang Muslim: iman, ibadah, ilmu, dan akhlak.

Tiang-tiang tersebut menjadi saksi bisu perjalanan spiritual para jamaah yang datang untuk beribadah.

Salah satu keunikan lain dari Masjid Alif Baa terlihat pada bagian mihrab atau tempat imam memimpin salat.

Pada bagian ini terdapat potongan kayu tua yang diperkirakan berusia hingga 1.250 tahun.

Ini menunjukkan betapa kaya dan beragamnya warisan budaya serta spiritualitas yang dimiliki oleh masyarakat setempat. Selain itu, pada bagian atap masjid terpasang delapan tanduk dari ijuk.

Ornamen ini tidak hanya menambah keindahan visual tetapi juga memiliki makna simbolis sebagai harapan agar silaturahmi antarmanusia tetap terjaga dan terpelihara.

Di sisi kanan dan kiri bagian dalam masjid terdapat ruang kecil yang digunakan oleh para santri untuk melakukan suluk.

Aktivitas suluk merupakan kegiatan ibadah dan perenungan yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.

Ruang-ruang ini dirancang sedemikian rupa agar memberikan suasana tenang bagi para santri dalam menjalani proses spiritual mereka.

Khayatul Makki selaku pengasuh pesantren menjelaskan bahwa pembangunan Masjid Alif Baa tidak dilakukan secara tiba-tiba atau instan.

Proses pengumpulan material bangunan, terutama kayu-kayu tua yang digunakan memerlukan waktu bertahun-tahun.

“Sebagian kayu bahkan kami temukan dalam kondisi sudah lama terkubur di dalam tanah. Setelah melalui proses pengolahan intensif, baru kemudian digunakan sebagai bagian dari bangunan masjid ini,” ujarnya saat ditemui pada Selasa (10/3/2026).

Lebih lanjut Khayatul menambahkan bahwa selain berfungsi sebagai tempat ibadah, masjid ini juga dirancang sebagai ruang pembelajaran bagi para santri.

Melalui arsitektur uniknya, masjid diharapkan mampu menjadi medium bagi para santri untuk memahami nilai-nilai spiritual yang terkandung di balik setiap elemen bangunan tersebut.

Setiap sudut masjid tidak hanya menawarkan kenyamanan fisik tetapi juga kedalaman pemahaman spiritual bagi siapa saja yang mengunjungi tempat suci ini.

Keberadaan Masjid Alif Baa di tengah masyarakat memberikan dampak positif terhadap kehidupan sosial dan spiritual warga sekitar.

Dengan desain arsitektur yang kental akan nuansa tradisional serta filosofi mendalam tentang keteguhan dan kebaikan, masjid ini menjadi magnet bagi umat Muslim yang ingin mencari ketenangan jiwa melalui praktik ibadah dan refleksi spiritual. (jud/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Kabur Gara Gara Takut Ditagih Utang

Napi Kabur dari Nusakambangan Diduga Tertekan Utang ke Sesama Warga Binaan

Berita Selanjutnya
Truk Terguling di Bayeman, Lalu Lintas Tersendat

Rem Blong Picu Truk Boks Terguling di Purbalingga, Pengemudi dan Penumpang Selamat