BANYUMASEKSPRES.ID, PURBALINGGA – Komunitas sosial Barda Family Lumampah Sodaqoh (BFLS) di Purbalingga telah menjadi garda terdepan dalam kegiatan kemanusiaan. Sejak berdiri pada pertengahan tahun 2018, komunitas ini telah banyak memberikan bantuan kepada masyarakat, terutama bagi mereka yang kurang mampu.
Salah satu program unggulan mereka adalah pembagian nasi bungkus gratis setiap hari untuk penunggu pasien rawat inap di rumah sakit setempat.
Akhir pekan kemarin, suasana di pojok dekat rumah tahanan negara (rutan) Purbalingga tampak ramai. Tenda berwarna oranye dipasang di lokasi tersebut, dan meja-meja dipenuhi dengan hidangan sayur dan lauk bergizi yang siap disajikan.
Penarik becak, ojek online, hingga anak sekolah berdatangan untuk menikmati makanan gratis yang disediakan oleh BFLS. Meskipun sebagian besar penerima manfaat berasal dari kalangan tidak mampu, siapa saja dapat menikmati makanan yang disediakan di sana.
Anggota komunitas BFLS bekerja sama, ada yang menggunakan pengeras suara untuk mengajak pengguna jalan datang ke tenda makan gratis, sementara yang lainnya sibuk menyiapkan nasi dan lauk.
Tutik Javier, Ketua BFLS Kabupaten Purbalingga, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut dilakukan secara periodik. Namun, lebih dari itu, pemberian bantuan nasi bungkus gratis untuk penunggu pasien rawat inap di rumah sakit terus dilakukan setiap hari.
Salah satu rumah sakit yang menerima manfaat dari program ini adalah RSUD dr Goeteng Tarunadibrata Purbalingga dan RS Nirmala Purbalingga.
Setiap hari, BFLS menyediakan nasi bungkus gratis sebanyak tiga kali – pagi, siang, dan sore, dengan total sekitar 100 bungkus nasi yang dibagikan kepada penunggu pasien yang membutuhkan. Program ini diberi nama Sedekah Nasi Rombongan (SNR).
“Komunitas kami berdiri sejak pertengahan tahun 2018. Alhamdulillah, dalam sehari kami menyediakan nasi bungkus gratis maksimal tiga kali dengan total 100 bungkus. Ini adalah upaya kami untuk membantu sesama, terutama bagi mereka yang sedang menunggu pasien rawat inap,” ungkap Tutik Javier yang juga merupakan PNS di Dindikbud Kabupaten Purbalingga.
Penggalangan dana untuk kegiatan sosial ini berasal dari sumbangan komunitas dan donatur yang tidak terikat. Proses pengumpulan dana dilakukan melalui pertemuan anggota dan juga media sosial.
Selain itu, mereka juga menaruh etalase nasi bungkus di dekat bangsal pasien kelas 3 di rumah sakit, mengingat banyak penunggu pasien yang tidak memiliki cukup uang untuk membeli makanan, meskipun harus menunggu berhari-hari untuk anggota keluarga yang sedang dirawat.
Tutik juga menambahkan bahwa meski terkadang ada komentar negatif tentang sedekah yang dianggap riya, ia menganggap itu sebagai tantangan.
“Prinsip kami, selagi bisa menolong sesama dengan ikhlas, maka tetap akan ada dampak positifnya. Semua itu adalah penilaian dari Yang Maha Kuasa,” ujarnya.
Selain program SNR, BFLS juga melakukan berbagai kegiatan sosial lainnya, seperti perbaikan rumah tidak layak huni (RTLH) dan menyediakan ambulans bagi pasien tidak mampu.
Komunitas ini juga bekerja sama dengan Baznas Purbalingga dan organisasi sosial lainnya di daerah tersebut.
Semua kegiatan mereka dilaksanakan dengan niat tulus tanpa pamrih, semata-mata untuk kepedulian sosial kepada sesama.
“Semua kegiatan kami dilaksanakan tanpa pamrih dan murni karena kepedulian terhadap sesama,” kata Tutik Javier.
Dengan berbagai kegiatan sosial yang terus dijalankan, komunitas BFLS Purbalingga semakin dikenal luas dan diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi banyak pihak untuk terus memberikan manfaat bagi masyarakat. (amr/*stch)
















