BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Dusun Sayangan, Desa Twalegiri, Kecamatan Pagedongan, Kabupaten Banjarnegara, berlangsung meriah dan penuh keseruan.
Warga RT 07 RW 03 dan sekitarnya memiliki cara unik untuk memeriahkan Hari Kemerdekaan, yakni dengan menggelar tradisi parak iwak, sebuah kegiatan menangkap ikan secara bersama-sama di dalam kolam.
Tradisi tersebut digelar pada Senin (17/8/2026). Bukan menggunakan jaring atau alat bantu, warga justru harus menangkap ikan lele dengan tangan kosong.
Peserta rela menceburkan diri ke kolam sedalam sekitar 40 sentimeter yang telah dipenuhi ikan.
Begitu lomba dimulai, suasana kolam langsung berubah menjadi arena perburuan.
Para peserta bergerak cepat menyusuri air dan lumpur untuk mencari lele yang berenang bebas.
Teriakan kegembiraan terdengar ketika peserta berhasil menangkap ikan, sementara peserta lain harus kembali mengejar lele yang lolos dari genggaman.
Keseruan parak iwak tidak hanya terlihat dari banyaknya ikan yang dilepaskan ke kolam, tetapi juga dari cara peserta menangkapnya.
Tidak ada jaring, serok, maupun perlengkapan khusus. Semua peserta mengandalkan kecepatan tangan dan keberanian untuk memburu lele yang terkenal licin.
Ketika ikan menyentuh kaki atau terlihat berenang di dekat tangan, peserta langsung berusaha menangkapnya. Namun, lele yang licin membuat proses tersebut tidak mudah.
Ikan yang sudah hampir berhasil ditangkap pun beberapa kali kembali meloloskan diri. Kondisi tersebut justru membuat suasana semakin ramai.
Peserta terus mengejar ikan, sementara warga yang menyaksikan ikut memberikan semangat dan tertawa melihat tingkah peserta yang berusaha menangkap lele.
Ketua RT 07 RW 03, Turohman, mengatakan kegiatan parak iwak menjadi salah satu cara warga merayakan kemerdekaan sekaligus mempererat hubungan sosial.
“Parak iwak ini untuk memeriahkan HUT RI ke-81 sekaligus menjadi ajang silaturahmi dan kebersamaan warga,” kata Turohman.
Untuk membuat lomba semakin menarik, panitia menyiapkan sekitar dua kuintal ikan lele untuk ditebar ke dalam kolam.
Jumlah tersebut membuat peserta harus bergerak cepat untuk mendapatkan ikan. Sebagian peserta berhasil menangkap lele dalam waktu singkat.
Namun, ada pula yang harus berulang kali mengejar ikan karena lele berhasil meloloskan diri.
Ketua panitia, M Dodi Pratomo, mengatakan ikan yang berhasil ditangkap peserta boleh dibawa pulang.
Dengan demikian, kegiatan tersebut tidak hanya memberikan hiburan bagi warga, tetapi juga menghasilkan ikan yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan makanan keluarga.
“Lele yang berhasil ditangkap peserta boleh dibawa pulang untuk diolah menjadi lauk keluarga,” ujar Dodi.
Panitia juga menyiapkan hadiah bagi peserta yang berhasil memperoleh lele dengan bobot terbesar.
Selain itu, terdapat hadiah khusus bagi peserta yang menemukan ikan dengan tanda tertentu yang telah disiapkan sebelumnya.
Bagi masyarakat Dusun Sayangan, parak iwak bukan sekadar perlombaan untuk memeriahkan HUT Kemerdekaan RI.
Tradisi tersebut menjadi ruang berkumpul dan mempererat hubungan antarwarga.
Keseruan menangkap ikan di dalam kolam membuat warga dari berbagai usia dapat terlibat.
Suasana sederhana justru menjadi daya tarik utama karena peserta tidak membutuhkan perlengkapan mahal untuk menikmati kegiatan.
Salah seorang peserta, Yani, mengaku senang mengikuti tradisi tersebut. Menurutnya, tantangan terbesar adalah menangkap lele yang licin.
“Senang ikut kegiatan ini. Menangkap lelenya memang susah karena licin. Lele yang saya dapat akan langsung dimasak untuk lauk di rumah,” katanya.
Bagi peserta, keberhasilan membawa pulang ikan menjadi bonus. Hal yang lebih penting adalah pengalaman bermain dan berkumpul bersama masyarakat sekitar.
Tradisi parak iwak telah rutin digelar masyarakat Dusun Sayangan setiap perayaan HUT Kemerdekaan RI.
Dari tahun ke tahun, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menjadi bagian dari kebersamaan warga.
Keberadaan tradisi seperti parak iwak menunjukkan bahwa masyarakat memiliki berbagai cara kreatif dalam merayakan kemerdekaan.
Jika sebagian wilayah menggelar lomba panjat pinang, balap karung, makan kerupuk, atau berbagai permainan tradisional lainnya, warga Sayangan memilih menangkap ikan secara bersama-sama.
Kegiatan tersebut juga menjadi momentum untuk mempertemukan warga dalam suasana santai dan penuh kegembiraan.
Peserta maupun penonton dapat berinteraksi tanpa sekat, sehingga nilai kebersamaan semakin terasa.
Warga berharap tradisi parak iwak tetap dapat dilaksanakan pada perayaan HUT Kemerdekaan pada tahun-tahun berikutnya.
Bahkan, mereka berharap jumlah ikan yang ditebar dapat ditambah sehingga kegiatan menjadi semakin meriah.
Bagi warga Dusun Sayangan, makna kemerdekaan tidak selalu harus diwujudkan melalui acara besar.
Menceburkan diri ke kolam, mengejar lele dengan tangan kosong, tertawa bersama, kemudian membawa pulang ikan untuk lauk keluarga juga menjadi cara sederhana untuk menikmati kemerdekaan.
Tradisi parak iwak di Pagedongan Banjarnegara akhirnya menjadi gambaran bagaimana semangat kemerdekaan dapat dirayakan melalui kebersamaan, kegembiraan, dan tradisi masyarakat yang sederhana tetapi memiliki nilai sosial yang kuat. (*/stch/dda)













