BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Asap dari tungku pembakaran kayu masih mengepul dari sejumlah rumah warga Desa Semangkung, Kecamatan Pejawaran, Kabupaten Banjarnegara.
Di tengah perubahan zaman, masyarakat setempat masih mempertahankan tradisi mengolah mbako garangan, tembakau khas yang diproduksi menggunakan teknik tradisional dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Namun, keberadaan tembakau tradisional tersebut kini menghadapi tantangan serius.
Jumlah pengrajin mbako garangan semakin berkurang, sementara sebagian besar pengrajin yang masih bertahan sudah berusia lanjut.
Regenerasi menjadi persoalan utama karena semakin sedikit generasi muda yang tertarik meneruskan keterampilan pembuatan tembakau khas Semangkung tersebut.
Saat ini diperkirakan hanya sekitar 30 warga yang masih aktif memproduksi mbako garangan.
Jika tidak ada generasi penerus yang belajar dan melanjutkan proses produksi, tradisi yang telah berlangsung selama puluhan tahun tersebut dikhawatirkan semakin sulit bertahan.
Salah satu pengrajin yang masih mempertahankan tradisi tersebut adalah Siswo, 84 tahun. Ia telah membuat mbako garangan sejak berusia 15 tahun.
Selama puluhan tahun, Siswo mempelajari berbagai tahapan pengolahan tembakau secara langsung dari keluarganya. Hingga kini, ia masih melakukan proses perajangan tembakau secara manual.
“Mbako garangan di Semangkung ini sudah ada sejak lama. Dulu orang tua saya juga membuat mbako garangan. Kalau saya sendiri mulai umur 15 tahun,” kata Siswo.
Pengalaman panjang tersebut membuat Siswo memahami karakter daun tembakau yang cocok untuk diolah menjadi mbako garangan.
Pengetahuan semacam itu tidak mudah diperoleh hanya melalui teori karena sebagian besar keterampilan diperoleh melalui praktik dan pengalaman langsung.
Salah satu faktor yang membuat mbako garangan memiliki karakter tersendiri adalah proses pembuatannya yang cukup panjang.
Daun tembakau biasanya dipanen menjelang musim kemarau. Setelah dipanen, daun terlebih dahulu dilayukan.
Selanjutnya, daun tembakau dirajang tipis secara manual sebelum ditata di atas rigen. Tahapan berikutnya adalah proses penggarangan menggunakan bara kayu.
Proses tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam menghasilkan karakter khas mbako garangan.
Setelah melalui proses penggarangan, tembakau masih harus dijemur selama kurang lebih 15 hari.
Dengan berbagai tahapan tersebut, waktu yang dibutuhkan mulai dari pengolahan awal hingga produk siap dipasarkan dapat mencapai sekitar satu bulan.
“Proses bertahap ini menghasilkan tembakau padat berwarna hitam yang memiliki karakter rasa khas, legit, tidak ampang dan meninggalkan sensasi rasa manis alami,” ujar Siswo.
Teknik tradisional tersebut menjadi salah satu keunikan mbako garangan Semangkung.
Proses yang dilakukan secara manual juga membuat produk memiliki karakter berbeda dibandingkan tembakau yang diproses menggunakan metode modern.
Meskipun proses produksinya membutuhkan waktu cukup lama dan keterampilan khusus, mbako garangan memiliki nilai jual yang cukup tinggi.
Satu eler berukuran 50 x 30 centimeter dijual dengan harga sekitar Rp500 ribu.
Produk tersebut bahkan tidak hanya dipasarkan di wilayah Banjarnegara, tetapi telah menjangkau sejumlah daerah di luar kabupaten.
Nilai ekonomi tersebut menunjukkan bahwa mbako garangan tidak hanya memiliki nilai tradisi, tetapi juga berpotensi menjadi produk unggulan masyarakat apabila dikembangkan dengan baik.
Namun, potensi ekonomi tersebut belum otomatis membuat generasi muda tertarik meneruskan usaha yang diwariskan oleh para pengrajin sebelumnya.
Sekretaris Desa Semangkung, Badriah, mengatakan regenerasi menjadi salah satu tantangan terbesar dalam mempertahankan keberadaan mbako garangan.
Menurutnya, proses produksi yang membutuhkan waktu lama dan keterampilan khusus membuat sebagian generasi muda enggan meneruskan pekerjaan tersebut.
“Minat generasi muda untuk meneruskan pembuatan mbako garangan ini sangat kurang,” kata Badriah.
Padahal, keterampilan membuat mbako garangan tidak dapat dikuasai hanya dengan membaca panduan.
Pengrajin harus memahami berbagai aspek, mulai dari kondisi daun tembakau, menentukan waktu panen, teknik merajang, menata tembakau di atas rigen, hingga mengatur proses penggarangan.
Pengetahuan tersebut selama ini banyak diwariskan secara langsung dari orang tua kepada anak atau generasi berikutnya.
Minimnya regenerasi membuat keberadaan mbako garangan Semangkung menghadapi tantangan untuk terus bertahan.
Jika semakin banyak pengrajin berusia lanjut berhenti memproduksi dan tidak ada generasi muda yang bersedia belajar, tungku penggarangan yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Semangkung berpotensi semakin jarang digunakan.
Pada akhirnya, bukan hanya aktivitas produksi yang terancam berhenti. Pengetahuan mengenai cara mengolah tembakau secara tradisional juga berisiko ikut hilang.
Karena itu, keberadaan mbako garangan perlu dilihat tidak hanya sebagai produk tembakau, tetapi juga sebagai bagian dari keterampilan tradisional dan identitas masyarakat Desa Semangkung.
Upaya regenerasi menjadi penting agar keterampilan tersebut tetap dapat diwariskan.
Ketertarikan generasi muda dapat didorong dengan memperkenalkan nilai ekonomi, sejarah, serta keunikan proses pembuatan mbako garangan.
Dengan dukungan masyarakat dan pemerintah desa, mbako garangan Semangkung memiliki peluang untuk tetap bertahan sekaligus memberikan nilai tambah ekonomi bagi warga.
Tradisi yang telah dijalankan selama puluhan tahun tersebut kini berada di persimpangan.
Di satu sisi, produk masih memiliki nilai jual dan pasar. Namun di sisi lain, jumlah pengrajin terus terbatas dan regenerasi belum berjalan optimal.
Jika tidak segera ada generasi penerus, bukan tidak mungkin tradisi pembuatan mbako garangan yang menjadi ciri khas Semangkung akan semakin sulit ditemukan pada masa mendatang. (jud/stch/dda)














