BANYUMASEKSPRES.ID, CILACAP – Pasar Gede Cilacap mengalami penurunan yang signifikan dalam aktivitas jual-beli. Penurunan ini tidak hanya memengaruhi omzet pedagang tetapi juga jumlah pedagang yang terus berkurang dari waktu ke waktu.
Lantai dua pasar yang biasanya ramai dengan penjual sayuran, pakaian, perlengkapan dapur, dan ikan laut mulai sepi pembeli.
Laili Faizah, seorang pedagang pakaian yang sudah cukup lama berdagang di pasar ini, mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi pasar saat ini.
“Penjualan saya menurun setiap tahun,” ujar Faizah.
Bahkan pada momen-momen seperti hari raya atau liburan tahun baru, ketika biasanya terjadi peningkatan penjualan, hasilnya tidak sebesar tahun-tahun sebelumnya.
Faizah juga menyaksikan kios-kios tetangganya satu per satu menutup usahanya.
Perubahan perilaku konsumen yang lebih memilih belanja online menjadi salah satu alasan utama penurunan jumlah pembeli di pasar tradisional ini.
“Sejak pandemi, penjualan terus menurun. Bahkan beberapa bulan terakhir, dalam sehari bisa tidak ada pembeli sama sekali,” imbuhnya.
Kardi, penjual kebutuhan sehari-hari di lantai dua Pasar Gede, turut merasakan dampak dari berkurangnya pembeli. Omzet yang diperolehnya hanya cukup untuk menutup biaya operasional seperti retribusi kios dan modal awal untuk membeli barang dagangan baru.
“Pembeli lebih suka beli di luar pasar daripada harus masuk ke dalam,” ungkap Kardi dengan nada prihatin.
Ia berharap adanya regulasi yang dapat mengatur keberadaan pedagang-pedagang yang membuka lapak di luar Pasar Gede. Menurutnya, hal ini penting agar tidak semakin memperburuk situasi pedagang di dalam pasar.
“Pedagang di luar bikin kita di lantai atas ikut terdampak,” tegas Kardi.
Di tempat lain, Kepala Pasar Gede Cilacap Sudarman memberikan pandangannya mengenai situasi ini.
Ia menyatakan jumlah pedagang di Pasar Gede memang terus berkurang tiap tahunnya. Pada tahun 2020, terdapat 1.200 pedagang yang aktif berjualan; kini jumlah itu menyusut drastis menjadi sekitar 300 pedagang saja.
“Yang bertahan sekarang hanya para sudagar besar,” kata Sudarman menjelaskan kondisi terkini pasar tersebut.
“Para pedagang kecil terus berkurang tiap tahunnya. Minggu ini saja sudah ada dua orang lagi yang pamitan.” lanjutnya.
Kondisi ekonomi lokal dan tren perubahan perilaku konsumen pasca-pandemi menjadi tantangan besar bagi keberlangsungan pasar tradisional seperti Pasar Gede Cilacap ini.
Pergeseran menuju belanja online bukan hanya fenomena sesaat tetapi telah mengubah lanskap bisnis ritel secara permanen.
Para pelaku usaha di pasar berharap adanya kebijakan dari pemerintah daerah untuk mendukung keberlanjutan pasar tradisional ini agar tetap dapat bersaing dengan platform digital dan toko modern lainnya.
Dukungan bisa berupa promosi atau kebijakan khusus bagi pengusaha lokal agar mereka tetap bisa bertahan di tengah persaingan yang kian ketat.
Bagi masyarakat sekitar Cilacap sendiri, Pasar Gede bukan hanya sekadar tempat berbelanja tetapi juga bagian dari kehidupan sosial dan budaya mereka sejak lama.
Keberadaan pasar ini adalah simbol penting dari interaksi sosial dan transaksi ekonomi masyarakat setempat.
Masa depan Pasar Gede Cilacap membutuhkan kolaborasi antara pemerintah daerah dan komunitas lokal untuk mencari solusi kreatif agar daya tarik pasar bisa kembali ditingkatkan.
Upaya revitalisasi baik dari segi infrastruktur maupun promosi dapat menjadi langkah awal yang penting guna menjaga eksistensi pasar tradisional ini di era digital saat ini.
Dengan demikian, tantangan bagi para pedagang dan pengelola Pasar Gede adalah bagaimana menjadikan tempat ini lebih menarik bagi pembeli sekaligus meningkatkan daya saingnya dengan alternatif belanja lainnya. (rey/stch)
















