BANYUMASEKSPRES.ID, JAKARTA – Kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas serta kelompok rentan di Indonesia masih jauh tertinggal jika dibandingkan dengan masyarakat umum.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat partisipasi angkatan kerja penyandang disabilitas baru mencapai sekitar 20 persen pada awal tahun 2025, sedangkan kelompok non-disabilitas telah mencapai sekitar 70 persen.
Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan yang signifikan yang perlu segera ditangani.
Iqbal Muslimin, Chief of Sustainability Evermos, mengatakan bahwa kondisi ini tidak hanya menjadi tantangan, tetapi juga sebuah peluang untuk membuka akses ekonomi yang lebih luas bagi penyandang disabilitas dan pekerja migran purna.
Iqbal berpendapat bahwa bisnis digital dapat menjadi solusi efektif karena model usaha ini tidak memerlukan modal besar dan tidak membutuhkan tempat usaha fisik.
“Kami melihat bisnis digital bisa menjadi jembatan untuk mengurangi hambatan akses ekonomi bagi penyandang disabilitas dan pekerja migran purna. Tanpa modal besar, tanpa perlu ada lokasi fisik, bisa pakai handphone saja. Model usaha ini membuka kesempatan bagi mereka untuk membangun sumber penghasilan yang mandiri dan berkelanjutan,” ungkap Iqbal dalam pernyataannya pada Jumat, 19 Juni 2026.
Untuk mendukung inisiatif ini, Evermos telah menggandeng International Labour Organization (ILO) melalui proyek Promise II Impact.
Kolaborasi yang telah berjalan sejak tahun 2023 ini bertujuan untuk meningkatkan akses usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terhadap layanan keuangan sekaligus memberikan pelatihan kewirausahaan digital bagi penyandang disabilitas dan pekerja migran purna.
Iqbal menjelaskan lebih lanjut mengenai peran Evermos dalam proyek ini dengan menawarkan ekosistem bisnis digital berupa platform reseller, produk halal terkurasi, serta pelatihan dan pendampingan usaha.
Sementara itu, ILO memberikan pendampingan terkait konsep kerja layak dan literasi keuangan agar peserta mampu membangun usaha yang sehat dan berkelanjutan.
“Kerja sama tersebut sejalan dengan visi perusahaan untuk mendorong pemberdayaan UMKM di seluruh Indonesia,” ujar Iqbal dengan penuh semangat.
Sejak pelaksanaan program ini, lebih dari 230 penerima manfaat telah bergabung dan mengikuti pelatihan di berbagai daerah.
Pada Maret 2026 lalu, pelatihan diberikan kepada pekerja migran di Cirebon, Jawa Barat.
Program serupa juga digelar di Daerah Istimewa Yogyakarta dengan melibatkan sejumlah organisasi penyandang disabilitas setempat.
Selama sesi pelatihan tersebut, peserta diajak untuk mempraktikkan langsung cara memilih produk melalui aplikasi Evermos, memanfaatkan pemasaran digital serta menggunakan WhatsApp Business sebagai sarana untuk memulai usaha mereka.
Tim ILO juga memberikan materi tentang pengelolaan keuangan agar usaha yang dirintis dapat berkembang secara sehat dan berkelanjutan.
Arip Tirta, President Evermos, menekankan bahwa transformasi digital akan lebih bermakna jika mampu menjangkau kelompok rentan yang selama ini memiliki keterbatasan dalam akses informasi dan ekonomi.
Dia menyebutkan bahwa penyandang disabilitas maupun pekerja migran yang kembali ke kampung halaman kini dapat memulai usaha hanya dengan ponsel tanpa harus mengeluarkan modal besar.
“Pemberdayaan yang inklusif bisa benar-benar terwujud apabila kita mampu menghadirkan akses teknologi bagi semua kalangan,” tambah Arip.
Sementara itu, Djauhari Sitorus selaku Manajer Proyek Promise II Impact menilai bahwa kolaborasi antara berbagai pihak merupakan contoh nyata dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif.
Menurutnya, upaya tersebut sangat penting agar tidak ada kelompok masyarakat yang tertinggal dalam menikmati peluang ekonomi.
Kondisi pasar kerja bagi penyandang disabilitas di Indonesia memang masih menghadapi banyak tantangan.
Stigma sosial serta ketidakpahaman masyarakat terhadap potensi mereka sering kali menjadi penghalang utama dalam pencarian pekerjaan.
Namun dengan adanya program-program seperti Promise II Impact yang dicanangkan oleh Evermos dan ILO, harapan baru muncul bagi jutaan individu yang sebelumnya merasa terpinggirkan.
Program-program pelatihan seperti ini tidak hanya memberikan pengetahuan teknis mengenai bisnis digital kepada peserta tetapi juga membangun rasa percaya diri mereka dalam memasuki dunia kerja.
Dengan dukungan ekosistem bisnis digital dari Evermos serta pendampingan dari ILO mengenai literasi keuangan dan konsep kerja layak, para peserta dapat meraih kemandirian finansial melalui usaha mereka sendiri. (*/stch/dda)
















