Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Perjuangan Jelita Bahar Lawan Anxiety hingga Tinggalkan Dunia Hiburan

Alami Anxiety hingga Takut MatiAlami Anxiety hingga Takut Mati
Jelita Bahar

BANYUMASEKSPRES.ID, Pedangdut Jelita Bahar kini kembali menjadi sorotan setelah sekian lama tidak terdengar di dunia hiburan.

Dalam beberapa tahun terakhir, ia mengaku telah berjuang melawan gangguan kecemasan atau anxiety yang dipicu oleh penyakit GERD (gastroesophageal reflux disease).

Kini, Jelita bersyukur karena kondisinya sudah jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya.

“Sebenarnya anxiety aku sudah membaik ya kalau sekarang. Aku bersyukurnya sekarang sudah semakin membaik, sudah sekitar 85 persen lah,” ungkapnya dengan penuh harapan.

Pernyataan ini mencerminkan perjalanan panjang yang harus dilalui Jelita dalam menghadapi masalah kesehatan mentalnya.

Jelita menjelaskan bahwa gejala gangguan kecemasan sebenarnya sudah muncul sejak tahun 2011.

Saat itu, ia mengalami gangguan asam lambung yang kemudian berkembang menjadi GERD.

Namun, ia tidak menyadari bahwa kondisi lambung tersebut turut memicu gangguan kecemasan yang cukup berat.

Baru pada tahun 2019, setelah bergabung dengan komunitas penderita anxiety dan gejala serupa yang memiliki anggota puluhan ribu orang, Jelita mulai memahami betul tentang kondisi yang dialaminya.

Gangguan kecemasan ini ternyata berdampak cukup besar terhadap kariernya di dunia tarik suara.

Ia mengaku tidak lagi mampu tampil dan bernyanyi di hadapan banyak orang karena sering mengalami kepanikan yang membuatnya merasa tertekan dan tidak berdaya.

“Semenjak aku anxiety itu kan aku udah enggak bisa lagi nyanyi. Aku ngerasa kayak takut mati, setiap ngelakuin apa pun aku takut. Kalau di tempat ramai enggak bisa, langsung deg-degan, mau pingsan, lemas, dan panik pokoknya,” jelasnya dengan tegas.

Menurut Jelita, salah satu pengalaman paling berat yang pernah dialaminya adalah ketika serangan panic attack datang saat dirinya terjebak dalam kemacetan di jalan tol.

Dalam keadaan panik tersebut, ia merasakan sesak napas hebat hingga merasa nyawanya terancam.

Dalam kondisi yang sangat menegangkan itu, Jelita meminta kepada sang ibu untuk segera keluar dari jalan tol dan membawanya ke rumah sakit.

Meskipun menghadapi situasi yang sangat berat, Jelita memilih untuk mengambil jalur penyembuhan yang berbeda dari kebanyakan orang.

Ia mengaku tidak pernah berkonsultasi dengan psikiater maupun mengonsumsi obat-obatan psikiatri karena khawatir akan mengalami ketergantungan.

Sebagai gantinya, ia memfokuskan diri pada perbaikan pola hidup sehat, terutama dalam hal pola makan dan pola pikir.

“Aku enggak pernah ke psikiater, enggak pernah minum obat psikiater. Sekarang lebih ke pola makan. Sebisa mungkin 2 atau 3 jam perut jangan kosong, harus selalu makan walaupun hanya biskuit. Karena kalau perut kosong 4 jam aja, itu udah mulai eror lagi, udah mulai deg-degan dan panik,” tuturnya menjelaskan pentingnya menjaga pola makan dalam proses pemulihan mentalnya.

Selain menjaga pola hidup sehat, dukungan keluarga juga menjadi faktor penting dalam proses pemulihannya.

Kehadiran sang anak disebut sebagai sumber semangat sekaligus support system terbesar yang membuatnya lebih fokus menjalani hari-hari dengan pikiran positif. Perlahan tetapi pasti, kondisi mentalnya pun semakin membaik.

Kini, Jelita merasa lebih mampu berdamai dengan anxiety yang sempat membuatnya meninggalkan panggung hiburan selama bertahun-tahun.

Perjuangan Jelita Bahar bukan sekadar cerita pribadi; ia juga mencerminkan realitas banyak orang di luar sana yang berjuang dengan masalah kesehatan mental namun tidak memiliki dukungan atau pemahaman yang cukup mengenai kondisi mereka sendiri.

Melalui kisahnya, Jelita berharap dapat memberikan inspirasi bagi mereka yang tengah berjuang melawan gangguan kecemasan untuk tidak menyerah dan terus mencari cara terbaik untuk pulih dan kembali menjalani kehidupan normal.

Banyak orang mungkin masih memandang remeh masalah kesehatan mental seperti anxiety atau depresi padahal dampaknya bisa sangat signifikan terhadap kehidupan seseorang.

Kesehatan mental seharusnya mendapatkan perhatian serius dari semua kalangan termasuk masyarakat umum maupun pihak pemerintah untuk menyediakan fasilitas kesehatan mental yang memadai bagi masyarakat luas.

Jelita Bahar kini tampil sebagai sosok inspiratif bagi banyak orang terutama para pengidap anxiety lainnya.

Ia menunjukkan bahwa meskipun perjalanan menuju pemulihan itu tidak mudah dan penuh tantangan tetapi sangat mungkin untuk dilakukan jika ada kemauan serta dukungan dari orang-orang terdekat.

Dengan tetap menjaga pola hidup sehat serta berpikir positif, banyak hal baik dapat dicapai termasuk kembali ke dunia hiburan yang telah lama ditinggalkannya. (*/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Suku Bunga Acuan Naik Jadi 5,5 Persen

Bank Indonesia Naikkan BI Rate Jadi 5,5 Persen untuk Jaga Stabilitas Rupiah

Berita Selanjutnya
KPK Sita Hampir Rp 2 Miliar dalam OTT

KPK Sita Hampir 2 Miliar dalam OTT Bupati Muara Enim