Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Petani di Banyumas Lakukan Penyemprotan Massal untuk Atasi Penyakit Hawar Daun pada Padi

Serangan Kresek Ancam Sawah KemranjenSerangan Kresek Ancam Sawah Kemranjen
PENYEMPROTAN: Petani melakukan penyemprotan massal pestisida sebagai upaya pengendalian penyakit hawar daun yang teridentifikasi menyerang tanaman padi

BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Di tengah tantangan cuaca yang tidak menentu, petani di Kecamatan Kemranjen, Kabupaten Banyumas, menghadapi ancaman serius terhadap tanaman padi mereka akibat serangan penyakit hawar daun.

Temuan ini terungkap saat Kelompok Tani Sumber Maju 1 bersama Penyuluh Pertanian dari Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Kemranjen melakukan pemantauan rutin di lahan pertanian.

Penyakit hawar daun, yang juga dikenal dengan istilah penyakit kresek, berpotensi besar untuk menurunkan produktivitas tanaman padi jika tidak ditangani dengan baik.

Penyuluh Pertanian BPP Kecamatan Kemranjen, Sugiyanto, menjelaskan kondisi ini pada Minggu (15/2).

“Hawar daun atau sering dikenal dengan sebutan penyakit kresek,” ungkapnya.

Menyikapi situasi yang memprihatinkan ini, petani dan pihak penyuluh langsung melakukan koordinasi dengan Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) untuk membahas langkah-langkah pencegahan agar penyebaran penyakit tersebut dapat dihentikan di area persawahan.

Salah satu faktor utama yang memicu cepatnya penyebaran penyakit hawar daun adalah kondisi cuaca yang tidak stabil.

Pola cuaca yang berulang antara hujan dan panas disertai angin menyebabkan kelembapan yang tinggi, situasi ini sangat mendukung pertumbuhan patogen yang menyerang tanaman padi.

“Iklim hujan-panas-hujan yang disertai angin menyebabkan kelembaban tinggi, biasanya penyakit dengan cepat menyerang tanaman terutama oleh jamur dan bakteri,” sambung Sugiyanto.

Dalam upaya mengatasi masalah ini secara cepat, petani telah melakukan penyemprotan massal pada tanaman yang telah terindikasi terjangkit penyakit.

Upaya tersebut diperkuat dengan bantuan pestisida dari Laboratorium Hama Penyakit Jatilawang untuk mendukung pelaksanaan penyemprotan massal.

Saat ini, umur tanaman padi di lahan tersebut berkisar antara 60 hingga 70 hari setelah tanam.

Pada fase ini, tanaman padi masih tergolong rentan terhadap serangan hama dan penyakit meskipun pengendalian telah dilakukan.

Meskipun langkah penyemprotan massal telah dilaksanakan, kewaspadaan tetap harus dijaga. Sugiyanto menegaskan pentingnya menjaga ketahanan tanaman dalam menghadapi risiko serangan hama dan penyakit.

“Kondisi umur tanaman padi masih rentan terhadap serangan hama penyakit,” tandasnya.

Hal ini menunjukkan bahwa petani harus tetap waspada dalam memantau kesehatan tanaman mereka agar dapat melakukan tindakan cepat jika ada tanda-tanda serangan lebih lanjut.

Peran aktif petani serta dukungan dari pemerintah melalui institusi seperti BPP sangat penting dalam menjaga kesehatan tanaman padi di daerah tersebut.

Dalam situasi seperti ini, kesadaran akan pentingnya pengendalian organisme pengganggu menjadi semakin krusial.

Para petani tidak hanya dituntut untuk memanfaatkan teknologi dan metode pertanian modern tetapi juga harus memahami cara-cara tradisional dalam menjaga keberlangsungan hasil pertanian mereka.

Komunikasi yang baik antara petani dan penyuluh juga menjadi salah satu kunci keberhasilan dalam menangani masalah ini.

Dengan adanya pertemuan rutin dan kolaborasi yang erat antara petani dan pihak penyuluh pertanian, berbagai solusi inovatif bisa ditemukan sehingga ancaman terhadap hasil panen dapat diminimalisir. (fij/stch/dda)

Berita Sebelumnya
TMMD ke 127, Kodim Bangun RTLH

Kodim 0709/Kebumen Bangun Rumah Layak Huni Lewat TMMD Reguler ke-127

Berita Selanjutnya
LPSK Pastikan Restitusi untuk Korban TPPO di Jakbar

LPSK Turun Tangan Tangani Dugaan TPPO Anak di Tamansari Jakarta Barat