BANYUMASEKSPRES.ID, KEBUMEN – Burung Perkutut Jawa selama ini sering kali dianggap kurang menarik oleh para pecinta burung. Hal ini terjadi karena suara dari Perkutut Bangkok dinilai lebih tebal dan keras, memberikan daya tarik yang lebih kuat bagi para penghobi.
Namun, tren ini tampaknya mulai berubah dalam setahun terakhir. Suara tipis namun nyaring dari Perkutut Jawa kini mulai dilombakan, dan hasilnya, burung ini mulai mendapatkan perhatian yang signifikan.
Dalam beberapa tahun terakhir, burung anggungan memang seolah tenggelam oleh popularitas burung kicau. Tren memelihara dan berlomba burung lebih terpusat pada burung kicauan.
Namun belakangan ini, komunitas penggemar burung anggungan menunjukkan tanda-tanda kebangkitan, dengan Perkutut Jawa menjadi sorotan utama.
“Permintaan Burung Perkutut Jawa meningkat belakangan ini. Sayangnya, peternak khusus untuk jenis ini masih sangat langka,” ungkap Defri Rokhimawan (32), seorang penduduk Desa Banjarwinangun Petanahan yang juga menjalankan bisnis penjualan burung di kiosnya, Kamis (3/7).
Defri menambahkan bahwa beberapa komunitas kini sudah mulai mengadakan lomba untuk Burung Perkutut Jawa. Namun secara umum, burung ini masih banyak diperoleh melalui penangkapan di alam liar.
“Biasanya yang ada adalah muda hutan. Ini merupakan hasil perburuan dari jaring di alam. Karena itu peternak khusus Perkutut Jawa memang belum banyak,” jelasnya.
Di masa lalu ketika burung perkutut merupakan primadona, banyak peternak yang bermunculan dan berkembang pesat, membudidayakan berbagai jenis seperti Perkutut Bangkok Babu, Perkutut Cemani, Perkutut Majapahit, hingga jenis unik seperti Perkutut Putih dan Putih Kapas.
“Selain itu ada juga perkutut anggungan yang dinilai berdasarkan kualitas suaranya. Sayangnya, bisnis perkutut sempat meredup setelah pandemi Covid-19 melanda. Semoga saja sekarang menjadi saat kebangkitan kembali,” tambah Defri berharap.
Dengan harapan optimisme akan perekonomian yang semakin membaik ke depannya, Defri menyatakan bahwa semua bisnis dapat kembali laku dan menguntungkan.
Dia percaya bahwa peningkatan daya beli masyarakat akan berkontribusi positif terhadap roda perekonomian.
“Hobi seperti memelihara burung juga bisa menjadi salah satu penggerak ekonomi. Saya berharap situasi akan terus membaik ke depannya,” katanya dengan penuh harap. (mam/stch)
















