BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Keberadaan Penyandang Gelandangan dan Orang Terlantar (PGOT) di kawasan traffic light Taman Kota Sumpiuh kembali menjadi sorotan utama.
Baru-baru ini, seorang pengamen baru dengan kostum kepala monyet mulai menunjukkan aksinya di lokasi tersebut, menarik perhatian warga dan pihak berwenang setempat. Pengamen ini diketahui mulai beroperasi sejak seminggu terakhir.
Merespons situasi ini, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Banyumas Wilayah eks Kawedanan Sumpiuh segera mengambil tindakan.
Petugas Satpol PP mendatangi pengamen tersebut untuk menggali informasi lebih lanjut. Koordinator Satpol PP, Slamet Riyadi, menyatakan bahwa pengamen itu mengaku berasal dari Jakarta dan mencoba mencari peruntungan di Sumpiuh.
“Mengaku asli orang Jakarta. Sedang mencoba mengadu nasib menjadi pengamen di Sumpiuh,” ujar Slamet pada Kamis (3/7).
Namun, ketika diminta menunjukkan identitas diri, pengamen tersebut beralasan tidak membawa Kartu Tanda Penduduk (KTP).
Dia menjelaskan sedang mengalami kesulitan dalam mencari pekerjaan dan sebelumnya pernah merantau ke Kalimantan, tetapi belum berhasil mendapatkan pekerjaan yang stabil.
Dengan hanya bermodalkan kostum kepala monyet dan sebuah mini speaker, ia memberanikan diri mengamen di perempatan lampu merah Taman Kota Sumpiuh untuk menyambung hidup.
“Pengamen kostum kepala monyet itu mengaku tidurnya di musala,” tambah Nasikhin, salah satu petugas Satpol PP yang terlibat dalam operasi penertiban tersebut.
Dalam proses penertiban ini, petugas Satpol PP mengajak sang pengamen untuk menepi dan memberikan keterangan lebih lanjut. Pengamen tersebut bersikap kooperatif dan tidak melakukan perlawanan terhadap petugas.
Meski demikian, petugas memberikan peringatan tegas agar ia tidak melanjutkan aktivitasnya di lokasi tersebut.
Fenomena kehadiran PGOT seperti pengamen berkostum unik, manusia silver, hingga pengemis memang sering terjadi di simpang Taman Kota Sumpiuh. Meskipun sudah beberapa kali ditertibkan oleh pihak berwenang, mereka sering kali kembali muncul silih berganti.
Pembinaan rutin terus dilakukan oleh Satpol PP untuk menertibkan kawasan ini. Namun, beberapa dari mereka tetap menunjukkan sikap bandel.
“Selang sehari setelah kami lakukan pembinaan, pengamen kostum kepala monyet sudah datang lagi ke traffic light. Apabila masih bandel, rencana tindak lanjut penyitaan mini speaker,” ujar Nasikhin dengan tegas.
Satpol PP menegaskan komitmennya untuk terus melakukan pengawasan ketat dan pembinaan intensif guna memastikan kawasan simpang Taman Kota Sumpiuh tetap tertib dan nyaman bagi para pengguna jalan.
Langkah-langkah tegas akan diterapkan jika PGOT terus membandel dan mengabaikan peringatan dari pihak berwenang.
Keberadaan PGOT di lokasi strategis seperti simpang Taman Kota Sumpiuh memang telah menjadi perhatian masyarakat sekitar maupun pengguna jalan yang melintas.
Kondisi ini tidak hanya mempengaruhi estetika kota tetapi juga kenyamanan publik secara umum.
Oleh karena itu, upaya penertiban yang dilakukan oleh Satpol PP merupakan langkah penting dalam menjaga ketertiban umum dan memberikan rasa aman kepada masyarakat yang menggunakan fasilitas jalan raya tersebut setiap hari.
Selain mendukung terciptanya lingkungan yang lebih tertib, tindakan tegas terhadap PGOT juga bertujuan untuk mendorong para pelaku agar mencari alternatif lain dalam mencari nafkah yang lebih baik dan sesuai dengan aturan hukum yang berlaku.
Dengan demikian, partisipasi aktif semua pihak sangat diperlukan demi menciptakan kondisi sosial yang lebih baik di wilayah Banyumas.
Melalui kolaborasi antara pemerintah daerah dengan masyarakat sekitar serta peningkatan kesadaran sosial mengenai pentingnya menjaga ketertiban umum, harapannya fenomena PGOT bisa ditekan seminimal mungkin sehingga wajah kota bisa tetap indah sekaligus nyaman bagi seluruh warganya serta para pendatang lainnya. (fij/stch)
















