BANYUMASEKSPRES.ID, Pertanyaan mengenai kapan awal bulan puasa selalu menjadi topik yang dinantikan umat Islam menjelang Ramadan.
Untuk tahun 2026, Kementerian Agama (Kemenag) telah menjadwalkan sidang isbat penentuan awal Ramadan 1447 Hijriah pada 17 Februari 2026.
Sidang ini akan menjadi penentu resmi dimulainya ibadah puasa di Indonesia.
Menjelang sidang isbat tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah merilis dokumen prakiraan posisi hilal yang menjadi dasar pertimbangan penetapan awal Ramadan.
Informasi ini menjadi rujukan penting dalam melihat peluang terlihatnya hilal berdasarkan perhitungan astronomi atau hisab.
Prediksi Konjungsi dan Posisi Hilal Ramadan 1447 H
BMKG menjelaskan bahwa konjungsi atau ijtima’ geosentrik akan terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026, pukul 19.01 WIB.
Konjungsi merupakan peristiwa astronomi ketika posisi Bulan dan Matahari berada pada bujur ekliptika yang sama jika diamati dari pusat Bumi.

Pada momen tersebut, nilai bujur ekliptika Matahari dan Bulan tercatat sama, yakni di angka 328,83 derajat.
Karena waktu konjungsi terjadi setelah Matahari terbenam pada 17 Februari 2026, maka secara astronomis hilal belum memungkinkan untuk dirukyat pada hari tersebut.
Oleh sebab itu, pelaksanaan rukyat hilal bagi pihak yang menggunakan metode pengamatan langsung baru dapat dilakukan setelah Matahari terbenam pada 18 Februari 2026.
Sementara itu, bagi pihak yang menggunakan metode hisab, perhitungan awal Ramadan juga mengacu pada kriteria posisi hilal saat Matahari terbenam pada 18 Februari 2026.
Ketinggian Hilal di Indonesia pada 17 dan 18 Februari 2026
BMKG turut memaparkan data ketinggian hilal di berbagai wilayah Indonesia. Pada saat Matahari terbenam tanggal 17 Februari 2026, ketinggian hilal masih berada di bawah ufuk.
Ketinggian terendah tercatat di Jayapura, Papua, sekitar -2,41 derajat, sedangkan titik tertinggi berada di Tua Pejat, Sumatera Barat, sekitar -0,93 derajat. Kondisi tersebut berubah signifikan pada 18 Februari 2026.
Saat Matahari terbenam di tanggal tersebut, ketinggian hilal di Indonesia diperkirakan sudah positif, berkisar antara 7,62 derajat di Merauke, Papua, hingga mencapai 10,03 derajat di Sabang, Aceh.
Angka ini menunjukkan peluang pengamatan hilal yang jauh lebih besar. Hal ini menjadi pertanda yang menunjukkan bahwa Bulan Ramadhan datang di februari 2026.
Elongasi dan Umur Bulan Jadi Penentu Visibilitas Hilal
Selain ketinggian hilal, BMKG juga menjelaskan parameter elongasi geosentris, yaitu jarak sudut antara pusat piringan Bulan dan Matahari.
Pada 17 Februari 2026, elongasi di Indonesia masih sangat kecil, berada di rentang 0,94 derajat hingga 1,89 derajat, sehingga hilal belum mungkin terlihat.
Namun pada 18 Februari 2026, elongasi meningkat cukup signifikan, yakni berkisar antara 10,7 derajat di Jayapura hingga 12,21 derajat di Banda Aceh.
Angka tersebut telah melampaui ambang batas minimal yang digunakan dalam kriteria imkanur rukyat.
BMKG juga mencatat umur Bulan sebagai faktor pendukung visibilitas hilal. Umur Bulan pada 17 Februari 2026 masih bernilai negatif, menandakan konjungsi belum lama terjadi.
Sementara pada 18 Februari 2026, umur Bulan di Indonesia sudah berada di kisaran 20 hingga hampir 24 jam, yang secara astronomis mendukung kemungkinan terlihatnya hilal.
Mekanisme Sidang Isbat Penentuan Awal Ramadan
Penetapan awal Ramadan di Indonesia dilakukan melalui sidang isbat yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama.
Sidang ini mengintegrasikan metode hisab dan rukyatulhilal sebagai pendekatan resmi pemerintah dalam menentukan awal bulan Hijriah.
Direktur Jenderal Bimas Islam Kemenag, Abu Rokhmad, menjelaskan bahwa pendekatan integratif ini bertujuan merangkul keberagaman metode penetapan awal bulan.
Penetapan awal bulan Ramadhan ini digunakan oleh berbagai organisasi masyarakat Islam di Indonesia.
Sidang isbat dihadiri oleh perwakilan ormas Islam seperti NU, Muhammadiyah, PERSIS, hingga para pakar falak dan astronomi dari BMKG, BRIN, Planetarium, serta observatorium astronomi.
Prediksi Awal Ramadan 1447 H di Indonesia
Dengan jadwal sidang isbat yang digelar pada 17 Februari 2026 dan data astronomi dari BMKG, awal Ramadan 1447 H diperkirakan jatuh pada 18 Februari 2026 apabila hilal dinyatakan memenuhi kriteria.
Jika hasil rukyat menunjukkan hilal belum memenuhi syarat, maka awal Ramadan berpotensi ditetapkan pada 19 Februari 2026.
Indonesia sendiri mengacu pada kriteria MABIMS yang disepakati bersama oleh Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura.
Dalam kriteria terbaru ini, hilal dianggap memenuhi syarat apabila memiliki ketinggian minimal 3 derajat dan elongasi sekurang-kurangnya 6,4 derajat.(*/nds)
















