BANYUMASEKSPRES.ID, PURBALINGGA – Banjir bandang yang melanda Desa Serang tidak hanya meninggalkan tumpukan lumpur dan kerusakan fisik, tetapi juga menyisakan luka emosional yang mendalam bagi para penyintas.
Di tengah suasana duka ini, seorang perempuan muda bernama Risma Ananda Nugeraheni tampak hadir dengan langkah pasti, mengetuk setiap pintu rumah yang masih basah oleh sisa bencana.
Usianya baru 25 tahun, namun ketenangan dan kepedulian yang ia tunjukkan mencerminkan kedewasaan yang jauh melampaui usianya.
Risma bukanlah orang asing di Desa Serang. Ia lahir dan dibesarkan di sini, mengenali setiap sudut desa dan wajah-wajah warga yang telah menjadi bagian dari hidupnya sendiri.
Latar belakang pendidikannya sebagai Magister Sosiologi Agama dari Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga tidak membuatnya berdiri di menara gading.
Sebaliknya, ilmu tersebut menjadi bekal berharga untuk memahami manusia dalam situasi paling rapuh.
Ketika banjir datang, Risma memilih untuk pulang ke kampung halamannya.
Bukan untuk menyelamatkan diri, tetapi untuk memberikan dukungan kepada mereka yang terkena dampak bencana.
Sejak hari kedua setelah banjir menerjang, ia aktif terlibat sebagai relawan trauma healing. Tanpa seragam atau bayaran, semuanya dilakukan dengan sukarela.
Dorongan utamanya sederhana: bagi Risma, mereka yang terdampak adalah keluarga besar yang telah ia kenal sejak kecil.
“Mereka semua adalah saudara-saudara saya,” ujar Risma dengan suara lembut namun penuh keteguhan hati.
Awalnya, ia bergerak sendiri sebelum akhirnya membentuk tim kecil. Pendekatannya dalam memberikan bantuan tidak rumit.
Ia menciptakan ruang aman di mana warga desa bisa duduk, bercerita, bahkan menangis tanpa khawatir akan penilaian orang lain.
Risma lebih banyak mendengarkan daripada berbicara karena baginya mendengarkan adalah langkah pertama dalam proses pemulihan.
Anak-anak menjadi fokus awal dari upayanya. Tawa mereka yang hilang ingin ia kembalikan melalui permainan sederhana dan cerita ringan.
Namun seiring waktu berlalu, Risma menyadari bahwa trauma tidak memandang usia. Orang dewasa pun menyimpan ketakutan yang sama dalamnya dengan anak-anak.
Sejak saat itu, layanan psikososial yang dilakukannya terbuka bagi siapa saja yang membutuhkan.
Di balik wajah tenangnya, kelelahan tentu sering datang menghampiri. Namun Risma mengaku menemukan kebahagiaan tersendiri dari kegiatannya ini.
Ada rasa puas ketika melihat mata anak-anak kembali berbinar atau ketika seorang ibu akhirnya berani menceritakan ketakutannya setelah berhari-hari memendam sendiri.
Harapan Risma begitu sederhana dan tulus: ia ingin melihat Desa Serang pulih sepenuhnya.
Bukan hanya bangunan-bangunan fisik yang berdiri kembali tetapi juga kesejahteraan batin warganya terpulihkan sepenuhnya.
Pemulihan fisik dan mental harus berjalan beriringan dengan pemenuhan kebutuhan dasar seperti sandang, pangan, dan papan.
“Dengan pemulihan dari berbagai aspek yang sedang diperjuangkan bersama-sama, saya berharap masyarakat Desa Serang bisa kembali beraktivitas seperti sedia kala,” katanya penuh harap.
Di tengah puing-puing dan lumpur pasca-bencana ini, kehadiran Risma menjadi penopang sunyi bagi warga desa lainnya.
Meskipun ia mungkin tak membawa alat berat ataupun bantuan besar secara materiil namun kehadirannya menjadi oase bagi jiwa-jiwa yang tengah retak akibat bencana alam. (alw/dda)
















