BANYUMASEKSPRES.ID, PURBALINGGA – Setelah diterjang longsor dan banjir bandang yang melanda Desa Serang, Kecamatan Karangreja, semua akses jalan di wilayah terdampak kini kembali terhubung dengan baik.
Hal ini dikonfirmasi setelah rampungnya pembangunan jembatan Bailey kedua di Sungai Sempalan, Dusun Gunung Malang pada Rabu (4/2/2026) sore.
Keberhasilan ini membawa angin segar bagi warga setempat yang sebelumnya terisolasi akibat bencana alam tersebut.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Purbalingga, Drajat Uji Wahyono, menyatakan kepastian bahwa jembatan darurat yang dibangun oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) telah selesai dan siap digunakan.
“Jembatan Bailey kedua sudah selesai dibangun oleh TNI. Jadi semua akses jalan sudah terhubung,” ungkap Drajat kepada awak media pada Kamis (5/2/2026).
Pernyataan ini menunjukkan betapa pentingnya peran TNI dalam pemulihan infrastruktur pascabencana.
Jembatan Bailey tersebut berfungsi sebagai penghubung vital antara Dusun Gunung Malang, Desa Serang, dan Dukuh Bambangan, Desa Kutabawa.
Kehadiran struktur darurat ini memungkinkan jalur yang sempat terputus akibat derasnya aliran Kali Gesor untuk kembali normal.
Dengan demikian, masyarakat dapat kembali melakukan aktivitas sehari-hari tanpa hambatan.
Drajat menambahkan bahwa seluruh jembatan darurat kini telah diperkuat menggunakan box culvert, sebuah langkah yang membuat konstruksi lebih kokoh dan mampu dilalui kendaraan dengan tonase besar.
“Jembatan kayu tinggal ada di Bambangan. Lainnya sudah diperkuat menggunakan box culvert,” tambahnya.
Penguatan ini merupakan bagian dari upaya memperbaiki infrastruktur agar lebih tahan terhadap potensi bencana di masa depan.
Proses pembangunan dua jembatan Bailey oleh TNI dan relawan dinilai sangat cepat.
Seluruh pekerjaan diselesaikan dalam waktu kurang dari lima hari sejak dimulai, sebuah prestasi yang patut diapresiasi mengingat medan sulit dan cuaca yang kurang bersahabat.
Sebelum adanya jembatan ini, jalur Gunung Malang–Bambangan merupakan satu-satunya akses yang belum tersambung pascabencana.
Kini dengan selesainya pembangunan tersebut, mobilitas warga dan distribusi logistik telah kembali lancar.
Dampak positif dari ketersediaan infrastruktur ini sangat dirasakan oleh masyarakat lokal.
Selain memudahkan aktivitas harian mereka, juga membuka peluang untuk pemulihan ekonomi daerah yang sempat terganggu.
Warga kini dapat dengan mudah mengangkut hasil pertanian dan produk lainnya ke pasar lokal maupun regional.
Selain manfaat langsung bagi warga setempat, keberhasilan pembangunan ini juga memberikan pelajaran berharga mengenai pentingnya kesiapan dalam menghadapi bencana alam.
Kolaborasi antara pemerintah daerah, TNI, dan relawan menjadi kunci utama dalam pemulihan cepat infrastruktur vital.
Pemulihan cepat pascabencana seperti ini tidak hanya membantu memperbaiki kerusakan fisik tetapi juga membangun kembali harapan dan semangat masyarakat yang terdampak.
Pemerintah daerah melalui DPUPR terus memantau kondisi infrastruktur dan berkomitmen untuk meningkatkan kualitas serta ketahanannya agar lebih siap menghadapi kemungkinan bencana di masa depan. (tya/stch/dda)
















