Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode
3 Destinasi Wisata Terbaik Bagi Solo Traveling Pemula Yang Aman
Puncak Fenomena Bediding di Jawa Agustus 2026, Simak Penyebab Suhu Udara Turun Drastis

Puncak Fenomena Bediding di Jawa Agustus 2026, Simak Penyebab Suhu Udara Turun Drastis

Fenomena BedidingFenomena Bediding

BANYUMASEKSPRES.ID, Memasuki periode musim kemarau, sejumlah wilayah di Pulau Jawa mengalami suhu udara yang terasa lebih dingin, terutama ketika malam hingga pagi hari.

Kondisi tersebut dikenal sebagai fenomena bediding dan biasanya semakin terasa di daerah dataran tinggi.

Fenomena ini membuat masyarakat perlu beradaptasi dengan perubahan suhu, terutama bagi mereka yang memiliki aktivitas di luar rumah pada dini hari.

Pada periode tertentu, suhu minimum di sejumlah wilayah bahkan dapat turun hingga di bawah 10 derajat Celsius. Salah satu wilayah dengan suhu paling rendah berada di kawasan Bromo, Jawa Timur.

Berdasarkan pengamatan alat pemantau cuaca otomatis milik BMKG, suhu di wilayah tersebut sempat berada di kisaran 5 derajat Celsius.

Lantas, apa sebenarnya fenomena bediding dan mengapa suhu udara di Pulau Jawa bisa menjadi sangat dingin saat musim kemarau?

Simak Fenomena Bediding

Apa Itu Fenomena Bediding?

Bediding merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika udara terasa sangat dingin pada malam hari hingga menjelang pagi.

Fenomena ini umumnya muncul ketika Indonesia memasuki musim kemarau. Periode bediding biasanya berlangsung sekitar Juli hingga September.

Kondisi tersebut terutama dirasakan di wilayah dengan ketinggian tertentu karena temperatur udara di dataran tinggi cenderung lebih rendah dibandingkan daerah pesisir atau dataran rendah.

Pada 2026, fenomena tersebut diperkirakan semakin terasa pada puncak musim kemarau. Selain itu, BMKG juga ungkap dampak dari mencairnya es di puncak Jaya Wijaya.

Salah satu penyebabnya adalah pengaruh angin Monsun Australia yang membawa massa udara relatif kering dan dingin menuju wilayah Indonesia.

Ketika kondisi atmosfer lebih kering, tutupan awan pada malam hari juga cenderung berkurang.  Akibatnya, panas yang tersimpan di permukaan bumi cepat dilepaskan ke atmosfer sehingga suhu menjelang pagi dapat turun cukup signifikan.

Kondisi tersebut membuat udara pada dini hari terasa lebih menusuk dibandingkan biasanya.

Daerah dengan Suhu Terendah di Jawa Timur

Jawa Timur menjadi salah satu wilayah yang mengalami penurunan suhu cukup signifikan. Berdasarkan data pengamatan Automatic Weather Station (AWS) dan stasiun pemantauan BMKG.

Inilah kawasan dataran tinggi mencatat temperatur minimum yang relatif rendah. Berikut beberapa wilayah yang mengalami suhu dingin berdasarkan data pemantauan tersebut:

  • AWS Bromo, Kabupaten Probolinggo: sekitar 5,1 derajat Celsius.
  • Stageof Pasuruan di Tretes: sekitar 14 derajat Celsius.
  • Lanud Abd Saleh, Kabupaten Malang: sekitar 14,6 derajat Celsius.
  • AWS Bondowoso: sekitar 15,9 derajat Celsius.
  • AWS Karangan, Kabupaten Trenggalek: sekitar 16 derajat Celsius.

Kawasan Bromo menjadi salah satu lokasi yang paling dingin karena berada di wilayah pegunungan dengan ketinggian yang cukup signifikan.

Suhu rendah juga membuat kawasan wisata dataran tinggi tersebut memiliki karakter cuaca yang berbeda dibandingkan wilayah perkotaan.

Jawa Tengah dan Jawa Barat Juga Mengalami Suhu Dingin

Fenomena bediding tidak hanya terjadi di Jawa Timur. Sejumlah wilayah Jawa Tengah dan Jawa Barat juga dapat merasakan temperatur yang lebih rendah selama musim kemarau.

Di Jawa Tengah, misalnya, Wonosobo diperkirakan mengalami suhu sekitar 14–17 derajat Celsius. Wilayah lain seperti Temanggung berkisaran 13–19 derajat Celsius dan Magelang diperkirakan berkisar 16–20 derajat Celsius.

Salatiga juga termasuk wilayah yang dapat mengalami udara cukup sejuk dengan suhu sekitar 16–19 derajat Celsius.

Sementara itu, daerah dataran tinggi di Jawa Barat juga tidak luput dari pengaruh kondisi tersebut. Garut berpotensi mengalami temperatur sekitar 11–17 derajat Celsius.

Adapun kawasan Ciwidey dapat berada di sekitar 15 derajat Celsius atau bahkan lebih rendah pada kondisi tertentu.

Perbedaan suhu tersebut menunjukkan bahwa efek bediding lebih terasa di wilayah dengan karakter geografis dan ketinggian tertentu.

Tips Menghadapi Fenomena Bediding

Suhu dingin sebenarnya merupakan bagian dari dinamika cuaca pada musim kemarau. Namun, masyarakat perlu memperhatikan kondisi tubuh, terutama melakukan aktivitas di luar ruangan pada malam atau pagi buta.

Masyarakat yang tinggal di daerah dingin maupun wisatawan yang berkunjung ke kawasan pegunungan sebaiknya menyiapkan jaket atau pakaian hangat.

Penggunaan pakaian berlapis juga dapat membantu mempertahankan suhu tubuh ketika temperatur turun.

Selain itu, penting untuk menjaga pola istirahat dan asupan makanan serta minuman agar kondisi tubuh tetap prima.

Bagi pengendara yang bepergian pada dini hari, kondisi jalan dan jarak pandang juga perlu diperhatikan karena perubahan cuaca dapat memengaruhi kenyamanan perjalanan.

BMKG juga mengimbau masyarakat untuk rutin memantau perkembangan cuaca melalui kanal informasi resmi.

Dengan mengetahui kondisi cuaca terbaru, masyarakat dapat menyesuaikan aktivitas dan mempersiapkan perlengkapan yang diperlukan.

Fenomena bediding di Pulau Jawa merupakan kondisi yang lazim terjadi saat musim kemarau. Meski suhu dapat terasa jauh lebih dingin dari biasanya, masyarakat dapat menghadapinya.

Hal ini salah satunya dengan cara menjaga kondisi tubuh dan mengikuti perkembangan informasi cuaca secara berkala. (*/nds)

Berita Sebelumnya
Kota Solo Traveler di Indonesia

3 Destinasi Wisata Terbaik Bagi Solo Traveling Pemula Yang Aman