BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Modernisasi pertanian mulai diterapkan Kelompok Tani Jaya, Desa Kecila, Kecamatan Kemranjen, Kabupaten Banyumas.
Untuk mempercepat proses panen sekaligus menekan biaya produksi, kelompok tani tersebut memanfaatkan jasa combine harvester atau mesin pemanen padi.
Penggunaan mesin panen dilakukan saat proses panen padi pada Jumat (21/8/2026).
Selain membuat pekerjaan lebih cepat, penggunaan combine harvester dinilai mampu memberikan efisiensi biaya hingga sekitar Rp300 ribu untuk lahan seluas 125 ubin.
Ketua Kelompok Tani Jaya Mulyono mengatakan, pemanfaatan teknologi pertanian telah menjadi bagian dari rencana kerja kelompok tani.
Pembahasan mengenai penggunaan mesin panen bahkan dilakukan sejak awal musim tanam melalui musyawarah bersama para anggota.
Menurutnya, keputusan menggunakan combine harvester tidak dilakukan secara tiba-tiba.
Kelompok tani terlebih dahulu menghitung sejumlah faktor, mulai dari waktu pengerjaan, biaya panen, hingga hasil gabah yang diperoleh.
“Setelah kami pertimbangkan dan kalkulasi, ada beberapa keuntungan ketika menggunakan combine harvester untuk memanen padi,” jelas Mulyono di lokasi, Jumat (21/8).
Salah satu keuntungan utama penggunaan combine harvester adalah kecepatan dalam menyelesaikan pekerjaan.
Mesin tersebut dapat melakukan sejumlah proses panen secara lebih cepat dibandingkan metode yang mengandalkan mesin perontok padi biasa dan tenaga manusia.
Mulyono mengatakan, lahan seluas 125 ubin dapat diselesaikan dalam waktu kurang dari 30 menit dengan menggunakan combine harvester.
Kecepatan tersebut menjadi pertimbangan penting bagi petani karena proses panen merupakan salah satu tahapan yang membutuhkan tenaga, waktu, dan biaya cukup besar.
Dengan pengerjaan yang lebih cepat, petani juga dapat segera melanjutkan proses pengolahan lahan setelah masa panen selesai.
Selain faktor kecepatan, biaya menjadi alasan lain Kelompok Tani Jaya memilih menggunakan jasa combine harvester.
Untuk luas lahan yang sama, yakni 125 ubin, terdapat selisih biaya sekitar Rp300 ribu dibandingkan apabila proses panen dilakukan dengan cara yang biasa digunakan sebelumnya.
Efisiensi tersebut dinilai cukup membantu petani, terutama ketika biaya produksi pertanian terus menjadi perhatian.
Mulyono menilai penggunaan teknologi pertanian merupakan salah satu langkah yang perlu dilakukan agar kegiatan pertanian menjadi semakin efektif dan efisien.
Menurutnya, perkembangan teknologi tidak seharusnya hanya dinikmati sektor pertanian di negara lain.
Petani di daerah juga perlu mulai terbuka terhadap penggunaan mesin dan teknologi yang dapat membantu pekerjaan di sawah.
“Pertanian di luar negeri sudah canggih, apa iya kita di sini tidak mau berubah menjadi lebih baik. Modernisasi pertanian itu sangat dibutuhkan petani,” ujar Mulyono.
Bagi Kelompok Tani Jaya, penggunaan combine harvester menjadi salah satu bentuk adaptasi terhadap perkembangan teknologi pertanian.
Pemanfaatan mesin tersebut juga bukan kali pertama dilakukan. Kelompok Tani Jaya mencatat, musim tanam kali ini merupakan musim tanam ketiga mereka menggunakan jasa combine harvester untuk proses panen padi.
Artinya, penggunaan mesin panen tersebut telah melalui pengalaman dari beberapa musim sebelumnya.
Kelompok tani dapat membandingkan manfaat yang diperoleh dengan metode panen yang sebelumnya digunakan.
Selain mempercepat proses panen dan menghemat biaya, kualitas hasil panen menjadi pertimbangan lain dalam penggunaan combine harvester.
Mulyono mengatakan, hasil gabah yang diperoleh dengan menggunakan combine harvester dinilai lebih bersih dan maksimal.
Salah satu alasannya adalah gabah lebih sedikit tercecer selama proses pemanenan.
Kondisi tersebut menjadi keuntungan tersendiri bagi petani karena setiap bulir gabah memiliki nilai ekonomi.
Minimnya gabah yang tercecer juga membuat lokasi panen menjadi lebih tertata.
Aktivitas orang yang melakukan ngasag setelah proses panen dapat diminimalkan.
Ngasag merupakan aktivitas memungut atau mencari sisa bulir dan batang padi yang masih tertinggal atau tercecer di lahan setelah proses panen.
Dengan penggunaan mesin panen yang lebih efektif, sebagian besar proses pemanenan dapat dilakukan secara lebih menyeluruh.
Keuntungan lain yang dirasakan Kelompok Tani Jaya berkaitan dengan pengelolaan jerami setelah panen.
Mulyono menjelaskan, combine harvester membuat jerami terpotong lebih merata di lahan.
Kondisi tersebut berbeda dengan penggunaan mesin perontok padi biasa yang dapat membuat jerami menumpuk pada titik tertentu.
“Jerami terpotong merata menggunakan combine harvester, sedangkan mesin biasa menumpuk di satu titik yang nantinya mengganggu proses pengolahan lahan,” tandasnya.
Jerami yang tersebar lebih merata membuat petani lebih mudah mempersiapkan lahan untuk tahap berikutnya.
Setelah panen selesai, lahan dapat lebih cepat dibersihkan atau diolah kembali sesuai kebutuhan.
Dengan demikian, manfaat combine harvester tidak hanya dirasakan pada saat memanen padi.
Mesin tersebut juga membantu mempersiapkan lahan untuk siklus pertanian selanjutnya.
Pengalaman Kelompok Tani Jaya menunjukkan bahwa penggunaan teknologi pertanian dapat memberikan sejumlah manfaat sekaligus.
Mesin panen mampu mempercepat pekerjaan, mengurangi biaya, meminimalkan gabah tercecer, serta membuat kondisi lahan lebih mudah ditangani setelah panen.
Efisiensi tersebut menjadi semakin penting karena biaya produksi merupakan salah satu tantangan yang harus diperhitungkan petani setiap musim tanam.
Penggunaan combine harvester juga dapat menjadi alternatif ketika ketersediaan tenaga kerja untuk proses panen terbatas.
Dengan mesin, pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan lebih banyak tenaga manusia dapat diselesaikan dalam waktu relatif singkat.
Meski demikian, pemanfaatan teknologi pertanian tetap perlu disesuaikan dengan kondisi lahan, ketersediaan jasa mesin, serta kemampuan petani.
Bagi Kelompok Tani Jaya, pengalaman selama tiga musim menggunakan combine harvester menjadi dasar bahwa modernisasi pertanian dapat memberikan manfaat nyata.
Penghematan biaya hingga Rp300 ribu pada lahan 125 ubin menjadi salah satu keuntungan yang dirasakan secara langsung.
Sementara kecepatan panen dan kondisi gabah serta jerami setelah proses panen menjadi manfaat tambahan.
Langkah tersebut sekaligus menunjukkan bahwa modernisasi pertanian tidak selalu harus dimulai dengan investasi mesin oleh petani secara mandiri.
Pemanfaatan jasa combine harvester dapat menjadi pilihan bagi kelompok tani yang ingin mendapatkan manfaat teknologi tanpa harus menanggung seluruh biaya pengadaan mesin.
Ke depan, penggunaan teknologi semacam ini berpotensi semakin dibutuhkan untuk meningkatkan efisiensi usaha tani.
Bagi petani, efisiensi waktu dan biaya dapat menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga produktivitas sekaligus meningkatkan hasil usaha pertanian. (fij/stch/dda)














