Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode
QRIS Berpotensi Jadi Acuan ASEAN Kembangkan Fintech di Masa Depan
Pengembangan Vaksin Dengue Berbasis mRNA dan Potensinya Bagi Indonesia

Pengembangan Vaksin Dengue Berbasis mRNA dan Potensinya Bagi Indonesia

Perkembangan Vaksin mRNA DenguePerkembangan Vaksin mRNA Dengue

BANYUMASEKSPRES.ID, Indonesia tengah mengembangkan kandidat vaksin mRNA untuk demam berdarah dengue (DBD) yang berpotensi menjadi salah satu terobosan penting dalam pengembangan vaksin berbasis teknologi baru.

Jika berhasil melewati seluruh tahapan penelitian dan mendapatkan persetujuan regulator, vaksin tersebut berpeluang menjadi vaksin mRNA pertama di dunia yang ditujukan untuk penyakit dengue.

Informasi mengenai pengembangan tersebut disampaikan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pada pertengahan 2026.

Kepala BPOM RI Taruna Ikrar menyatakan regulator mendukung proses pengembangan vaksin hingga memasuki tahap uji klinis, dengan tetap memastikan aspek keamanan, efektivitas, dan mutu menjadi prioritas.

Pengembangan vaksin ini menjadi perhatian karena dengue masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang penting.

Hal ini khususnya di negara-negara tropis termasuk Indonesia. Kasus DBD juga dapat menimbulkan komplikasi serius apabila tidak ditangani dengan tepat.

Vaksin mRNA Dengue

Vaksin Dengue Berbasis Masih dalam Tahap Praklinis

Meski membawa potensi besar, kandidat vaksin mRNA dengue tersebut belum dapat digunakan masyarakat. Selain itu, simak terobosan ilmuwan terbaru pulihkan otak pasca stroke.

Saat ini, penelitian masih berada pada tahap praklinis, sehingga masih diperlukan berbagai pengujian sebelum kandidat vaksin dapat memasuki tahap berikutnya.

Pemimpin peneliti dari Etana Biotechnologies Indonesia, Beti Ernawati Dewi, menjelaskan bahwa hasil awal penelitian menunjukkan respons imun yang menjanjikan.

Dalam pengujian praklinis, kandidat vaksin dilaporkan menghasilkan titer antibodi penetral terhadap strain dengue yang beredar di Indonesia dengan hasil yang lebih baik dibandingkan beberapa vaksin komersial di dalam negeri.

Hasil tersebut menjadi dasar untuk melanjutkan penelitian ke tahap berikutnya. Tim peneliti berharap pengujian efikasi pada subjek di Indonesia dapat mulai dilakukan sesuai perkembangan penelitian.

Namun, hasil praklinis belum dapat menjadi dasar untuk menyatakan bahwa vaksin sudah efektif dan aman digunakan manusia.

Kandidat tersebut masih harus melewati rangkaian penelitian yang dirancang untuk menilai manfaat dan risikonya secara lebih menyeluruh.

BPOM Tekankan Keamanan dan Efektivitas

Sebagai lembaga regulator obat dan vaksin, BPOM mempunyai peran penting dalam setiap tahapan pengembangan produk kesehatan.

Taruna Ikrar menegaskan bahwa dukungan terhadap inovasi tidak berarti mengesampingkan standar keamanan.

Setiap vaksin yang nantinya akan digunakan secara luas harus memenuhi sejumlah persyaratan, termasuk keamanan, efektivitas, dan kualitas produksi.

Ketiga aspek tersebut menjadi bagian penting sebelum suatu vaksin memperoleh izin untuk digunakan masyarakat. Di sisi lain, BPOM ingin regulator dilibatkan sejak awal proses pengembangan.

Pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu peneliti memahami berbagai aspek regulasi tanpa menjadikan aturan sebagai hambatan bagi inovasi.

Dengan keterlibatan sejak fase awal, proses pengembangan diharapkan dapat berjalan lebih terarah dan sesuai dengan standar yang diperlukan ketika kandidat vaksin memasuki tahapan uji klinis.

Indonesia Dinilai Strategis untuk Riset Dengue

Pengembangan vaksin dengue juga memiliki arti penting bagi Indonesia karena penyakit tersebut telah lama menjadi salah satu tantangan kesehatan masyarakat.

Menurut Taruna, tingginya kasus dengue di Indonesia membuat tenaga medis dan peneliti dalam negeri memiliki pengalaman klinis yang berharga.

Kondisi tersebut dapat menjadi modal dalam pengembangan riset yang berkaitan dengan penyakit akibat infeksi virus dengue.

Ia juga menceritakan pengalamannya ketika menjalani pendidikan spesialis di University of California, Irvine.

Saat itu, Taruna pernah menangani pasien yang mengalami infeksi dengue setelah melakukan perjalanan dari Asia Tenggara.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa penanganan dengue hingga kini masih banyak berfokus pada terapi suportif.

Pasien perlu mendapatkan perhatian terhadap kondisi demam dan risiko dehidrasi serta pemantauan untuk mencegah komplikasi.

Karena itu, hadirnya inovasi vaksin dengan teknologi mRNA diharapkan dapat memberikan pilihan baru dalam upaya pencegahan penyakit dengue.

Berpotensi Menjadi Terobosan Teknologi Vaksin

Kandidat vaksin mRNA dengue ini dikembangkan melalui kolaborasi sejumlah pihak, termasuk Tsinghua University, Universitas Indonesia, dan Etana Biotechnologies Indonesia.

Teknologi mRNA sebelumnya telah mendapat perhatian besar dalam pengembangan vaksin penyakit menular.

Pendekatan ini bekerja dengan memanfaatkan informasi genetik tertentu membantu tubuh membentuk respons imun terhadap target penyakit. Meski demikian, perjalanan kandidat vaksin dengue tersebut masih panjang.

Setelah tahap praklinis, diperlukan pengujian pada manusia melalui uji klinis dan evaluasi lanjutan sebelum dapat dipertimbangkan untuk penggunaan yang lebih luas.

Karena itu, klaim mengenai kandidat tersebut sebagai vaksin mRNA dengue pertama di dunia masih bersifat potensi dan belum merupakan status produk yang telah dipasarkan.

Jika seluruh tahapan penelitian nantinya menunjukkan hasil positif dan memenuhi persyaratan regulator, pengembangan ini dapat menjadi pencapaian penting bagi ekosistem riset kesehatan Indonesia.

Tidak hanya berpotensi memperkuat kemampuan dalam negeri mengembangkan teknologi vaksin, hasilnya juga dapat memberikan kontribusi terhadap upaya pencegahan dengue secara global. (*/nds)

Berita Sebelumnya
Prediksi Perkembangan QRIS Sebagai Fintech

QRIS Berpotensi Jadi Acuan ASEAN Kembangkan Fintech di Masa Depan