Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode
Sekolah Transisi SNT II Banyumas Beroperasi, AC dan Pasokan Air Masih Jadi Perhatian
Polres Kebumen Luncurkan Program Peduli CTEV, Dorong Deteksi Dini Kaki Pengkor pada Anak

Polres Kebumen Luncurkan Program Peduli CTEV, Dorong Deteksi Dini Kaki Pengkor pada Anak

Polisi Libatkan Personel Cegah CTEVPolisi Libatkan Personel Cegah CTEV
PELUNCURAN: Polres Kebumen meluncurkan program Polda Jawa Tengah Peduli Congenital Talipes Equinovarus (CTEV) atau deteksi dini kaki pengkor

BANYUMASEKSPRES.ID, KEBUMEN – Kepolisian Daerah Jawa Tengah meluncurkan program Peduli Congenital Talipes Equinovarus (CTEV) atau deteksi dini kaki pengkor pada bayi dan anak.

Program tersebut turut dilaksanakan di Polres Kebumen sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya mengenali kelainan kaki sejak usia dini.

Peluncuran program digelar di Gedung Tribrata Polres Kebumen pada Jumat (21/8/2026).

Dalam pelaksanaannya, Bhabinkamtibmas memiliki peran penting sebagai penghubung antara keluarga, tenaga kesehatan, pemerintah daerah, kader kesehatan, hingga fasilitas pelayanan kesehatan.

Kapolres Kebumen AKBP I Putu Bagus Krisna Purnama mengatakan, persoalan CTEV tidak dapat ditangani oleh satu pihak saja.

Menurutnya, keterlambatan penanganan salah satunya dapat terjadi karena keluarga belum memahami kondisi kaki anak atau tidak mengetahui akses pelayanan kesehatan yang tersedia.

“Rekan-rekan Bhabinkamtibmas dapat menyampaikan informasi kepada masyarakat secara humanis, mendorong keluarga agar tidak mengabaikan kondisi kaki bermasalah pada anak, serta membantu menghubungkan masyarakat dengan pihak kesehatan atau layanan terkait,” ujar AKBP Putu, Jumat (21/8).

CTEV atau clubfoot merupakan kelainan bawaan yang menyebabkan posisi kaki bayi atau anak mengarah ke bawah dan ke dalam.

Kondisi tersebut perlu mendapatkan perhatian serta penanganan sedini mungkin.

Mengacu pada informasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang disampaikan dalam materi program, penanganan yang tepat dapat membantu lebih dari 95 persen anak kecil dengan clubfoot mencapai mobilitas penuh.

Sebaliknya, CTEV yang tidak mendapatkan penanganan dapat menimbulkan gangguan berjalan, rasa nyeri, hingga risiko disabilitas dalam jangka panjang.

Persoalannya, kondisi kaki yang tampak tidak normal pada bayi terkadang belum langsung dikenali oleh orang tua.

Sebagian keluarga menganggap perubahan bentuk kaki tersebut berkaitan dengan posisi bayi selama berada di dalam kandungan dan akan kembali normal seiring pertumbuhan.

Ada pula keluarga yang baru mencari pertolongan ketika anak mulai berdiri atau berjalan.

Padahal, semakin dini kondisi tersebut dikenali dan ditangani oleh tenaga kesehatan, semakin besar peluang anak mendapatkan penanganan yang sesuai.

Karena itu, program Peduli CTEV tidak hanya berfokus pada penyampaian informasi, tetapi juga mendorong terbentuknya jalur komunikasi yang lebih mudah antara keluarga dan layanan kesehatan.

AKBP Putu menjelaskan, Bhabinkamtibmas diharapkan dapat berperan aktif ketika menemukan informasi mengenai anak yang diduga memiliki masalah pada posisi atau bentuk kaki.

Peran tersebut dilakukan dengan pendekatan persuasif dan humanis.

Bhabinkamtibmas dapat memberikan edukasi kepada keluarga sekaligus membantu menghubungkan mereka dengan tenaga kesehatan atau fasilitas pelayanan yang sesuai.

“Penanganan kaki bermasalah tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Diperlukan sinergi antara Polri, tenaga kesehatan, pemerintah daerah, kader kesehatan, tokoh masyarakat, serta keluarga,” katanya.

Menurutnya, kolaborasi lintas sektor menjadi bagian penting dalam memastikan masyarakat memperoleh informasi dan akses layanan yang dibutuhkan.

Program tersebut juga diharapkan dapat memperkuat upaya deteksi dini di tingkat masyarakat.

Dengan keterlibatan Bhabinkamtibmas yang berada langsung di tengah warga, informasi mengenai kondisi kesehatan anak diharapkan dapat lebih cepat diteruskan kepada pihak yang memiliki kewenangan memberikan penanganan medis.

Pengenalan CTEV kepada masyarakat menjadi salah satu bagian penting dalam program tersebut.

Orang tua maupun keluarga diharapkan lebih memperhatikan kondisi fisik bayi dan anak, termasuk apabila terdapat bentuk atau posisi kaki yang tampak berbeda.

Namun, masyarakat juga perlu memahami bahwa dugaan CTEV sebaiknya tidak disimpulkan sendiri.

Pemeriksaan dan diagnosis tetap perlu dilakukan oleh tenaga kesehatan agar kondisi anak dapat diketahui secara tepat dan mendapatkan penanganan sesuai kebutuhannya.

Melalui program Peduli CTEV, Polres Kebumen bersama berbagai pihak berupaya membangun kesadaran bahwa persoalan kaki pengkor bukan kondisi yang seharusnya diabaikan.

Deteksi lebih awal dapat membuka peluang bagi anak untuk memperoleh penanganan yang tepat dan mendukung aktivitas mereka di kemudian hari.

Selain meningkatkan pengetahuan keluarga, keterlibatan berbagai unsur di masyarakat juga diharapkan dapat mengurangi hambatan dalam memperoleh layanan kesehatan.

Bhabinkamtibmas menjadi salah satu mata rantai yang membantu mempertemukan masyarakat dengan tenaga kesehatan, pemerintah daerah, kader kesehatan, dan fasilitas pelayanan.

Program tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kepedulian terhadap kesehatan anak di Kabupaten Kebumen.

Dengan sinergi antara kepolisian, tenaga medis, pemerintah, kader, keluarga, dan masyarakat, deteksi dini CTEV diharapkan dapat dilakukan lebih luas sehingga anak yang membutuhkan penanganan dapat segera memperoleh akses layanan yang sesuai. (cah/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Air Bersih Jadi Catatan SNT II

Sekolah Transisi SNT II Banyumas Beroperasi, AC dan Pasokan Air Masih Jadi Perhatian