BANYUMASEKSPRES.ID, PURWOKERTO – Di Purwokerto Barat, tepatnya di Kelurahan Pasirmuncang, warga RT 07 RW 01 kembali merasa khawatir.
Masalah yang mereka hadapi bukanlah hal baru, melainkan rembesan air dari selokan selebar tiga meter yang terus meresap ke permukiman hingga masuk ke dalam rumah-rumah.
Kebocoran ini diduga berasal dari pondasi saluran irigasi yang bermasalah. Akibat kebocoran tersebut, tanah pun ambles dan memudahkan air untuk merembes lebih jauh ke pemukiman.
Siti Astuti, seorang warga setempat berusia 69 tahun, mengungkapkan keresahannya.
“Hampir tiga tahun kami panik kalau hujan,” katanya seraya mengingat kejadian pada November 2024 lalu ketika tembok belakang rumahnya sampai jebol.
Sejak saat itu, Siti sudah beberapa kali melaporkan masalah ini kepada pihak irigasi dan Dinas Pekerjaan Umum (DPU). Namun, hingga kini belum ada penanganan permanen yang dilakukan.
Masalah ini memuncak setiap kali hujan deras turun. Bukan hanya rembesan air yang menjadi ancaman, tetapi juga luapan air yang masuk ke rumah-rumah warga.
“Sudah pernah ditangani, tapi tidak bertahan lama. Rembes lagi,” keluh Siti menyoroti ketidakpuasan terhadap penanganan sementara yang selama ini dilakukan.
Upaya sementara seperti menempatkan karung pasir pernah diterapkan sebagai solusi darurat. Sayangnya, cara ini terbukti tidak efektif karena rembesan tetap muncul setiap kali hujan deras mengguyur kawasan tersebut.
Toni, warga lain berusia sama dengan Siti yang juga terkena dampak masalah ini, berharap ada solusi lebih baik.
“Saya harap jangan cuma ditambal pakai karung. Harus diperbaiki permanen,” ujarnya penuh harap.
Kusmiarso, perangkat Kelurahan Pasirmuncang, membenarkan keluhan warga terkait masalah rembesan air yang makin sering terjadi setelah pembangunan kolam retensi di daerah tersebut.
“Setelah dibangun kolam retensi, kawasan jadi makin rendah. Kadang sampai banjir,” jelas Kusmiarso mengenai kondisi terkini di wilayah itu.
Menurut Kusmiarso, pemerintah kelurahan masih belum dapat bertindak lebih jauh karena keterbatasan anggaran yang dimiliki saat ini.
Dengan nada pasrah ia mengatakan, “Untuk saat ini kami hanya bisa menunggu.”
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa meskipun ada niat baik dari pihak kelurahan untuk menyelesaikan permasalahan ini, keterbatasan sumber daya menjadi penghalang utama.
Warga setempat sangat berharap adanya solusi jangka panjang agar rembesan air tidak terus meneror kehidupan mereka setiap musim hujan tiba. Kekhawatiran akan potensi banjir dan longsor semakin meningkat seiring dengan datangnya musim penghujan berikutnya.
Ketidakpastian akan masa depan membuat banyak warga merasa was-was setiap kali mendengar suara gemericik air hujan di atap rumah mereka.
Ancaman bencana alam kecil seperti banjir dan tanah longsor dapat berkembang menjadi lebih serius jika tidak segera ditangani dengan langkah-langkah konkret dan berkelanjutan oleh pihak terkait.
Penting bagi pemerintah daerah maupun pusat untuk cepat tanggap dalam situasi seperti ini agar keselamatan dan kenyamanan hidup masyarakat terjamin dengan baik. Meskipun demikian, tantangan anggaran sering kali menjadi kendala terbesar dalam upaya penyelesaian masalah infrastruktur seperti saluran irigasi bocor di Kelurahan Pasirmuncang ini. (zet/stch)
















