BANYUMASEKSPRES.ID, PURWOKERTO – Penutupan jalan untuk keperluan hajatan kembali memicu keluhan di kalangan warga dan pengemudi ojek online. Kali ini, peristiwa tersebut terjadi di Jalan Jaelani, Karangwangkal, Kecamatan Purwokerto Utara. Sejak Sabtu (14/6) hingga Senin malam (16/6), jalan ini ditutup total, menyebabkan kendaraan tak bisa melintas.
Kondisi tersebut membuat para pengguna jalan harus mencari jalur alternatif yang tidak lebih nyaman.
“Dialihkan ke Jalan Merbabu, tapi jalannya sempit dan rusak. Kalau mobil berpapasan, tambah motor yang buru-buru, ya macet,” ujar Ragil, seorang warga setempat.
Ragil menjelaskan bahwa penutupan jalan seperti ini tidak jarang terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Jalan Jaelani yang merupakan jalur penghubung antara Karangwangkal dan Arcawinangun menjadi terganggu akibat hal tersebut.
“Biasanya cuma 2–3 hari dan tidak total. Tapi sekarang terlalu sering. Masyarakat mungkin mulai kesal,” katanya lagi dengan nada prihatin. Penutupan jalan yang berkali-kali ini menimbulkan frustrasi di kalangan pengguna jalan.
Menurut Ragil, izin dari kelurahan biasanya hanya diberikan untuk satu hari dan tetap menyisakan akses bagi sepeda motor agar dapat melintas. Namun kali ini seluruh badan jalan ditutup tanpa tersisa ruang sedikit pun untuk kendaraan roda dua.
Di era digital saat ini, keluhan tentang penutupan jalan tersebut juga ramai diperbincangkan di media sosial. Salah satunya muncul dari unggahan akun Mie Ngapak Purwokerto di grup Facebook Banyumas Dalam Info pada Selasa (17/6).
Postingan itu mendapat perhatian luas dengan 229 suka dan 248 komentar hingga Rabu siang, menunjukkan betapa besar dampak sosial dari penutupan jalan tersebut.
Banyak kritik dilontarkan karena penutupan dianggap lebih mementingkan kepentingan pribadi daripada kepentingan umum.
Tak hanya warga sekitar yang merasa dirugikan oleh kondisi ini; para pengemudi ojek online pun turut mengeluhkan situasi yang menyulitkan pekerjaan mereka sehari-hari.
Hendro, salah seorang pengemudi ojek online, mengaku kesulitan menjalankan tugasnya karena penutupan jalan.
“Kalau jalur alternatif rusak dan sempit, jadi lama. Saya rugi waktu dan jarak tempuh,” keluhnya dengan nada kecewa saat berbicara mengenai situasi tersebut.
Bagi pengemudi ojek online seperti Hendro, efisiensi waktu sangatlah penting demi mendapatkan penghasilan yang layak setiap harinya.
Hendro berharap agar masyarakat bisa lebih bijaksana ketika menyelenggarakan acara hajatan yang membutuhkan penutupan jalan secara total. Ia meminta penyelenggara acara mempertimbangkan dampaknya terhadap aksesibilitas publik.
“Setidaknya sisakan ruang buat motor lewat. Jangan tutup total,” ujarnya menambahkan saran kepada masyarakat setempat mengenai pentingnya menjaga keseimbangan antara kebutuhan pribadi dan kepentingan umum.
Secara keseluruhan, kejadian penutupan jalan untuk hajatan seperti ini memang sudah sering kali terjadi di berbagai daerah lain pula.
Namun demikian perlu adanya kebijakan atau aturan tegas dari pemerintah setempat agar hal serupa tidak terulang kembali tanpa pertimbangan matang serta komunikasi efektif dengan semua pihak terkait demi menjaga ketertiban lalu lintas maupun kenyamanan bersama dalam bermasyarakat.
Selain itu koordinasi antara pihak kelurahan maupun panitia penyelenggara hajatan sangat dibutuhkan guna memastikan segala perizinan administratif telah terpenuhi sebelum pelaksanaan kegiatan berlangsung sehingga potensi konflik antarwarga dapat diminimalkan sedini mungkin melalui dialog terbuka secara konstruktif. (dms/stch)
















