BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Warga Banjarnegara dikejutkan oleh sebuah insiden yang menimbulkan berbagai spekulasi, setelah mobil pribadi Kepala Desa Purwasaba, Hoho Alkaf, terbakar di garasi rumahnya.
Peristiwa yang terjadi pada Kamis dini hari, tepatnya pada tanggal 23 April, diduga kuat merupakan aksi teror yang dilakukan oleh orang tidak dikenal.
Kejadian ini dengan cepat menyebar melalui media sosial, seiring dengan beredarnya video dan unggahan terkait insiden tersebut.
Ketertarikan publik pun meningkat terhadap peristiwa yang menimpa salah satu kepala desa di daerah tersebut.
Dalam penjelasannya, Hoho Alkaf mengungkapkan bahwa kebakaran terjadi menjelang waktu subuh, sekitar pukul 04.10 WIB.
Sebelum kejadian itu, ia sempat memantau kondisi lingkungan sekitar menggunakan rekaman CCTV.
“Sekitar pukul 04.00 lewat sedikit, saya sempat lihat CCTV. Tidak lama terdengar suara, lalu api sudah membesar,” jelas Hoho dalam unggahan di media sosialnya.
Pada malam sebelum insiden tersebut terjadi, Hoho mengaku belum tidur karena masih berkumpul bersama beberapa warga hingga larut malam.
Hal ini membuatnya tetap terjaga saat melihat api mulai muncul dari area garasi rumahnya.
Kobaran api tiba-tiba muncul dari area parkir dan langsung mengenai mobil sedan putih miliknya yang terparkir di sana.
Api dengan cepat membesar dan menyebabkan kerusakan parah pada kendaraan tersebut.
Melihat situasi yang berbahaya ini, dugaan adanya unsur kesengajaan pun segera ditindaklanjuti oleh aparat kepolisian setempat.
Personel dari Polsek Mandiraja bersama Satreskrim Polres Banjarnegara langsung mendatangi lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).
Kapolres Banjarnegara AKBP Mariska Fendi Susanto melalui Kasat Reskrim Polres Banjarnegara Sugeng Tugino menyatakan bahwa sejumlah barang bukti telah berhasil diamankan dari lokasi kejadian.
Barang bukti tersebut diduga berkaitan langsung dengan peristiwa kebakaran yang menimpa mobil Kepala Desa Purwasaba.
“Dari hasil olah TKP, kami menemukan beberapa barang bukti yang diduga berkaitan dengan peristiwa ini, termasuk potongan kayu dibalut kain dan wadah plastik yang diduga menyimpan cairan mudah terbakar,” ungkap Sugeng.
Dalam upaya mengungkap lebih jauh tentang apa yang sebenarnya terjadi di lokasi kejadian, polisi juga mengamankan perangkat CCTV yang terpasang di rumah korban.
Namun sayangnya, saat dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, diketahui bahwa kamera pengawas tersebut dalam kondisi tidak aktif pada saat kejadian berlangsung.
“CCTV di lokasi ternyata mati, itu juga sedang kami dalami,” ujarnya menambahkan.
Untuk memastikan pelaku serta motif di balik insiden kebakaran ini, penyidik bekerja sama dengan tim Laboratorium Forensik dan Inafis dari Polda Jawa Tengah.
Proses penyelidikan dilakukan secara menyeluruh untuk memastikan penyebab pasti kebakaran tersebut.
Hingga kini, pihak kepolisian belum dapat memberikan kesimpulan apakah peristiwa ini murni aksi teror atau sabotase yang terkait dengan persoalan lain.
Kasus ini menjadi perhatian luas karena menyasar seorang kepala desa yang dikenal aktif dan vokal dalam memperjuangkan kepentingan publik di wilayahnya.
Hoho Alkaf bukanlah sosok biasa di komunitasnya; ia sering terlibat dalam berbagai kegiatan sosial dan pembangunan desa serta memiliki hubungan erat dengan masyarakat setempat.
Teror terhadap pejabat publik seperti kepala desa bukanlah hal baru di Indonesia.
Namun setiap insiden tentunya meninggalkan dampak psikologis bagi masyarakat setempat dan menciptakan suasana ketidakpastian serta ketegangan dalam komunitas yang seharusnya damai dan harmonis.
Sejarah menunjukkan bahwa serangan terhadap pemimpin lokal sering kali berhubungan dengan konflik kepentingan atau ketidakpuasan terkait pengelolaan sumber daya desa maupun kebijakan publik lainnya.
Dalam konteks ini, penting bagi aparat penegak hukum untuk tidak hanya fokus pada pengungkapan pelaku tetapi juga menggali lebih dalam faktor-faktor yang mungkin menjadi latar belakang aksi tersebut.
Komunitas Purwasaba kini berada dalam kondisi waspada pasca-insiden ini. Warga setempat merasa perlu untuk meningkatkan kewaspadaan mereka terhadap potensi ancaman serupa di masa mendatang.
Beberapa warga bahkan mulai membahas perlunya sistem keamanan tambahan seperti patroli malam atau pemasangan lebih banyak kamera pengawas untuk menjaga keselamatan lingkungan mereka.
Hoho sendiri berharap agar situasi ini cepat terungkap agar tidak ada lagi rasa takut yang melanda masyarakat Purwasaba akibat tindakan kriminal semacam itu.
“Saya ingin semua kembali normal,” harapnya dalam sebuah sesi wawancara singkat setelah insiden tersebut.
Di sisi lain, dukungan dari pemerintah daerah sangat diperlukan untuk membantu masyarakat menghadapi rasa ketidakamanan akibat peristiwa ini.
Program-program pemantapan keamanan serta peningkatan kerjasama antara aparat keamanan dan masyarakat bisa menjadi langkah awal menuju pemulihan kepercayaan warga terhadap lingkungan mereka. (jud/stch/dda)
















