Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Saham Energi Semakin Menarik Saat IHSG Menguat, Ini Prospek Emitennya

Indeks harga saham gabungan (ihsg) dibuka menguat pada kamis (2472025) pagi, melanjutkan tren positif usai rebound perdagangan kemarinIndeks harga saham gabungan (ihsg) dibuka menguat pada kamis (2472025) pagi, melanjutkan tren positif usai rebound perdagangan kemarin
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat pada Kamis (24/7/2025) pagi, melanjutkan tren positif usai rebound perdagangan kemarin

BANYUMASEKSPRES.ID, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat pada Kamis (24/7/2025) pagi, melanjutkan tren positif usai rebound perdagangan kemarin. Sentimen positif pasar didorong oleh meredanya ketegangan tarif Amerika Serikat dan kesepakatan dagang dengan Jepang, yang ikut mengangkat performa sejumlah saham energi.

Saham dari sektor energi menjadi sorotan, termasuk PT TBS Toba Energi Utama Tbk (TOBA), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), dan PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC). Ketiganya mencatatkan penguatan sejak awal perdagangan dan menjadi incaran investor pada hari ini.

TOBA mengalami kenaikan sejak awal perdagangan ke posisi Rp 1.065 per saham. Per pukul 10.05 WIB, TOBA naik 0,47% dengan volume transaksi mencapai 78,55 juta lembar saham dan nilai transaksi senilai Rp 83,51 miliar.

Sementara itu, saham milik konglomerat Prajogo Pangestu yakni BRPT, ikut menanjak hingga 4,52% ke harga Rp 2.310 per lembar. Volume transaksi BRPT juga tergolong besar di awal sesi, yakni 70,80 juta lembar saham dengan nilai mencapai Rp 161,74 miliar.

MEDC turut mengalami penguatan 0,79% di awal perdagangan. Saham Medco berada di level Rp 1.280 per lembar dengan volume transaksi mencapai 6,58 juta lembar saham dan nilai sebesar Rp 8,44 miliar.

Merujuk analisis dari Phintraco Sekuritas, ketidakpastian ekonomi global mulai mereda seiring kesepakatan dagang antara Amerika Serikat dan Bank of Japan (BoJ). Hal ini meningkatkan peluang Jepang mencapai target inflasi 2% secara konsisten dan membuka ruang bagi kenaikan suku bunga selanjutnya.

IHSG pada Rabu lalu tercatat ditutup menguat di level 7.469,23 atau naik 1,69% setelah sempat mengalami tekanan profit taking sehari sebelumnya.

“IHSG rebound didorong oleh kesepakatan perdagangan antara Indonesia dan Amerika. Dengan sentimen ini, indeks berpotensi melanjutkan penguatan dan menguji level psikologis 7.500,” jelas Peneliti Phintraco Sekuritas, Ratna Lim.

Pada pembukaan Kamis pagi, IHSG dibuka di posisi 7.485,08. Sekitar pukul 10.00 WIB, indeks melonjak 89,13 poin atau 1,19% ke posisi 7.558,36, bahkan sempat menyentuh level tertinggi di 7.568,22 dan terendah di 7.478,36.

“Selain itu, penguatan bursa Asia setelah kesepakatan dagang AS-Jepang menjadi katalis positif. Meredanya perang dagang membawa harapan penurunan suku bunga The Fed dan mengurangi tekanan inflasi di AS,” lanjut Ratna, Kamis (24/7/2025).

Terkait strategi bisnis, TBS Energi Utama baru saja menyelesaikan divestasi dua pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), yakni PLTU Minahasa Utara berkapasitas 100 MW dan PLTU Gorontalo.

Dengan divestasi tersebut, TBS berhasil menurunkan emisi karbon hingga 45% atau sekitar 777 ribu ton CO2e per tahun. Strategi ini sejalan dengan roadmap TBS 2030 untuk fokus pada pengembangan energi terbarukan, pengelolaan limbah, dan mobilitas listrik.

Namun, TOBA mencatat penurunan pendapatan pada kuartal I 2025 sebesar 21% menjadi US$ 392,8 juta (sekitar Rp 6,44 triliun) dari US$ 496 juta pada periode sama tahun sebelumnya.

“Penurunan pendapatan terjadi akibat fluktuasi harga komoditas batu bara,” ungkap Direktur TBS Energi Utama, Juli Oktarina.

Namun ia menambahkan bahwa EBITDA perusahaan justru meningkat 7% menjadi US$ 109,2 juta dari sebelumnya US$ 102,5 juta. Di sisi lain, ekuitas tercatat turun 17% menjadi US$ 359,6 juta dari US$ 432,9 juta, sementara kas dan setara kas meningkat 45% menjadi US$ 126,1 juta. Total aset TBS naik 11% menjadi US$ 1,04 miliar.

“Perseroan masih mencatat kerugian bersih akibat divestasi PLTU. Hal ini juga memengaruhi pencapaian target pendapatan,” terang Juli.

Di sisi lain, BRPT melalui anak usahanya PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), telah melakukan ekspansi besar dengan mengakuisisi kilang dan pabrik milik Shell di Bukom dan Jurong Island, Singapura.

Fasilitas tersebut memiliki kapasitas kilang 237.000 barel per hari dan pabrik steam cracker 1 juta ton per tahun. Akuisisi ini dilakukan oleh cAPGC Pte. Ltd, perusahaan patungan TPIA.

BRPT juga mencatatkan aksi korporasi lain melalui PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) yang melakukan IPO pada 9 Juli 2025, dengan perolehan dana mencapai Rp 2,37 triliun.

Selain itu, BRPT melalui anak usaha PT Barito Renewables Energy (BREN), menjalankan lima proyek pengembangan pembangkit listrik panas bumi bersama Star Energy Geothermal, dengan total investasi sebesar US$ 365 juta.

Sementara Medco Energi melanjutkan ekspansi globalnya dengan mengakuisisi Fortuna International senilai US$ 425 juta secara bertahap, yang ditargetkan rampung kuartal III tahun ini. Akuisisi ini memberikan Medco hak tak langsung atas 24% Production Sharing Contract (PSC).

Dalam pengembangan energi terbarukan, Medco juga telah meresmikan dua proyek besar: Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Ijen di Bondowoso berkapasitas 35 MW yang mampu menyuplai listrik ke 85.000 rumah tangga.

Serta Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Bali Timur berkapasitas 25 MWp yang mampu memenuhi kebutuhan 42.000 rumah tangga. Kedua proyek ini diresmikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto pada akhir Juni lalu.

PLTP Ijen ditargetkan mengurangi emisi hingga 230.000 ton CO2 per tahun, sedangkan PLTS Bali Timur menekan emisi lebih dari 44.000 ton CO2 per tahun. Dari sisi teknikal, berikut beberapa prospek emiten:

  1. TOBA: Buy on Support. Rebound terlihat pasca uji support psikologis 1.000. Selama bertahan di atas 1.000, peluang kenaikan tetap terbuka. Target price: Rp 1.100, Rp 1.155, dan Rp 1.300. Cut loss bila turun di bawah Rp 1.000.
  2. MEDC: Buy on Support. Pola candle hammer dan breakout MA20 mendukung potensi rebound. Target price: Rp 1.325 dan Rp 1.400. Cut loss di bawah Rp 1.230.
  3. MEDC: Accumulative Buy di kisaran Rp 1.225–1.275. Target price: Rp 1.290 (+1,57%), Rp 1.340 (+5,51%), dan Rp 1.630 (+28,35%).
  4. BRPT: Spec Buy selama bertahan di atas support Rp 2.160. Jika tidak menembus ke bawah Rp 2.110, potensi naik ke Rp 2.260 hingga Rp 2.310 dalam jangka pendek tetap ada. (WAN)
Berita Sebelumnya
Oikn ajukan perubahan rencana induk

Otorita Ibu Kota Nusantara Ajukan Perubahan Rencana Induk Pembangunan IKN

Berita Selanjutnya
Pemerintah meningkatkan kuota kpr subsidi menjadi 350 ribu unit rumah untuk mbr

Kuota KPR Subsidi 2025 Naik Jadi 350 Ribu Unit, Anggaran FLPP Capai Rp35,2 Triliun