BANYUMASEKSPRES.ID, TIMIKA – Satuan Tugas (Satgas) TNI di bawah Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) III mengklaim berhasil melumpuhkan pimpinan beserta puluhan anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM) dalam rangkaian operasi keamanan yang berlangsung selama Semester I Tahun 2026.
Selain melakukan tindakan terhadap kelompok bersenjata, TNI juga mengamankan berbagai barang bukti berupa puluhan senjata api, ratusan butir amunisi, senjata tajam, hingga ganja yang diduga berada dalam penguasaan kelompok tersebut.
Panglima Kogabwilhan III, Letjen TNI Lucky Avianto, mengatakan seluruh tindakan yang dilakukan prajurit di lapangan merupakan langkah terakhir ketika menghadapi situasi yang mengancam keselamatan personel maupun masyarakat.
“Tindakan tegas dan terukur dilakukan secara profesional berdasarkan rules of engagement (ROE) dengan tetap menjunjung tinggi hukum dan hak asasi manusia,” ujar Lucky saat memaparkan laporan kinerja Semester I 2026 di Markas Kogabwilhan III, Timika, Senin (6/7/2026).
Menurut Lucky, keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama dalam setiap pelaksanaan operasi yang dilakukan oleh prajurit TNI di Papua.
Ia menegaskan bahwa setiap personel berpedoman pada prinsip salus populi suprema lex esto, yang berarti keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi.
“Prinsip tersebut menjadi pedoman utama bagi prajurit dalam menghadapi situasi genting di lapangan,” katanya.
Dalam operasi tersebut, TNI menyita puluhan senjata api beserta ratusan butir amunisi yang diduga digunakan kelompok bersenjata.
Menurut Lucky, penyitaan senjata menjadi langkah penting untuk mencegah potensi serangan lanjutan terhadap masyarakat maupun aparat keamanan.
Ia menilai keberadaan senjata api di tangan kelompok bersenjata berpotensi meningkatkan ancaman keamanan di wilayah Papua.
Selain senjata api, aparat juga mengamankan berbagai jenis senjata lainnya serta ganja yang diduga berkaitan dengan aktivitas kelompok tersebut.
Lucky turut menyinggung insiden tewasnya Kapten Nicholas, pilot PT AMA, yang disebut menjadi salah satu korban aksi kelompok bersenjata di Papua.
Selain operasi di lapangan, Kogabwilhan III juga melaporkan perkembangan penegakan hukum terhadap anggota kelompok bersenjata.
Sebanyak 54 anggota OPM disebut telah berhasil ditangkap dan kemudian diserahkan kepada aparat penegak hukum untuk menjalani proses sesuai ketentuan yang berlaku.
Sementara itu, TNI juga mengklaim terdapat 59 anggota OPM aktif yang memutuskan kembali ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Menurut Lucky, mereka memilih meninggalkan kelompok bersenjata karena tidak lagi ingin terlibat dalam aksi kekerasan yang selama ini terjadi di Papua.
Selain operasi terhadap kelompok bersenjata, Kogabwilhan III juga melaksanakan operasi terpadu bersama berbagai instansi.
Operasi tersebut melibatkan Bea Cukai, Aviation Security (Avsec), pemerintah daerah, serta sejumlah lembaga terkait.
Fokus operasi mencakup pencegahan penyelundupan senjata api, amunisi, narkotika, satwa dilindungi, bahan bakar minyak (BBM) ilegal, hingga minuman keras ilegal.
Menurut Lucky, berbagai barang ilegal tersebut berpotensi mengganggu stabilitas keamanan di wilayah Papua apabila berhasil masuk ke tangan pihak yang tidak bertanggung jawab.
Ia menambahkan, TNI dari matra darat, laut, dan udara masih terus memperkuat pengawasan untuk memutus jalur distribusi senjata menuju kelompok bersenjata.
Dalam paparannya, Lucky juga mengungkapkan bahwa beberapa senjata api otomatis yang berhasil diamankan memiliki spesifikasi yang disebut belum pernah digunakan oleh TNI maupun aparat penegak hukum lainnya di Indonesia.
Temuan tersebut akan menjadi bagian dari proses penyelidikan lebih lanjut guna mengetahui asal-usul maupun jalur distribusi persenjataan tersebut.
Kogabwilhan III menegaskan akan terus melanjutkan operasi sesuai prosedur yang berlaku dengan mengedepankan profesionalisme, aturan hukum, serta perlindungan terhadap keselamatan masyarakat sebagai prioritas utama dalam menjaga stabilitas keamanan di Papua. (*/stch/dda)
















