Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode
Sensus Ekonomi 2026 Purbalingga Capai 69,22 Persen, BPS Ajak Pelaku Usaha Terima Petugas
UEFA Ancam Boikot FIFA, 90 Federasi Tolak Rencana Penjualan Saham Piala Dunia

UEFA Ancam Boikot FIFA, 90 Federasi Tolak Rencana Penjualan Saham Piala Dunia

Eropa Ancam Boikot Piala DuniaEropa Ancam Boikot Piala Dunia
Presiden FIFA, Gianni Infantino

BANYUMASEKSPRES.ID, Rencana Presiden FIFA Gianni Infantino membentuk perusahaan komersial baru dan membuka peluang penjualan saham minoritas Piala Dunia kepada investor swasta memicu gelombang penolakan dari berbagai konfederasi sepak bola dunia.

Hingga kini, sedikitnya 90 dari 211 asosiasi anggota FIFA telah menyatakan penolakan terhadap proposal tersebut.

Bahkan, UEFA mengancam akan memboikot seluruh kompetisi FIFA apabila rencana tersebut tetap dipaksakan.

Penolakan terhadap proposal pembentukan FIFA Forward Enterprise (FFE) menjadi salah satu isu terbesar dalam tata kelola sepak bola internasional saat ini.

FFE dirancang sebagai anak perusahaan FIFA yang akan mengelola berbagai hak komersial turnamen internasional, termasuk hak siar, sponsor, lisensi, hingga proyek bisnis baru yang berkaitan dengan Piala Dunia.

Melalui skema tersebut, FIFA berencana melepas sebagian saham minoritas kepada investor swasta dengan nilai mencapai sekitar US$4,2 miliar atau setara Rp74,9 triliun.

Dana tersebut disebut akan digunakan untuk memperbesar investasi FIFA dalam pengembangan sepak bola dunia melalui program FIFA Forward.

Namun, rencana tersebut langsung mendapat penolakan keras dari UEFA. Bersama 55 asosiasi anggotanya, konfederasi sepak bola Eropa itu secara bulat menolak usulan tersebut dalam rapat darurat.

Dalam pernyataan resminya, UEFA menegaskan bahwa Piala Dunia merupakan aset olahraga yang memiliki nilai sejarah dan tidak seharusnya diperlakukan sebagai komoditas investasi bagi pihak swasta.

“UEFA dan 55 asosiasi anggotanya bersatu. Kami dengan suara bulat dan tanpa ragu menolak proposal FIFA untuk mengalihkan kepemilikan Piala Dunia dan kompetisi FIFA lainnya kepada investor swasta,” tulis UEFA.

Menurut UEFA, masuknya investor swasta berpotensi mengubah arah pengambilan keputusan di sepak bola internasional.

Mereka khawatir keputusan strategis mengenai kalender pertandingan, format kompetisi, hingga kebijakan olahraga nantinya lebih mengutamakan kepentingan pemegang saham dibandingkan perkembangan sepak bola itu sendiri.

“Keputusan soal kalender internasional, format kompetisi, dan masa depan sepak bola tidak lagi didorong oleh semangat terbaik untuk olahraga sepak bola, tetapi oleh yang terbaik bagi pemegang saham.”

Tidak hanya menyampaikan penolakan, UEFA juga memberikan peringatan keras kepada FIFA.

Mereka menyatakan bahwa tim nasional dari seluruh anggota UEFA tidak akan mengikuti kompetisi FIFA selama proposal tersebut masih diberlakukan.

“Tidak ada tim nasional UEFA yang akan berpartisipasi dalam kompetisi FIFA selama proposal ini masih berlaku, kecuali proposal ini telah dibatalkan sepenuhnya,” tegas UEFA.

Gelombang penolakan kemudian meluas ke kawasan Amerika Utara, Amerika Tengah, dan Karibia.

Konfederasi CONCACAF bersama 41 asosiasi anggotanya turut menyatakan penolakan terhadap rencana penjualan saham Piala Dunia.

Dalam pernyataannya, CONCACAF secara singkat namun tegas menyampaikan sikap mereka.

“Menolak proposal.”

Selain menolak, CONCACAF meminta agar cadangan dana FIFA lebih difokuskan untuk memperkuat program FIFA Forward yang selama ini menjadi sumber pendanaan bagi pengembangan sepak bola di berbagai negara anggota.

Konfederasi tersebut juga mendesak Presiden FIFA Gianni Infantino tetap menjalankan seluruh kebijakan sesuai Statuta FIFA dan memastikan setiap keputusan strategis melalui mekanisme tata kelola yang transparan.

“Menugaskan anggota Dewan FIFA untuk menginstruksikan Presiden FIFA agar memastikan semua hal melalui proses tata kelola yang tepat sesuai dengan Statuta FIFA.”

Dengan sikap UEFA dan CONCACAF, total sedikitnya 90 federasi anggota FIFA kini telah menyatakan penolakan terhadap proposal tersebut. Jumlah itu mendekati separuh dari total 211 anggota FIFA.

Sementara itu, Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) belum secara resmi menolak proposal tersebut.

Namun, AFC memberikan kritik terhadap proses yang ditempuh FIFA dalam menggulirkan rencana tersebut.

Menurut AFC, perubahan besar yang menyangkut masa depan komersial sepak bola dunia seharusnya dibahas secara terbuka bersama seluruh konfederasi, asosiasi anggota, dan pemangku kepentingan lainnya sebelum diputuskan.

“Inisiatif seperti ini seharusnya dibentuk atas prinsip tata kelola yang baik, transparan, dan konsultasi yang berarti.”

“Keputusan yang dapat mengubah masa depan komersial dan finansial olahraga ini memerlukan keterlibatan menyeluruh lebih dulu dengan konfederasi, asosiasi anggota, dan pemangku kepentingan terkait.”

Di tengah derasnya kritik tersebut, Gianni Infantino akhirnya memberikan klarifikasi melalui sebuah video berdurasi sekitar lima menit.

Ia menegaskan bahwa pembentukan FIFA Forward Enterprise bukanlah keputusan final, melainkan sekadar sebuah tawaran yang masih harus mendapat persetujuan mayoritas anggota FIFA.

“Ini adalah bagian dari proses demokratis, proses konsultasi dan yang terpenting ini adalah sebuah peluang, bukan kewajiban.”

Infantino juga memastikan bahwa apabila proposal disetujui, FFE tetap akan menjadi perusahaan yang sepenuhnya dimiliki dan dikendalikan oleh FIFA.

“Jika, dan hanya jika, disetujui mayoritas dari 211 asosiasi anggota dan Dewan FIFA, maka FFE akan menjadi anak perusahaan yang dimiliki dan dikendalikan oleh FIFA.”

Sebagai kompensasi atas skema baru tersebut, FIFA menjanjikan tambahan pendanaan melalui program FIFA Forward hingga US$20 juta untuk setiap asosiasi anggota.

Dengan tambahan tersebut, setiap federasi berpotensi menerima bantuan hingga US$40 juta guna mendukung pengembangan sepak bola di negaranya masing-masing.

Meski demikian, besarnya gelombang penolakan dari UEFA, CONCACAF, serta kritik yang datang dari AFC menunjukkan bahwa jalan FIFA untuk merealisasikan pembentukan FIFA Forward Enterprise masih menghadapi tantangan besar.

Perdebatan mengenai masa depan kepemilikan hak komersial Piala Dunia diperkirakan akan terus berlanjut sebelum keputusan akhir diambil oleh seluruh anggota FIFA. (*/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Sensus Ekonomi Capai 69,22 Persen

Sensus Ekonomi 2026 Purbalingga Capai 69,22 Persen, BPS Ajak Pelaku Usaha Terima Petugas