BANYUMASEKSPRES.ID, FLORES – Aktivitas kegempaan di wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih terus berlangsung setelah gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7 mengguncang kawasan tersebut pada Sabtu, 15 Agustus 2026.
Hingga Senin (17/8), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 1.624 gempa susulan terjadi di wilayah Flores dan sekitarnya.
Gempa utama M7,7 terjadi pada Sabtu (15/8/2026) pukul 04.58 WIB. Gempa tersebut dipicu aktivitas tektonik di Flores Back-Arc dengan mekanisme pergerakan naik atau thrust fault.
Rangkaian gempa susulan masih terjadi hingga Senin. Salah satu gempa yang kembali dirasakan masyarakat adalah gempa berkekuatan M5,8 yang mengguncang Kabupaten Nagekeo pada Senin pagi.
Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kupang Arief Tyastama mengatakan gempa M5,8 terjadi pada pukul 08.46.43 Wita atau 07.46.43 WIB.
Episenter gempa berada di koordinat 8,38 derajat Lintang Selatan dan 121,52 derajat Bujur Timur.
Lokasi tersebut berada sekitar 40 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo. Gempa berada pada kedalaman 10 kilometer.
Berdasarkan pemantauan BMKG hingga Senin pukul 11.00 WIB, tercatat 1.624 gempa susulan setelah gempa utama M7,7.
Magnitudo gempa susulan tersebut bervariasi, mulai dari M1,3 hingga M6,2. Dari jumlah tersebut, sebanyak 23 gempa memiliki kekuatan di atas M5, sementara 59 gempa dilaporkan dirasakan oleh masyarakat.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa aktivitas seismik di Flores belum sepenuhnya mereda.
Masyarakat di wilayah terdampak masih diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap bangunan yang mengalami kerusakan akibat gempa utama.
BMKG juga mengingatkan masyarakat agar tidak memasuki bangunan yang mengalami retakan atau kerusakan dan berpotensi roboh.
Dampak gempa Flores M7,7 cukup besar. Data sementara yang dihimpun pada Senin pagi sebelumnya mencatat 53 orang meninggal dunia dan 137 orang mengalami luka-luka.
Namun, jumlah korban kembali mengalami perubahan. Hingga Senin pukul 15.00 Wita, Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) mencatat 55 orang meninggal dunia dan 132 orang mengalami luka-luka.
Wilayah Manggarai Timur menjadi salah satu daerah yang mengalami dampak cukup parah.
Kerusakan bangunan dengan tingkat ringan hingga berat juga dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah, termasuk Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Sikka, dan Maumere.
Basarnas memastikan operasi pencarian dan pertolongan terus dilakukan untuk membantu masyarakat yang terdampak bencana.
Masyarakat juga diminta saling membantu dan tetap mengikuti informasi resmi mengenai kondisi gempa serta perkembangan proses evakuasi.
Gempa utama M7,7 juga memicu tsunami di sejumlah wilayah pesisir. BMKG mengeluarkan peringatan dini tsunami sekitar 2 menit 16 detik setelah gempa utama terjadi.
Tsunami kemudian terdeteksi di 16 lokasi yang tersebar di empat provinsi, yaitu Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara.
Ketinggian tsunami tertinggi tercatat di Pota, Kabupaten Manggarai Timur, dengan ketinggian mencapai 1,605 meter pada pukul 05.03 WIB.
Untuk mengetahui dampak gempa dan tsunami secara lebih rinci, BMKG telah menerjunkan tim gabungan ke sejumlah lokasi terdampak.
Tim tersebut melakukan survei makroseismik, pengukuran mikrotremor, serta verifikasi dampak tsunami di lapangan.
Hasil survei nantinya dapat digunakan sebagai dasar pemetaan mikrozonasi pascagempa dan penyusunan rekomendasi rekonstruksi.
Gempa Flores M7,7 juga kembali mengingatkan masyarakat terhadap bencana gempa dan tsunami besar yang pernah terjadi pada 12 Desember 1992.
BMKG menyebut gempa terbaru memiliki kaitan dengan aktivitas sesar naik busur utara Flores.
Wilayah tersebut memang dikenal memiliki aktivitas tektonik yang dapat menghasilkan gempa besar.
Pada 1992, gempa berkekuatan sekitar M7,5 mengguncang wilayah Flores dan memicu tsunami dahsyat di pesisir utara pulau tersebut.
Pusat gempa saat itu berada di lepas pantai Flores, sekitar 35 kilometer sebelah utara Maumere. Guncangan kuat menyebabkan banyak bangunan di Maumere runtuh.
Tsunami kemudian menerjang sejumlah wilayah pesisir. Di beberapa titik, ketinggian gelombang dilaporkan mencapai sekitar 25 meter.
Menurut data yang dikutip dari BNPB, Gempa Flores 1992 menewaskan lebih dari 2.500 orang.
Sekitar 500 orang dilaporkan hilang dan 447 orang mengalami luka-luka. Ribuan warga lainnya harus mengungsi.
Kerusakan infrastruktur juga sangat besar. Diperkirakan sekitar 18.000 rumah, 113 sekolah, dan 90 tempat ibadah mengalami kerusakan atau hancur.
Dengan masih berlangsungnya gempa susulan, BMKG meminta masyarakat Flores dan wilayah sekitarnya tidak panik, tetapi tetap waspada.
Warga diimbau menjauhi bangunan yang mengalami kerusakan dan berpotensi roboh.
Masyarakat juga diminta tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum terverifikasi.
Informasi terbaru mengenai gempa Flores, gempa susulan, tsunami, dan kondisi seismik NTT sebaiknya hanya diperoleh melalui kanal resmi BMKG.
Rangkaian gempa yang terjadi saat ini menunjukkan pentingnya kesiapsiagaan bencana di wilayah yang memiliki aktivitas tektonik tinggi.
Pemantauan terhadap gempa susulan akan terus dilakukan untuk mengetahui perkembangan aktivitas sesar di wilayah Flores.
Bagi masyarakat, kewaspadaan dan kesiapan menghadapi kemungkinan gempa susulan menjadi langkah penting sambil menunggu perkembangan informasi resmi dari pihak berwenang. (*/stch/dda)














