Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

13 Karhutla Terjadi di Banyumas, Dua Kebakaran Muncul dalam Sehari

Sehari, Dua Karhutla Terjadi di BanyumasSehari, Dua Karhutla Terjadi di Banyumas
PADAMKAN API: Petugas polisi melakukan penanganan kebakaran lahan di wilayah Banyumas. Dalam sehari, dua karhutla terjadi di Desa Gambarsari, Kecamatan Kebasen, dan Desa Kalikesur, Kecamatan Kedungbanteng, Rabu (19/8)

BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Musim kemarau mulai meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Banyumas.

Dalam satu hari, dua kejadian kebakaran lahan terjadi di lokasi berbeda, yakni kawasan perbukitan kompleks overpass Desa Gambarsari, Kecamatan Kebasen, dan Desa Kalikesur, Kecamatan Kedungbanteng, Rabu (19/8/2026).

Dua kejadian tersebut menambah daftar kebakaran lahan yang terjadi selama musim kemarau di Kabupaten Banyumas.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyumas mencatat, hingga Kamis (20/8) pagi, sudah terdapat 13 kejadian karhutla selama musim kemarau.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena lahan kering dan material yang mudah terbakar dapat membuat api cepat menyebar.

BPBD Banyumas pun mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan ketika beraktivitas di sekitar kawasan yang memiliki potensi kebakaran.

Kebakaran pertama terjadi di lahan milik pemerintah yang berada di kawasan perbukitan kompleks overpass Desa Gambarsari, Kecamatan Kebasen.

Api diketahui mulai membakar semak belukar sekitar pukul 14.08 WIB. Material berupa vegetasi kering membuat api membakar area yang cukup luas.

Lahan yang terdampak kebakaran diperkirakan mencapai sekitar satu hektare.

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Banyumas Abdul Ladjis mengatakan, petugas membutuhkan waktu sekitar dua jam untuk melakukan penanganan di lokasi.

“Setelah sekitar dua jam dilakukan penanganan, api berhasil dipadamkan,” kata Abdul.

Petugas kemudian memastikan kondisi lokasi untuk mencegah api kembali muncul.

Penanganan dilakukan bersama sejumlah unsur terkait guna mempercepat proses pemadaman.

Kebakaran di kawasan perbukitan tersebut menjadi salah satu contoh meningkatnya potensi karhutla ketika memasuki periode kemarau.

Belum lama setelah kebakaran di Gambarsari ditangani, kejadian serupa kembali terjadi di wilayah Desa Kalikesur, Kecamatan Kedungbanteng.

Kebakaran dilaporkan terjadi sekitar pukul 18.30 WIB. Berbeda dengan kejadian di Gambarsari, material yang terbakar kali ini berupa daun bambu kering.

Kondisi material yang kering membuat daun bambu mudah terbakar. Namun, petugas berhasil melakukan penanganan sehingga api dapat dipadamkan sekitar pukul 20.00 WIB.

Dua kejadian karhutla tersebut ditangani secara bersama-sama oleh berbagai unsur.

Petugas pemadam kebakaran, kepolisian, Babinsa, perangkat desa, dan warga sekitar terlibat dalam proses penanganan.

Kolaborasi tersebut diperlukan agar api tidak meluas ke area lain, terutama karena kebakaran terjadi di tengah kondisi kemarau.

Hingga penanganan selesai dilakukan, penyebab kebakaran di kedua lokasi tersebut belum diketahui.

BPBD Banyumas belum menyimpulkan apakah kebakaran disebabkan faktor alam maupun aktivitas manusia.

Penelusuran dan informasi dari masyarakat di sekitar lokasi menjadi bagian penting untuk mengetahui awal mula munculnya api.

“Untuk penyebab kedua kebakaran tersebut hingga kini belum diketahui. Penanganan juga melibatkan Damkar, kepolisian, babinsa, perangkat desa, serta warga sekitar,” ujar Abdul.

Belum diketahui penyebab kebakaran membuat kewaspadaan masyarakat menjadi semakin penting.

Kebakaran lahan dapat terjadi dari berbagai sumber, terutama ketika kondisi vegetasi dan material di sekitar lokasi berada dalam keadaan kering.

Dengan tambahan dua kejadian pada Rabu (19/8), BPBD Banyumas mencatat sudah terjadi 13 kejadian karhutla selama musim kemarau hingga Kamis (20/8) pagi.

Angka tersebut menjadi perhatian karena musim kemarau masih berlangsung.

Artinya, potensi kebakaran lahan masih dapat terjadi apabila kondisi kering terus berlanjut dan tidak diimbangi dengan kewaspadaan masyarakat.

BPBD Banyumas meminta masyarakat tidak menganggap sepele aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, khususnya di sekitar lahan kering, semak belukar, kawasan perbukitan, dan lokasi yang memiliki banyak material mudah terbakar.

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Banyumas Abdul Ladjis mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau.

“Musim kemarau harus lebih waspada,” pungkasnya.

Masyarakat juga diharapkan segera melapor apabila melihat adanya kepulan asap atau titik api di kawasan hutan dan lahan.

Laporan lebih cepat dapat membantu petugas melakukan penanganan sebelum api meluas.

Dengan tercatatnya 13 kejadian karhutla, upaya pencegahan menjadi penting untuk mengurangi risiko kebakaran yang lebih besar.

Selain kesiapan petugas, peran masyarakat dalam menjaga lingkungan dan menghindari aktivitas yang dapat memicu api juga menjadi bagian penting dalam penanggulangan karhutla di Banyumas.(zet/stch/dda)

Berita Sebelumnya
candi arjuna dibuka 3 agustus

Viral Wisatawan Diminta Bayar Parkir Meski Hanya Putar Balik di Candi Arjuna Dieng

Berita Selanjutnya
Kecelakaan Tembus 384 Kasus hingga Juli

Kecelakaan Lalu Lintas Banjarnegara Meningkat, 384 Kasus Tercatat hingga Juli 2026