Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

1,6 Juta Ton Bom Terpendam di Laut Jerman, Kini Ancam Ekosistem

1,6 Juta Ton Bom Teronggok di Dasar Laut1,6 Juta Ton Bom Teronggok di Dasar Laut
MENYINGKIRKAN: Amunisi bekas perang yang teronggok di dasar Laut Utara dan Laut Baltik, Jerman. Amunisi lama dari perairan Jerman merupakan tugas besar yang akan membutuhkan peningkatan sumber daya dan kemungkinan memakan waktu puluhan tahun

BANYUMASEKSPRES.ID, BERLIN – Jutaan ton bom dan amunisi bekas perang masih terpendam di dasar Laut Utara dan Laut Baltik, termasuk di perairan lepas pantai bagian utara Jerman.

Persenjataan tersebut merupakan peninggalan dari dua perang dunia serta hasil pembuangan amunisi dalam jumlah besar setelah Perang Dunia II berakhir.

Selama puluhan tahun, keberadaan amunisi tua di dasar laut lebih banyak dipandang sebagai persoalan keselamatan.

Selama tidak mengalami gangguan atau ledakan, persenjataan tersebut cenderung dibiarkan di lokasi.

Namun, kondisi tersebut kini mulai berubah. Korosi pada selubung logam amunisi menyebabkan sejumlah bahan kimia berbahaya perlahan keluar dan masuk ke lingkungan laut.

Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran baru karena zat beracun tersebut dapat berinteraksi dengan biota laut dan berpotensi masuk ke dalam rantai makanan.

Diperkirakan terdapat sekitar 1,6 juta ton metrik amunisi konvensional yang masih berada di dasar Laut Utara dan Laut Baltik.

Sebagian besar merupakan persenjataan yang berasal dari masa dua perang dunia serta amunisi yang sengaja dibuang setelah konflik berakhir.

Selama bertahun-tahun, keberadaan amunisi tersebut tidak selalu menjadi prioritas utama selama tidak menimbulkan ancaman ledakan secara langsung.

Akan tetapi, usia persenjataan yang semakin tua membuat material pelindungnya mengalami kerusakan.

Proses korosi menjadi salah satu persoalan utama. Ketika lapisan logam semakin rapuh, senyawa kimia yang terdapat di dalam amunisi dapat keluar ke lingkungan sekitarnya.

Situasi tersebut membuat peninggalan perang tidak lagi hanya menjadi masalah keamanan, tetapi juga berkembang menjadi persoalan pencemaran laut.

Ahli toksikologi dari Universitas Kiel, Edmund Maser, menjelaskan bahwa senyawa yang berasal dari amunisi yang mengalami korosi dapat masuk ke ekosistem laut.

Senyawa tersebut kemudian dapat terserap oleh berbagai organisme laut.

Kekhawatiran semakin besar karena beberapa zat yang berasal dari amunisi diketahui memiliki sifat beracun dan berpotensi menyebabkan kanker atau karsinogenik pada manusia maupun hewan.

Salah satu bahan yang menjadi perhatian adalah trinitrotoluena atau TNT. Senyawa tersebut merupakan bahan peledak yang banyak digunakan dalam amunisi militer.

Masuknya TNT dan hasil penguraiannya ke lingkungan laut menjadi perhatian para peneliti karena keberadaannya dapat menjadi indikator bahwa bahan kimia dari amunisi tua telah mulai berinteraksi dengan ekosistem di sekitarnya.

Peneliti dari Institut Ekologi Perikanan Thuenen, Joern Scharsack, melakukan penelitian terhadap ikan dab untuk mengetahui kemungkinan paparan senyawa yang berasal dari amunisi lama.

Hasil penelitian menunjukkan adanya produk metabolisme dan penguraian TNT di dalam tubuh ikan yang diteliti.

Meski demikian, kandungan yang ditemukan berada dalam konsentrasi sangat rendah, yakni pada tingkat nanogram. Tidak semua ikan yang diperiksa juga memiliki kadar yang dapat terdeteksi.

Namun, para peneliti berulang kali menemukan jejak senyawa tersebut di sekitar lokasi yang diketahui menjadi tempat penumpukan amunisi tua.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa meskipun konsentrasinya rendah, senyawa dari amunisi bekas perang memang telah terdeteksi di lingkungan laut dan pada organisme laut tertentu.

Keberadaan bahan kimia dari amunisi tua menimbulkan pertanyaan mengenai dampaknya terhadap ekosistem dalam jangka panjang.

Senyawa yang keluar dari persenjataan akibat korosi dapat berada di lingkungan perairan dan kemudian berinteraksi dengan organisme laut.

Jika zat tersebut masuk ke dalam tubuh organisme, terdapat kemungkinan terjadinya perpindahan melalui rantai makanan.

Karena itu, persoalan amunisi bekas perang tidak hanya berkaitan dengan ikan atau organisme yang hidup di sekitar lokasi pembuangan.

Dampaknya perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas, termasuk kondisi ekosistem laut dan keamanan lingkungan dalam jangka panjang.

Meski kadar TNT yang ditemukan pada penelitian tersebut sangat rendah, para peneliti tetap menaruh perhatian terhadap keberadaan jejak bahan kimia tersebut.

Mengangkat jutaan ton amunisi dari dasar laut bukan pekerjaan sederhana. Selain jumlahnya sangat besar, kondisi persenjataan yang sudah tua juga dapat meningkatkan risiko selama proses penanganan.

Amunisi yang telah berada di bawah laut selama puluhan tahun mengalami perubahan akibat lingkungan.

Proses pengangkatan, pemindahan, hingga penghancuran membutuhkan metode khusus agar tidak menimbulkan risiko baru.

Karena itu, penanganan amunisi bekas perang di perairan Jerman diperkirakan membutuhkan sumber daya besar dan waktu hingga puluhan tahun.

Tantangannya bukan hanya menghilangkan potensi ledakan, tetapi juga mencegah bahan kimia berbahaya semakin menyebar ke lingkungan laut.

Keberadaan jutaan ton amunisi di Laut Utara dan Laut Baltik menunjukkan bahwa dampak perang dapat bertahan jauh setelah konflik berakhir.

Persenjataan yang sebelumnya dianggap sebagai peninggalan sejarah kini menghadirkan persoalan baru akibat proses alami seperti korosi.

Ketika selubung logam semakin rusak, bahan kimia di dalamnya berpotensi masuk ke lingkungan.

Temuan jejak produk penguraian TNT pada ikan menjadi salah satu indikasi penting bahwa pencemaran dari amunisi bekas perang perlu mendapat perhatian serius.

Penanganan masalah tersebut membutuhkan kerja sama antara pemerintah, ilmuwan, lembaga lingkungan, serta pihak yang memiliki keahlian dalam pengelolaan bahan peledak.

Dengan jumlah amunisi yang mencapai jutaan ton, proses pembersihan diperkirakan tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat. (*/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Kapasitas Internet Alun Alun Purwokerto Bakal Digenjot

Internet Gratis Alun-Alun Purwokerto Bakal Ditambah, Kapasitas Bisa Capai 200 Pengguna