Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

19 Siswa Mts Banyumas Absen TKA Meski Sudah Dijemput ke Rumah

19 Siswa MTs Absen TKA19 Siswa MTs Absen TKA
TKA: Pelaksanaan TKA peserta didik MTs Negeri 3 Banyumas. Di Banyumas sebanyak 19 peserta didik MTs tidak ikut TKA

BANYUMASEKSPRES.ID, PURWOKERTO – Dalam pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) untuk tingkat Madrasah Tsanawiyah (MTs) di Kabupaten Banyumas, sekitar 19 siswa tidak mengikuti ujian yang diadakan.

Meskipun ketidakhadiran ini tidak berpengaruh langsung terhadap kelulusan siswa, TKA tetap menjadi salah satu faktor yang dipertimbangkan dalam proses Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) ke jenjang pendidikan berikutnya.

Pihak madrasah telah melakukan berbagai upaya untuk memastikan seluruh siswa dapat mengikuti tes ini.

Endwi Supeno, yang menjabat sebagai Pelaksana Seksi Pendidikan Madrasah Urusan Kelembagaan dan Sistem Informasi Manajemen (SIM) di Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Banyumas, menjelaskan bahwa siswa MTs diperbolehkan untuk tidak mengikuti TKA karena hasil dari tes tersebut bukanlah penentu utama kelulusan.

Namun, ia menekankan pentingnya partisipasi siswa dalam seleksi lanjutan agar mereka mendapatkan kesempatan yang optimal dalam melanjutkan pendidikan.

“Dari satuan pendidikan sudah berupaya agar 100 persen siswa ikut. Sampai dijemput ke rumah,” ungkap Endwi saat ditemui oleh awak media pada Selasa, 21 April.

Endwi juga mengungkapkan bahwa dari total biodata peserta yang terdaftar sebanyak 5.702 peserta didik, hanya 5.683 yang mengikuti TKA, sehingga angka partisipasi mencatatkan angka 99,67 persen.

Dengan kata lain, hanya 0,33 persen atau 19 siswa yang tidak mengikuti ujian tersebut.

Meski persentase partisipasi sudah tergolong tinggi, Endwi mengakui bahwa ketidakhadiran tersebut disebabkan oleh berbagai faktor yang mungkin sulit dihindari.

“Tidak ikut TKA, peserta didik tetap wajib ikut Ujian Madrasah (UM) pekan ini,” tegasnya.

Ujian Madrasah tetap menjadi syarat utama dalam menentukan kelulusan siswa di tingkat MTs.

Dalam persiapan pelaksanaan TKA MTs tahun 2026 mendatang, Kantor Kemenag Banyumas telah mengusulkan sebanyak 202 guru untuk bertindak sebagai pengawas ruangan.

Pengawasan ini sangat penting untuk menjaga integritas dan kelancaran ujian, serta memastikan bahwa semua proses berjalan sesuai dengan standar yang ditetapkan.

Ratusan guru tersebut berasal dari 65 satuan pendidikan yang ada di wilayah Banyumas.

Sistem pengawasan juga dilakukan secara silang antar madrasah untuk memastikan objektivitas dan keadilan dalam pelaksanaan ujian.

“Untuk TKA pengawas ruangan silang antar madrasah,” pungkas Endwi.

Langkah ini diambil guna menciptakan suasana ujian yang kondusif dan transparan bagi semua peserta didik.

Terkait dengan ketidakhadiran beberapa siswa dalam TKA ini, ada beberapa faktor yang mungkin berkontribusi terhadap keputusan mereka untuk tidak hadir.

Beberapa di antaranya bisa jadi disebabkan oleh masalah kesehatan, komitmen keluarga, atau kendala lainnya yang bersifat pribadi.

Ini menunjukkan bahwa meskipun upaya maksimal telah dilakukan oleh pihak madrasah untuk mendukung setiap siswa agar dapat berpartisipasi dalam TKA, terdapat realitas sosial dan ekonomi yang harus diperhatikan.

Pentingnya TKA sebagai bagian dari proses pendidikan di MTs tidak dapat dipandang sebelah mata karena meskipun hasilnya bukan penentu kelulusan secara langsung, nilai-nilai yang diperoleh dari tes ini akan menjadi pertimbangan penting dalam melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.

Hal ini tentu saja menjadi perhatian bagi orang tua dan pendidik untuk mendorong anak-anak mereka agar aktif berpartisipasi dalam setiap kegiatan akademik yang ada.

Dalam konteks ini, juga perlu dicatat bahwa Ujian Madrasah (UM) memiliki peran sentral sebagai penentu kelulusan akhir siswa MTs.

Oleh karena itu, meskipun sejumlah siswa tidak mengikuti TKA, mereka masih memiliki kesempatan untuk menunjukkan kemampuan akademik melalui UM yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat.

Situasi ini memberikan gambaran tentang tantangan yang dihadapi oleh sistem pendidikan di daerah-daerah tertentu seperti Banyumas.

Terlepas dari usaha keras para pendidik dan institusi pendidikan untuk mendorong partisipasi maksimal dari para siswa, berbagai kendala tetap ada dan harus dikelola dengan bijak agar tidak menghambat perkembangan pendidikan anak-anak.

Ke depan, pihak Kemenag Banyumas diharapkan dapat terus meningkatkan program-program edukatif dan fasilitas pendukung bagi para siswa agar semua peserta didik mendapatkan kesempatan belajar yang sama tanpa terkendala oleh kondisi eksternal.

Dengan demikian, harapan akan peningkatan kualitas pendidikan di level MTs di Banyumas dapat terwujud dengan baik. (yda/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Ktp elektronik

E-KTP Hilang Harus Bayar Denda? Simak Aturan yang Diusulkan Kemendagri

Berita Selanjutnya
Amalia Berjuang di Tengah Tekanan dan Stigma

Terinspirasi Raden Ajeng Kartini, Bupati Banjarnegara Amalia Desiana Tegaskan Perempuan Bisa Jadi Pemimpin