BANYUMASEKSPRES.ID, JAKARTA – Perkembangan teknologi artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan semakin mengubah wajah dunia kerja. Di satu sisi, AI membantu perusahaan meningkatkan efisiensi operasional dan produktivitas.
Namun di sisi lain, pemanfaatan teknologi tersebut juga memunculkan kekhawatiran akan meningkatnya pemutusan hubungan kerja (PHK) di berbagai sektor industri.
Seiring semakin luasnya adopsi AI, sejumlah pekerjaan yang bersifat rutin dan administratif mulai berpotensi digantikan oleh sistem otomatis. Kondisi tersebut dinilai menjadi konsekuensi yang sulit dihindari dalam era transformasi digital.
Secretary General Indonesia Digital Association (IDA), Ilona Juwita, mengatakan perusahaan saat ini memang tengah melakukan berbagai langkah efisiensi, termasuk mengevaluasi posisi pekerjaan yang dapat dioptimalkan menggunakan teknologi AI.
Menurutnya, keputusan melakukan PHK sepenuhnya merupakan kebijakan masing-masing perusahaan berdasarkan kebutuhan bisnis dan strategi efisiensi yang diterapkan.
“Memang enggak bisa dipungkiri, PHK terjadi. Itu adalah kebijakan perusahaan untuk menilai bagian mana yang perlu efisiensi dan bagaimana AI akhirnya bisa memenuhi kebutuhan tersebut,” ujarnya di Jakarta, Kamis (23/7/2026).
Meski demikian, Ilona menegaskan bahwa perkembangan AI tidak selalu membawa dampak negatif terhadap dunia kerja.
Teknologi ini juga membuka berbagai peluang profesi baru yang sebelumnya belum banyak dikenal.
Ia menjelaskan, kebutuhan tenaga kerja kini mulai bergeser ke bidang-bidang yang berkaitan dengan pengembangan teknologi digital, seperti produksi konten berbasis AI, distribusi konten digital, riset, pemasaran digital, analisis data, hingga tata kelola kecerdasan buatan atau AI governance.
Menurut Ilona, perusahaan tidak lagi hanya membutuhkan tenaga kerja yang mampu menjalankan pekerjaan secara manual, tetapi juga sumber daya manusia yang mampu memanfaatkan AI untuk meningkatkan kualitas hasil kerja.
Ia mencontohkan industri media yang mulai menggunakan AI untuk membantu memproduksi konten visual maupun animasi dengan proses yang lebih cepat.
Sementara itu, industri hiburan juga memanfaatkan AI untuk mempercepat berbagai tahapan produksi.
“Bukan kemudian menutup peluang kerja teman-teman kreatif, tapi bagaimana mereka bisa memproduksi lebih banyak dengan kualitas yang lebih baik karena di-empower oleh AI,” katanya.
Karena itu, Ilona mengingatkan masyarakat agar tidak memandang AI sebagai ancaman semata.
Menurutnya, kecerdasan buatan seharusnya menjadi alat pendukung yang mampu meningkatkan kemampuan manusia, bukan sepenuhnya menggantikan peran pekerja.
“Jangan melihat AI hanya menggantikan, tetapi AI harusnya menyempurnakan. Enggak boleh lagi ada opsi perusahaan tidak menggunakan AI. Kita memang harus berjalan berdampingan dengan AI,” tegasnya.
Ia juga mendorong para pekerja untuk terus meningkatkan kompetensi melalui proses upskilling dan reskilling.
Penguasaan teknologi AI dinilai menjadi salah satu keterampilan penting yang harus dimiliki agar tetap relevan dengan kebutuhan industri di masa depan.
Menurut Ilona, AI dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu dalam berbagai aktivitas pekerjaan, mulai dari melakukan riset, mencari referensi, menyusun ide kreatif, hingga menghasilkan inovasi yang lebih cepat dan efektif.
Selain kesiapan individu, pemerintah juga diharapkan mengambil peran lebih besar dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Salah satunya melalui program pelatihan digital yang mampu menjangkau lebih banyak pekerja dari berbagai sektor.
Program peningkatan keterampilan tersebut diharapkan dapat membantu pekerja yang terdampak otomatisasi memperoleh kemampuan baru sehingga memiliki peluang berkarier di bidang lain yang berkembang akibat kemajuan teknologi.
Ilona menilai kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, lembaga pendidikan, serta sektor swasta menjadi kunci dalam menghadapi perubahan besar akibat revolusi AI.
Kerja sama tersebut diperlukan untuk menyediakan pelatihan, pendanaan, hingga pengembangan talenta digital yang sesuai dengan kebutuhan industri.
Dengan semakin pesatnya perkembangan kecerdasan buatan, kemampuan beradaptasi menjadi faktor utama yang menentukan daya saing tenaga kerja.
AI memang berpotensi mengurangi sejumlah jenis pekerjaan, tetapi pada saat yang sama juga menciptakan profesi baru yang membutuhkan keterampilan berbeda.
Oleh karena itu, pekerja yang terus belajar dan mengembangkan kemampuan digital diperkirakan akan memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dan berkembang di era transformasi teknologi. (*/stch/dda)














