BANYUMASEKSPRES.ID, CILACAP – Dampak kemarau di Kabupaten Cilacap semakin meluas. Hingga September 2026, sedikitnya 51 desa yang tersebar di 16 kecamatan mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.
Kondisi tersebut membuat distribusi air bersih terus dilakukan oleh pemerintah maupun berbagai pihak untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.
Salah satu wilayah yang mengalami keterbatasan air bersih adalah Dusun Bugel, Desa Bojong, Kecamatan Kawunganten.
Di wilayah tersebut, ketersediaan air menjadi persoalan bagi masyarakat selama musim kemarau.
Kondisi semakin sulit karena jaringan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) belum menjangkau kawasan tersebut.
Untuk membantu kebutuhan warga, Kejaksaan Negeri Cilacap bekerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cilacap menyalurkan empat tangki air bersih ke Dusun Bugel.
Penyaluran tersebut dilakukan sebagai bagian dari kegiatan bakti sosial dalam rangka memperingati Hari Lahir Kejaksaan Republik Indonesia ke-81.
Bantuan air bersih disalurkan ke empat titik di Dusun Bugel, Desa Bojong. Lokasi tersebut meliputi RT 01 RW 09, RT 03 RW 09, RT 01 RW 10, dan RT 05 RW 09.
Masyarakat yang menerima bantuan memanfaatkan air tersebut untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di tengah terbatasnya sumber air selama musim kemarau.
Kepala Desa Bojong Siman menyampaikan terima kasih kepada Kejaksaan Negeri Cilacap dan BPBD yang telah membantu warga.
Menurut Siman, bantuan air bersih sangat berarti bagi masyarakat, terutama karena wilayah tersebut belum mendapatkan layanan jaringan PDAM.
“Jaringan PDAM belum masuk ke wilayah tersebut, sehingga ketersediaan air bersih menjadi persoalan bagi masyarakat saat musim kemarau,” katanya.
Kondisi tersebut membuat bantuan melalui distribusi air tangki menjadi salah satu solusi sementara untuk memenuhi kebutuhan warga.
Penyaluran air dilakukan secara langsung ke titik-titik yang membutuhkan sehingga masyarakat dapat segera memanfaatkan bantuan tersebut.
Kepala BPBD Kabupaten Cilacap Taryo mengatakan distribusi air bersih terus dilakukan ke sejumlah wilayah yang mengalami dampak kekeringan.
Hingga saat ini, BPBD Cilacap telah menyalurkan 2.683.000 liter air bersih atau setara 523 tangki.
Bantuan tersebut telah diterima oleh 16.394 kepala keluarga (KK) yang tersebar di 51 desa pada 16 kecamatan.
“Hingga saat ini, BPBD telah menyalurkan 2.683.000 liter atau 523 tangki air bersih. Bantuan tersebut telah diterima 16.394 kepala keluarga di 51 desa yang tersebar di 16 kecamatan,” jelas Taryo.
Angka tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan air bersih di Cilacap selama musim kemarau cukup besar.
Distribusi pun dilakukan secara bertahap berdasarkan wilayah yang mengalami keterbatasan sumber air.
Penyaluran air bersih menjadi langkah penting untuk membantu masyarakat memenuhi kebutuhan sehari-hari selama kondisi kekeringan masih berlangsung.
Musim kemarau yang berlangsung cukup lama membuat sejumlah wilayah di Kabupaten Cilacap mengalami penurunan ketersediaan air.
Bagi masyarakat yang belum terjangkau jaringan air perpipaan, kondisi tersebut menjadi persoalan yang lebih berat.
Warga harus mengandalkan sumber air yang tersedia atau menunggu bantuan distribusi air bersih.
Dusun Bugel menjadi salah satu wilayah yang merasakan dampak tersebut. Kehadiran empat tangki bantuan diharapkan dapat mengurangi kesulitan masyarakat dalam mendapatkan air.
Kondisi keterbatasan air bersih juga menunjukkan pentingnya penanganan kekeringan secara berkelanjutan.
Distribusi air melalui tangki dapat membantu memenuhi kebutuhan dalam jangka pendek, tetapi akses terhadap sumber air yang lebih permanen tetap dibutuhkan.
Dalam dokumen perencanaan pembangunan Kabupaten Cilacap, pemerataan pelayanan dasar termasuk akses air bersih juga menjadi salah satu perhatian pembangunan daerah.
Kepala Kejaksaan Negeri Cilacap Dr Muhammad Irfan Jaya mengatakan bantuan air bersih diberikan sebagai bentuk kepedulian kepada masyarakat yang sedang menghadapi kesulitan akibat kekeringan.
Menurutnya, kondisi kemarau yang berlangsung cukup lama membuat sejumlah wilayah membutuhkan dukungan untuk memenuhi kebutuhan dasar.
“Kita sebagai sesama manusia sudah sepatutnya saling peduli, berbagi, dan membantu, khususnya kepada masyarakat yang sedang mengalami kesulitan,” katanya.
Ia berharap bantuan yang diberikan dapat meringankan beban masyarakat selama ketersediaan air bersih masih terbatas.
Menurut Irfan, kepedulian sosial tidak hanya diwujudkan melalui bantuan materi, tetapi juga dengan hadir dan memberikan perhatian terhadap kondisi masyarakat.
“Kepedulian sosial tidak hanya diwujudkan melalui bantuan materi, tetapi juga melalui kehadiran dan perhatian terhadap kondisi masyarakat,” pungkasnya.
Dengan 51 desa di 16 kecamatan yang telah masuk dalam wilayah terdampak, distribusi air bersih masih menjadi kebutuhan penting selama kemarau.
BPBD Cilacap bersama berbagai pihak terus melakukan penyaluran ke wilayah yang membutuhkan.
Bantuan dari lembaga pemerintah, lembaga sosial, maupun pihak lainnya menjadi bagian dari upaya bersama menghadapi dampak kekeringan.
Bagi warga Dusun Bugel, bantuan empat tangki air tersebut menjadi penopang kebutuhan sehari-hari di tengah belum tersedianya jaringan PDAM.
Sementara secara keseluruhan, distribusi 523 tangki atau 2.683.000 liter air menunjukkan skala kebutuhan yang harus ditangani di Kabupaten Cilacap.
Pemerintah daerah dan masyarakat diharapkan dapat terus berkoordinasi agar penyaluran air bersih tepat sasaran.
Wilayah yang mengalami kesulitan air perlu mendapatkan prioritas sesuai kondisi di lapangan.
Krisis air bersih akibat kemarau bukan hanya menyangkut ketersediaan air untuk konsumsi, tetapi juga kebutuhan rumah tangga lainnya.
Karena itu, keberlanjutan distribusi menjadi penting selama sumber air masyarakat belum kembali normal.
Bantuan yang disalurkan Kejari Cilacap bersama BPBD di Dusun Bugel menjadi salah satu bentuk respons terhadap kondisi tersebut.
Dengan adanya bantuan, masyarakat dapat terbantu memenuhi kebutuhan air bersih sambil menunggu kondisi sumber air membaik. (jul/stch/dda)














