Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode
AI Dinilai Picu Gelombang PHK, Pekerja Diminta Tingkatkan Skill agar Tetap Kompetitif
Demo BEM KSI di Kejagung Ricuh, Massa Desak Transparansi Kasus Febrie Adriansyah

Demo BEM KSI di Kejagung Ricuh, Massa Desak Transparansi Kasus Febrie Adriansyah

Aksi BEM KSI di Depan Kejagung RicuhAksi BEM KSI di Depan Kejagung Ricuh
RICUH: Aksi saling dorong mewarnai demonstrasi terkait mantan Jampidsus Febrie Adriansyah, yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa Kristiani Seluruh Indonesia (BEM KSI) di depan Gedung Kejaksaan Agung RI, Jakarta, Kamis (23/7/2026)

BANYUMASEKSPRES.ID, JAKARTA – Aksi unjuk rasa yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa Kristiani Seluruh Indonesia (BEM KSI) di depan Gedung Kejaksaan Agung (Kejagung) RI, Kamis (23/7/2026), berlangsung ricuh setelah massa terlibat aksi saling dorong dengan aparat kepolisian.

Demonstrasi tersebut digelar untuk mendesak Kejaksaan Agung mengusut dugaan kasus yang disebut menyeret mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus), Febrie Adriansyah.

Aksi dimulai sekitar pukul 15.00 WIB dengan penyampaian orasi secara bergantian.

Dalam orasinya, para mahasiswa meminta Kejaksaan Agung mengirimkan perwakilan untuk menemui massa dan menerima aspirasi yang mereka bawa.

Namun, hingga sekitar dua jam setelah aksi berlangsung, tidak ada satu pun pejabat Kejaksaan Agung yang menemui peserta demonstrasi. Kondisi tersebut memicu kekecewaan di kalangan massa aksi.

“Sudah dua jam kita orasi di sini tidak ada satu pun dari mereka menemui kami,” ujar salah seorang orator di hadapan peserta aksi.

Merasa tuntutan mereka tidak mendapat respons, massa kemudian bergerak mendekati pagar pembatas dan barisan aparat keamanan yang berjaga di depan kompleks Kejaksaan Agung.

Situasi semakin memanas ketika orator mengajak peserta aksi untuk merobohkan pagar pembatas agar dapat bertemu langsung dengan Jaksa Agung ST Burhanuddin.

Ajakan tersebut memicu aksi saling dorong antara demonstran dan aparat kepolisian yang berusaha menjaga keamanan di lokasi.

Di tengah ketegangan itu, sejumlah peserta aksi juga terlihat melemparkan kemasan minuman ke arah area Gedung Bundar Kejaksaan Agung.

Meski sempat terjadi kericuhan, aparat kepolisian tetap berupaya mengendalikan situasi agar aksi tidak berkembang menjadi bentrokan yang lebih besar.

Petugas terus membentuk barikade di depan gerbang untuk mencegah massa memasuki kawasan gedung.

Dalam orasi yang disampaikan selama demonstrasi, BEM KSI juga mengkritik kinerja Kejaksaan Agung.

Massa meminta aparat penegak hukum bersikap terbuka dan transparan dalam menangani setiap dugaan pelanggaran hukum, termasuk perkara yang menjadi tuntutan mereka.

“Kalau kalian menyembunyikan kejahatan, maka kalian lebih jahat dari mereka,” kata salah seorang orator.

Melalui aksi tersebut, mahasiswa menyampaikan sejumlah tuntutan kepada Kejaksaan Agung.

Mereka mendesak aparat penegak hukum mengusut secara menyeluruh dugaan tindak pidana korupsi dan tindak pidana pencucian uang (TPPU) yang menurut mereka melibatkan Febrie Adriansyah.

Selain itu, massa juga meminta Jaksa Agung memerintahkan penyidik untuk melakukan penahanan terhadap Febrie apabila ditemukan bukti yang cukup sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.

Tidak hanya itu, BEM KSI juga mendorong adanya sinergi antara Kejaksaan Agung, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dan Kepolisian Republik Indonesia dalam menangani perkara yang mereka soroti.

Menurut mereka, kerja sama antarlembaga penegak hukum diperlukan agar proses penanganan kasus berjalan transparan, profesional, dan akuntabel.

Setelah berlangsung sekitar dua jam, aksi demonstrasi akhirnya berakhir sekitar pukul 17.00 WIB.

Massa membubarkan diri secara tertib setelah menyampaikan seluruh tuntutan mereka.

Sebelum meninggalkan lokasi, perwakilan demonstran menegaskan bahwa aksi serupa akan kembali digelar apabila tuntutan yang mereka sampaikan tidak memperoleh tanggapan dari Kejaksaan Agung.

“Kita akan kembali ke sini dengan massa yang lebih banyak hingga tuntutan kami dipenuhi,” tegas orator.

Aksi tersebut menjadi salah satu demonstrasi yang mewarnai dinamika penegakan hukum di Indonesia.

Selain menyoroti dugaan kasus yang menjadi perhatian publik, mahasiswa juga menekankan pentingnya transparansi, akuntabilitas, dan konsistensi aparat penegak hukum dalam menangani setiap perkara sesuai prosedur hukum yang berlaku.

Hingga aksi berakhir, situasi di sekitar Gedung Kejaksaan Agung kembali kondusif setelah aparat memastikan seluruh peserta demonstrasi meninggalkan lokasi dengan tertib. (*/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Gelombang PHK akibat AI Diprediksi Berlanjut

AI Dinilai Picu Gelombang PHK, Pekerja Diminta Tingkatkan Skill agar Tetap Kompetitif