BANYUMASEKSPRES.ID, CILACAP – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa musim kemarau yang akan berlangsung di Kabupaten Cilacap tahun ini akan mengalami tingkat kekeringan yang lebih tinggi daripada kondisi normal.
Prediksi ini menimbulkan keprihatinan terkait sumber air yang dapat berkurang di berbagai daerah jika kemarau berlangsung lebih lama dari biasanya.
Adnan Dendy Mardika, seorang forecaster di BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap, menjelaskan bahwa sifat musim kemarau tahun 2026 diperkirakan akan berada di bawah rata-rata normal.
“Jika dibandingkan dengan rata-rata klimatologis periode 1991 hingga 2020, sifat musim kemarau tahun ini cenderung lebih kering,” ungkapnya pada Kamis, 7 Mei.
Kondisi kekeringan yang lebih parah dari biasanya ini perlu mendapatkan perhatian serius.
Hal ini karena dampaknya dapat memengaruhi ketersediaan air bersih bagi masyarakat, khususnya di daerah-daerah rawan kekeringan yang sering mengalami kesulitan air saat musim kemarau tiba.
“Pada wilayah yang memiliki potensi terdampak atau rawan harus menjadi perhatian terkait ketersediaan air bersih,” tambah Adnan.
Selain masalah air bersih, sektor pertanian juga berpotensi mengalami gangguan akibat penurunan curah hujan selama periode kemarau ini.
Lahan pertanian yang mengandalkan sistem tadah hujan dinilai sebagai area yang paling rentan terhadap dampak negatif jika kemarau berlangsung lebih lama dari biasanya.
“Dampak pada sektor pertanian terutama lahan yang mengandalkan air hujan atau sawah tadah hujan juga berpeluang akan terdampak,” tegasnya.
BMKG juga memperingatkan masyarakat tentang meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan selama periode cuaca kering ini.
Mengingat kondisi lingkungan yang semakin tidak stabil dan ancaman bencana alam yang selalu mengintai, penting bagi warga untuk meningkatkan kewaspadaan.
Awal musim kemarau di Kabupaten Cilacap diperkirakan mulai berlangsung pada dasarian kedua bulan Mei 2026, dengan puncak kemarau diprediksi terjadi pada bulan Agustus mendatang.
“Masyarakat diminta untuk mulai meningkatkan kewaspadaan dan menghemat penggunaan air sejak dini,” pungkas Adnan.
Perubahan iklim yang semakin nyata membuat fenomena cuaca ekstrem menjadi semakin sering terjadi.
Di banyak daerah lain, masyarakat juga merasakan dampak dari perubahan pola curah hujan yang tidak menentu.
Oleh karena itu, masyarakat sangat disarankan untuk mempersiapkan diri agar dapat menghadapi kemungkinan terburuk akibat musim kemarau yang lebih panjang dan lebih kering.
Dalam rangka persiapan menghadapi musim kemarau ini, pihak terkait seperti Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) sudah mulai mengambil langkah-langkah strategis untuk memastikan ketersediaan air bersih bagi penduduk.
Salah satu langkah tersebut adalah melakukan pengecekan terhadap armada tangki air bersih yang siap digunakan untuk membantu masyarakat yang mengalami kekurangan air.
Tindakan preventif seperti pemantauan dan pengelolaan sumber daya air sangat penting dilakukan agar dampak negatif dari musim kemarau dapat diminimalisir.
Masyarakat juga diajak untuk turut berpartisipasi dalam menjaga kelestarian lingkungan agar sumber daya alam tetap terjaga.
Penggunaan air secara bijaksana serta upaya konservasi bisa menjadi langkah pertama dalam menjaga keberlanjutan sumber daya air.
Dengan memahami bahwa ancaman kekeringan bukan hanya sekadar isu lokal tetapi juga isu global, maka kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat menjadi sangat krusial dalam menghadapi tantangan tersebut. (jul/stch/dda)
















