BANYUMASEKSPRES.ID, Legenda MotoGP Casey Stoner akhirnya menjalani operasi tulang punggung setelah lebih dari dua dekade hidup dengan rasa sakit akibat cedera lama.
Juara dunia MotoGP dua kali tersebut mengaku operasi berjalan sukses dan memberikan perubahan besar terhadap kualitas hidupnya.
Stoner mengatakan, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, dirinya bisa merasakan hidup tanpa rasa nyeri yang selama ini menjadi bagian dari kesehariannya.
Ia bahkan baru menyadari bahwa selama ini dirinya telah terbiasa hidup dengan rasa sakit yang dianggap sebagai kondisi normal.
Masalah pada tulang punggung Stoner bermula dari kecelakaan yang terjadi pada musim 2003 saat dirinya masih berlaga di Kejuaraan Dunia kelas 125cc.
Dalam insiden tersebut, pembalap asal Australia itu mengalami kecelakaan berat setelah menghantam tumpukan jerami dengan posisi kepala lebih dahulu.
Benturan keras tersebut menyebabkan tekanan pada bagian tulang belakangnya.
Meski mengalami cedera serius, Stoner tetap melanjutkan karier balapnya dan berhasil mencapai puncak prestasi dengan menjadi juara dunia MotoGP bersama Ducati pada 2007 serta Honda pada 2011.
Namun, cedera tersebut tidak pernah benar-benar pulih. Selama bertahun-tahun, Stoner harus menghadapi rasa sakit yang terus muncul, bahkan semakin memburuk dalam beberapa periode terakhir.
Kondisi fisiknya tersebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi keputusan Stoner untuk pensiun dari MotoGP pada akhir musim 2012.
Saat itu, ia memilih mengakhiri karier balap profesionalnya meski masih memiliki kemampuan untuk bersaing di level tertinggi.
Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Stoner menceritakan perjalanan panjang menghadapi cedera tersebut hingga akhirnya memutuskan menjalani operasi.
“Semuanya berawal dari kecelakaan pada 2003, ketika saya menabrak tumpukan jerami dengan kepala terlebih dahulu. Benturan itu menekan tulang belakang saya, dan meskipun saya berusaha sebaik mungkin selama lebih dari 20 tahun, beberapa tahun terakhir dan enam bulan terakhir menjadi tak tertahankan lagi. Sampai pada titik di mana operasi adalah satu-satunya pilihan yang realistis,” tulis Stoner.
Menurut Stoner, keputusan menjalani operasi bukanlah hal yang mudah.
Namun, kondisi yang semakin memburuk membuat tindakan medis menjadi pilihan terbaik agar dirinya dapat kembali menjalani kehidupan dengan lebih nyaman.
Saat ini, proses pemulihan masih terus berjalan. Meski demikian, hasil operasi telah memberikan dampak positif yang sangat besar bagi mantan pembalap Ducati dan Honda tersebut.
“Pemulihan memang mengalami pasang surut, tetapi secara keseluruhan punggung saya tidak pernah terasa sebaik ini selama yang saya ingat,” ungkap Stoner.
Ia mengaku pengalaman tersebut membuatnya menyadari bahwa selama puluhan tahun dirinya telah menjalani kehidupan dengan rasa sakit yang terus menerus.
“Yang paling mengejutkan saya adalah menyadari bahwa ketika saya mengira punggung saya terasa ‘baik’ sebelumnya, saya masih hidup dengan rasa sakit yang konstan. Baru sekarang saya merasakan bagaimana rasanya tidak sakit punggung sama sekali,” ujar Stoner.
Operasi tersebut menjadi titik penting bagi Stoner setelah perjalanan panjang menghadapi dampak cedera yang dialaminya sejak awal karier.
Meski sudah tidak aktif sebagai pembalap profesional, kesehatan fisik tetap menjadi perhatian utama bagi mantan juara dunia tersebut.
Stoner juga menyampaikan rasa terima kasih kepada dokter bedah dan seluruh tim medis yang telah membantu proses pengobatannya.
Ia berharap pemulihan berjalan lancar sehingga dapat menikmati kehidupan sehari-hari dengan kondisi tubuh yang jauh lebih baik.
Kisah Casey Stoner menjadi pengingat bahwa cedera dalam dunia olahraga dapat memberikan dampak jangka panjang, bahkan setelah seorang atlet berhenti dari kompetisi.
Perjuangannya selama lebih dari 20 tahun menunjukkan bagaimana seorang atlet harus menghadapi konsekuensi fisik dari olahraga dengan tingkat risiko tinggi seperti balap motor. (*/stch/dda)
















