Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Cegah Stunting Sejak Dini, Pendekatan Baru Pemkab Cilacap Turunkan Angka Stunting Jadi 15,6 Persen

Angka prevalensi stunting turunAngka prevalensi stunting turun
PERIKSA : Petugas Puskesmas saat melakukan pemeriksaan ke anak sekolah.

BANYUMASEKSPRES.ID, CILACAP – Upaya penanggulangan stunting di Kabupaten Cilacap telah membuahkan hasil yang menggembirakan. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024, angka prevalensi stunting mengalami penurunan signifikan, dari 18,5 persen menjadi 15,6 persen.

Bagi Pemerintah Kabupaten Cilacap, pencapaian ini lebih dari sekadar statistik, ini adalah bukti nyata dari kolaborasi lintas sektor yang mulai membuahkan hasil.

Meski begitu, pekerjaan ini belum sepenuhnya selesai. Fokus kini bergeser ke pencegahan agar kasus stunting baru tidak terus bermunculan.

“Penanganan stunting tidak cukup hanya dengan mengobati. Kita harus bergerak lebih awal, sejak sebelum bayi lahir,” ungkap Ferry Adhi Dharma, Plt Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes KB) Cilacap.

Menurut Ferry, strategi penanganan stunting kini mengalami perubahan paradigma.

Jika sebelumnya pemerintah lebih fokus menurunkan angka kasus yang ada, sekarang pendekatan diarahkan untuk mencegah dari hulu.

Remaja putri dan ibu hamil menjadi kelompok yang paling perlu diperhatikan dalam upaya ini.

“Kita mulai dari remaja. Mereka harus paham tentang kesehatan reproduksi, gizi seimbang, dan pentingnya menunda pernikahan dini. Karena dari sanalah rantai stunting bisa diputus,” tambahnya.

Kabupaten Cilacap sendiri merupakan salah satu daerah prioritas di antara enam provinsi di Indonesia dengan prevalensi stunting tertinggi.

Di wilayah ini, program pendampingan dilaksanakan di dua puskesmas utama: Jeruklegi I dan Cilacap Selatan II.

Namun demikian, tantangan masih ada. Data dari Sistem Informasi Gizi Kesehatan Keluarga (Sigizikesga) per Mei 2025 menunjukkan prevalensi stunting di kedua puskesmas tersebut masing-masing sebesar 11,72 persen dan 16,67 persen.

Angka-angka ini menandakan bahwa pendekatan penanganan harus lebih spesifik dan sensitif terhadap kondisi lokal masing-masing wilayah.

Hal ini menjadi pengingat bagi semua pemangku kepentingan bahwa meskipun angka prevalensi menurun secara keseluruhan, risiko masih tinggi di beberapa area tertentu.

“Karena itu pendekatannya harus lebih sensitif dan spesifik,” tegas Ferry.

Pencegahan stunting tidak berhenti pada edukasi semata. Intervensi penting lainnya termasuk pemberian makanan tambahan (PMT) kepada ibu hamil dan anak-anak yang berisiko tinggi mengalami stunting. Namun Ferry menekankan bahwa PMT bukan sekadar pembagian makanan biasa.

“PMT harus sesuai standar, tidak asal diberikan. Gizi dan kandungannya harus tepat sasaran,” tandasnya.

Edukasi kepada remaja putri mengenai kesehatan reproduksi merupakan langkah kunci dalam memutus mata rantai stunting di masa depan.

Dengan memahami pentingnya gizi seimbang serta dampak negatif dari pernikahan dini, diharapkan generasi muda dapat lebih siap menghadapi tantangan kesehatan yang ada.

Selain itu, perhatian khusus juga diberikan kepada ibu hamil melalui berbagai program intervensi gizi yang disesuaikan dengan kebutuhan individu mereka.

Dengan pendekatan holistik yang menggabungkan edukasi dan intervensi langsung seperti PMT berbasis standar nutrisi yang ketat, Pemerintah Kabupaten Cilacap berharap dapat mengurangi risiko terjadinya kasus baru secara efektif.

Melalui kerja sama lintas sektor antara Dinkes KB Cilacap serta berbagai puskesmas setempat seperti Jeruklegi I dan Cilacap Selatan II bersama-sama menangani isu krusial ini melalui program-program terencana dengan baik hingga mencapai tingkat keberhasilan maksimal dalam upaya pengurangan angka prevalensi stunting pada masyarakat setempat.

Dengan berbagai langkah strategis tersebut mulai dari edukasi hingga intervensi langsung seperti pemberian makanan tambahan berbasis nutrisi berkualitas tinggi.

Upaya pengentasan masalah kesehatan besar ini terus dilanjutkan demi menciptakan generasi masa depan bebas hambatan pertumbuhan akibat dampak buruk kekurangan gizi kronis pada usia dini. (ray/stch)

Berita Sebelumnya
Ular sanca empat meter lukai warga

Ular Sanca Kembang Sepanjang Empat Meter Lukai Warga Selabaya Purbalingga

Berita Selanjutnya
Maling apes curi hp replika

Viral Maling Handphone di Banjarnegara Terekam CCTV, Ternyata Cuma Curi HP Replika