Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode
Dinkes Banjarnegara Genjot Cek Kesehatan Gratis, Target Cakupan 54 Persen pada 2026
Desa Jipang Banyumas Bersinar di Bulan Kemerdekaan, Lampu Hias dan Menara Bambu Jadi Daya Tarik

Desa Jipang Banyumas Bersinar di Bulan Kemerdekaan, Lampu Hias dan Menara Bambu Jadi Daya Tarik

Patungan Jutaan Wujudkan Jipang MenyalaPatungan Jutaan Wujudkan Jipang Menyala
LAUTAN CAHAYA – Ribuan lampu hias menghiasi jalan dan gang di Desa Jipang, Kecamatan Karanglewas, selama peringatan HUT ke-81 RI

BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Bulan Agustus selalu menghadirkan suasana berbeda di Desa Jipang, Kecamatan Karanglewas, Kabupaten Banyumas.

Memasuki peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, seluruh sudut desa berubah menjadi pusat kreativitas warga.

Jalan-jalan kampung dihiasi ribuan lampu warna-warni, ornamen bertema perjuangan, hingga bangunan ikonik hasil karya masyarakat yang dikerjakan secara gotong royong.

Tradisi tersebut kembali hidup melalui kegiatan Jipang Menyala 2026, sebuah perlombaan dekorasi kampung yang untuk pertama kalinya digelar secara resmi oleh pemerintah desa.

Bukan sekadar mempercantik lingkungan, kegiatan ini menjadi simbol kuatnya budaya gotong royong sekaligus bentuk kecintaan warga terhadap tanah air.

Sejak akhir Juli, hampir setiap malam warga berkumpul setelah menyelesaikan aktivitas sehari-hari.

Suara gergaji, palu, dan mesin pemotong bambu terdengar dari berbagai sudut kampung.

Kaum pria menyusun rangka dekorasi, sementara ibu-ibu menyiapkan berbagai hiasan yang akan dipasang di sepanjang jalan desa.

Anak-anak hingga remaja pun ikut membantu sesuai kemampuan mereka.

Di RT 2 RW 3, semangat kebersamaan diwujudkan melalui pembangunan Menara Aspirasi 7 Pahlawan Revolusi setinggi kurang lebih sembilan meter.

Menara tersebut seluruhnya dibuat dari bambu dan menjadi salah satu ikon utama Jipang Menyala tahun ini.

Ketua RT 2 RW 3, Tasam, mengatakan pembangunan menara dilakukan secara swadaya oleh sekitar 84 kepala keluarga.

Seluruh biaya pembangunan berasal dari hasil patungan warga yang mencapai sekitar Rp10 juta, tanpa bantuan sponsor maupun proyek pemerintah.

“Warga tidak keberatan menyumbang tenaga maupun biaya demi mewujudkan menara bambu. Kami bergotong royong membangun menara selama kurang lebih 20 hari sejak Juli,” ujarnya.

Menurut Tasam, seluruh warga sejak awal bersepakat menghadirkan sesuatu yang berbeda dalam menyambut HUT ke-81 RI.

Perlombaan Jipang Menyala menjadi momentum untuk menghidupkan kembali budaya gotong royong yang selama ini menjadi identitas masyarakat desa.

Inspirasi pembangunan menara ternyata berasal dari berbagai referensi yang ditemukan warga melalui internet.

Mereka mencari contoh desain dari YouTube, TikTok, hingga Google, kemudian memodifikasinya agar sesuai dengan kemampuan serta bahan yang tersedia di desa.

Salah seorang warga, Kirto, mengungkapkan bahwa proses perencanaan dilakukan secara sederhana namun penuh semangat.

“Idenya mencari dari YouTube, TikTok, dan Google, kemudian kami sesuaikan,” katanya.

Semangat serupa juga terlihat di RT 3 RW 2. Warga di wilayah tersebut memilih mengangkat tema keberagaman budaya Indonesia.

Berbagai ornamen seperti tokoh Gatotkaca, Burung Garuda, hingga figur adu banteng dipasang di sepanjang jalan kampung sehingga menghadirkan suasana yang berbeda bagi setiap pengunjung.

Pengerjaan dekorasi melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Kaum ibu membuat berbagai hiasan menggunakan tali rafia dan bahan sederhana lainnya, sedangkan kaum pria bertugas menyusun rangka dekorasi, memasang lampu, serta menyelesaikan instalasi utama.

Perancang dekorasi RT 3 RW 2, Anto Joh, mengatakan seluruh proses dilakukan secara gotong royong dengan anggaran sekitar Rp10 juta.

“Mulai dari pembuatan ornamen hingga pemasangan, semua warga RT 3 RW 2 terlibat gotong royong,” ujarnya.

Hasil kerja keras tersebut kini menjadikan Desa Jipang berubah menjadi lautan cahaya setiap malam.

Ribuan lampu LED menghiasi jalan desa dan menciptakan pemandangan yang memikat.

Tidak hanya warga sekitar, pengunjung dari berbagai daerah mulai berdatangan untuk menikmati kemeriahan suasana Agustusan di Desa Jipang.

Salah satu pengunjung, Puji Sabariah, warga Desa Pasir Wetan, mengaku hampir setiap tahun datang menikmati suasana Jipang saat bulan kemerdekaan.

“Setiap tahun saya ke sini karena suasananya berbeda,” tuturnya.

Hal senada disampaikan Samirah, warga Karanglewas. Ia mengetahui keberadaan Jipang Menyala melalui media sosial sebelum akhirnya datang langsung bersama keluarganya.

“Nuansanya bagus sekali dan kreatif. Saya kira ini berbeda dengan desa-desa lain,” katanya.

Ketua Panitia HUT ke-81 RI Desa Jipang, Atik Setiyowati, menjelaskan bahwa perlombaan Jipang Menyala merupakan inovasi baru meskipun tradisi memasang lampu hias sebenarnya sudah berlangsung selama bertahun-tahun.

Pada pelaksanaan perdana ini, panitia menyediakan total hadiah Rp50 juta.

Setiap RT diberikan kebebasan menentukan konsep dekorasi masing-masing sehingga menghasilkan beragam karya kreatif yang memiliki ciri khas tersendiri.

Sementara itu, Kepala Desa Jipang, Hartanto, menilai tingginya partisipasi masyarakat membuktikan budaya gotong royong masih tumbuh kuat di tengah perkembangan zaman.

Menurutnya, kemeriahan perayaan kemerdekaan bukan semata-mata untuk mengejar kemenangan dalam lomba, melainkan sebagai bentuk nyata rasa cinta kepada Indonesia.

“Ini bukti warga Desa Jipang sangat cinta terhadap tanah air. Mereka tidak melihat siapa pemimpinnya, tetapi ingin menunjukkan rasa nasionalisme setiap bulan kemerdekaan,” katanya.

Melalui Jipang Menyala 2026, warga Desa Jipang tidak hanya menghadirkan dekorasi yang indah dipandang, tetapi juga memperlihatkan bahwa semangat kebersamaan masih menjadi kekuatan utama masyarakat.

Dari hasil patungan, kerja sukarela, dan gotong royong selama berminggu-minggu, lahirlah sebuah perayaan kemerdekaan yang mampu menarik ribuan pengunjung sekaligus mempererat persaudaraan antarwarga.

Cahaya lampu yang menghiasi desa memang memikat mata, namun semangat gotong royong masyarakat Jipang menjadi cahaya sesungguhnya yang membuat kampung tersebut terus bersinar setiap peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia. (*/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Layanan Jemput Bola CKG Digencarkan

Dinkes Banjarnegara Genjot Cek Kesehatan Gratis, Target Cakupan 54 Persen pada 2026