BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Musim kemarau yang diprediksi berlangsung lebih panjang tidak membuat petani di Desa Sibalung, Kecamatan Kemranjen, Banyumas, menghentikan aktivitas bercocok tanam.
Petani justru menyiapkan strategi agar lahan sawah tetap produktif dengan menerapkan sistem pethuk.
Sistem tersebut dilakukan dengan membuat persemaian benih padi sebelum tanaman yang berada di lahan selesai dipanen.
Dengan begitu, ketika proses panen dan pengolahan lahan selesai, bibit yang sudah disiapkan dapat langsung dipindahkan untuk musim tanam berikutnya.
Pola tersebut diterapkan petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Ngudi Rahayu.
Mereka berupaya memaksimalkan penggunaan lahan dengan mengejar target tiga kali penanaman padi dalam satu tahun.
Petani Desa Sibalung menilai sistem pethuk dapat menghemat waktu karena proses persemaian dan persiapan lahan dilakukan secara bersamaan.
Petani tidak perlu menunggu panen selesai untuk mulai menyiapkan bibit bagi musim tanam berikutnya.
Salah seorang petani, Madsuhedi, mengatakan persemaian dilakukan lebih awal agar bibit padi sudah siap ketika lahan selesai dipanen dan diolah.
“Persemaian bibit padi sudah 17 hari. Lahan untuk tanam sedang disiapkan,” kata Madsuhedi, Jumat (7/8).
Menurutnya, proses tersebut dimulai dengan memanen tanaman padi yang sudah cukup tua sesuai kebutuhan.
Sementara itu, sebagian lahan atau tempat tertentu telah digunakan untuk menyiapkan persemaian.
Ketika seluruh tanaman di lahan utama selesai dipanen, benih yang telah tumbuh dapat segera dipindahkan.
Pola tersebut membuat jeda antara masa panen dan masa tanam berikutnya dapat ditekan.
Strategi tersebut menjadi penting karena petani tetap ingin menjaga produktivitas lahan meski kondisi cuaca memasuki musim kemarau.
Selama ketersediaan air masih mencukupi, lahan sawah diharapkan tidak dibiarkan menganggur.
Petani lainnya, Sudiman, juga melakukan persiapan untuk musim tanam berikutnya.
Ia membersihkan sisa tanaman padi yang baru dipanen sehari sebelumnya agar proses pengolahan lahan dapat segera dilakukan.
Di saat yang sama, persemaian miliknya telah berusia sekitar satu minggu.
Dengan demikian, ketika lahan selesai dipersiapkan, bibit diharapkan sudah cukup siap untuk dipindahkan.
“Walaupun kemarau, pengairan sepertinya masih tercukupi. Eman-eman kalau sawah menganggur, jadi tanam padi lagi,” ujar Sudiman.
Ketersediaan air menjadi salah satu pertimbangan utama petani dalam menentukan keberlanjutan musim tanam.
Meskipun kemarau diprediksi lebih panjang, petani Sibalung masih melihat kondisi pengairan cukup mendukung untuk melanjutkan penanaman padi.
Selain mengandalkan strategi tanam, petani juga mendapatkan dukungan melalui bantuan benih.
Penyuluh Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Kemranjen, Kanti Yualita, mengatakan terdapat enam kelompok tani di Desa Sibalung yang memperoleh bantuan benih padi varietas Ciherang dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.
Bantuan benih tersebut menjadi bagian dari upaya mendukung gerakan sepuluh hari tanam atau G10T setelah panen.
Program tersebut diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendukung upaya mewujudkan swasembada pangan secara berkelanjutan.
Kanti mengatakan Kelompok Tani Ngudi Rahayu juga telah melakukan pertemuan untuk mempersiapkan musim tanam ketiga.
Koordinasi dilakukan agar petani dapat melakukan penanaman secara lebih kompak.
“Petani Kelompok Tani Ngudi Rahayu kemarin sudah ada pertemuan, musim tanam ke tiga ini supaya kompak untuk mengantisipasi serangan hama,” papar Kanti.
Kekompakan dalam musim tanam dinilai penting karena penanaman yang dilakukan dalam waktu relatif bersamaan dapat membantu petani mengantisipasi serangan hama.
Dengan pola tersebut, pengendalian hama dapat dilakukan secara lebih terkoordinasi.
Saat ini, sebagian petani lain di Desa Sibalung mulai mengikuti langkah serupa dengan menyiapkan persemaian benih padi.
Mereka memanfaatkan waktu setelah panen untuk mempersiapkan musim tanam ketiga.
Kelompok Tani Ngudi Rahayu sendiri mengelola hamparan sawah seluas sekitar 35 hektare di Desa Sibalung.
Luasan tersebut menjadi potensi penting dalam menjaga produksi pertanian di wilayah Kemranjen.
Dengan sistem pethuk, petani berharap lahan pertanian dapat terus dimanfaatkan secara optimal meskipun musim kemarau berlangsung lebih panjang.
Selama kebutuhan air masih dapat terpenuhi, petani memilih tetap menanam daripada membiarkan lahan sawah tidak produktif.
Strategi tersebut juga menunjukkan upaya petani beradaptasi dengan perubahan kondisi musim.
Percepatan persemaian, pengaturan waktu panen dan tanam, dukungan benih, serta koordinasi antarkelompok menjadi bagian dari persiapan menghadapi musim tanam ketiga.
Bagi petani Sibalung, menjaga produktivitas sawah bukan hanya soal mengejar hasil panen, tetapi juga memastikan lahan tetap menghasilkan sepanjang tahun.
Dengan persiapan lebih awal, mereka berharap target tiga kali tanam padi dapat tercapai meski tantangan musim kemarau masih berlangsung. (fij/stch/dda)














