BANYUMASEKSPRES.ID, Kehadiran kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) telah mengubah banyak aspek dalam dunia kerja.
Di sektor teknologi, gelombang efisiensi yang dilakukan perusahaan bahkan memicu pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap ribuan karyawan di berbagai posisi.
Namun, perkembangan AI ternyata tidak hanya menghilangkan pekerjaan. Di balik perubahan besar tersebut, muncul profesi-profesi baru yang justru mengalami lonjakan permintaan dan menawarkan gaji fantastis.
Salah satu posisi yang kini menjadi sorotan adalah forward-deployed engineer (FDE). Profesi ini dinilai memiliki peran strategis membantu perusahaan mengimplementasikan teknologi AI secara nyata.
Forward-Deployed Engineer Jadi Profesi Paling Diburu
Forward-deployed engineer merupakan profesi yang menggabungkan kemampuan teknis dengan pemahaman bisnis.
Tidak seperti programmer konvensional yang fokus mengembangkan perangkat lunak, FDE bekerja langsung bersama klien untuk mencari solusi atas permasalahan yang mereka hadapi.

Tugas utamanya adalah menyesuaikan model AI agar dapat diterapkan dalam operasional perusahaan. Selain itu, Komdigi berkolaborasi dengan JICA kembangkan SDM AI Indonesia melalui AI Talent Factory.
Hal ini memberikan kemudahan dalam menuliskan sebuah ide dalam promt yang sesuai dengan kebutuhan.
Mulai dari integrasi chatbot untuk layanan pelanggan, otomatisasi analisis dokumen, pengembangan sistem logistik berbasis AI, hingga menghubungkan model kecerdasan buatan dengan database internal perusahaan.
Popularitas profesi ini meningkat tajam seiring pesatnya adopsi AI generatif di berbagai industri. Disamping itu, perusahaan teknologi memberikan peran penting dalam kesuksesan industri tersebut pada AI.
Banyak perusahaan menyadari bahwa memiliki teknologi canggih saja tidak cukup tanpa sumber daya manusia yang mampu memastikan implementasinya berjalan efektif.
Laporan yang dikutip dari Business Insider menyebutkan bahwa jumlah lowongan pekerjaan untuk forward-deployed engineer mengalami pertumbuhan luar biasa.
Posisi ini bahkan disebut sebagai salah satu pekerjaan paling diminati di sektor teknologi saat ini. Kelangkaan tenaga ahli menjadi alasan utama tingginya permintaan tersebut.
Tak heran apabila gaji yang ditawarkan juga sangat kompetitif, mulai dari sekitar US$170 ribu hingga lebih dari US$200 ribu per tahun.
Apa yang Membuat FDE Sulit Digantikan AI?
Forward-deployed engineer membutuhkan kombinasi keterampilan yang kompleks. Selain memahami teknologi, mereka mampu berkomunikasi dengan klien, menganalisis kebutuhan bisnis, serta mengelola proses implementasi.
Kemampuan untuk menjembatani dunia teknis dan kebutuhan operasional perusahaan inilah yang membuat profesi tersebut sulit digantikan oleh otomatisasi.
Awalnya, konsep FDE dipopulerkan oleh perusahaan analitik data Palantir. Kini, berbagai perusahaan teknologi besar mulai aktif mencari talenta untuk mempercepat adopsi AI di lingkungan bisnis pelanggan.
Profesi Baru yang Muncul Berkat Booming AI
Perkembangan kecerdasan buatan juga melahirkan sejumlah pekerjaan baru yang sebelumnya jarang dikenal masyarakat. Beberapa di antaranya bahkan terdengar cukup unik.
AI Evangelist atau AI Storyteller
Perusahaan AI kini membutuhkan sosok yang mampu menjelaskan manfaat teknologi mereka kepada publik maupun komunitas bisnis.
Tugasnya bukan sekadar berbicara di depan umum, tetapi juga membangun hubungan dengan media, startup, dan ekosistem teknologi. Posisi ini menawarkan pendapatan tinggi dapat melampaui US$200 ribu per tahun.
AI Accelerator
Jika forward-deployed engineer berfokus pada kebutuhan klien eksternal, AI accelerator bertugas mendorong pemanfaatan AI di lingkungan internal perusahaan.
Mereka memastikan seluruh tim mampu menggunakan teknologi AI secara optimal dalam pekerjaan sehari-hari.
Profesi ini semakin dibutuhkan karena banyak organisasi masih kesulitan mengintegrasikan AI ke dalam budaya kerja.
Filsuf AI
Mungkin terdengar tidak biasa, tetapi lulusan filsafat kini memiliki peluang di industri teknologi. Perusahaan besar mulai merekrut ahli etika untuk memastikan sistem AI tetap selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan.
Mereka berperan dalam pengawasan keamanan model, etika penggunaan teknologi, hingga mengantisipasi dampak sosial dari kecerdasan buatan.
AI Gig Worker
Di sisi lain, AI juga menciptakan pekerjaan berbasis ekonomi gig. Para pekerja ini membantu melatih model AI melalui tugas-tugas sederhana.
Tugas tersebut seperti mengevaluasi jawaban chatbot, membantu proses terjemahan, atau mengajarkan konteks budaya kepada sistem AI.
Besaran upah yang diterima cukup beragam, tergantung tingkat kesulitan pekerjaan yang dilakukan.
Vibe Coder
Tren baru bernama vibe coding turut mencuri perhatian. Konsep ini memungkinkan seseorang mengembangkan aplikasi dengan bantuan AI tanpa harus menulis kode secara manual dalam jumlah besar.
Keahlian memanfaatkan AI untuk mempercepat proses pengembangan perangkat lunak membuat profesi ini semakin diminati oleh perusahaan teknologi.
Chief AI Officer, Jabatan Baru di Level Eksekutif
Transformasi AI tidak hanya menciptakan posisi teknis, tetapi juga melahirkan jabatan strategis di tingkat manajemen.
Sejumlah perusahaan besar kini memiliki Chief AI Officer yang bertugas menyusun arah kebijakan penggunaan AI di organisasi.
Peran ini mencakup pengawasan inovasi, tata kelola teknologi, hingga memastikan pemanfaatan AI berjalan secara bertanggung jawab. Fenomena ini menunjukkan bahwa AI bukan sekadar ancaman bagi dunia kerja.
Sebaliknya, teknologi ini juga membuka peluang karier baru bagi mereka yang mampu beradaptasi dan mengembangkan keterampilan sesuai kebutuhan industri.
Di era transformasi digital yang terus berkembang, kemampuan belajar dan memahami teknologi menjadi kunci utama untuk tetap relevan di pasar kerja masa depan. (*/nds)
















