BANYUMASEKSPRES.ID, PURBALINGGA – Lebih dari 50 personel Polri dan perwakilan dari berbagai kelompok masyarakat mengikuti pelatihan pemadaman kebakaran yang diselenggarakan di Mapolres Purbalingga pada Selasa, 23 Juni 2026.
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan baik anggota kepolisian maupun masyarakat dalam melakukan penanganan awal ketika terjadi kebakaran, sebelum petugas pemadam kebakaran tiba di lokasi kejadian.
Kabag Operasi Polres Purbalingga, Kompol Tri Arjo Irianto, menyatakan bahwa pelatihan ini menjadi bekal penting bagi anggota Polri serta masyarakat yang sering berinteraksi langsung dengan lingkungan sekitar mereka.
“Tujuannya agar anggota Polri atau kelompok masyarakat bisa membantu saat ada kebakaran,” ungkapnya.
Peningkatan kemampuan dasar dalam pemadaman kebakaran diyakini dapat meminimalkan risiko kerugian dan mempercepat penanganan saat terjadi keadaan darurat.
“Sehingga saat ada peristiwa kebakaran, baik anggota maupun kelompok masyarakat bisa melakukan perbantuan,” tambahnya.
Peserta pelatihan berasal dari berbagai unsur yang mencerminkan keragaman dalam upaya pencegahan kebakaran di daerah tersebut.
Di antaranya adalah Senkom Mitra Polri, Forum Kemitraan Polisi dan Masyarakat (FKPM), Keluarga Besar Putra Putri Polri (KBPPP), kelompok sadar kamtibmas, serta karyawan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Kemala Bhayangkari.
Partisipasi dari berbagai unsur ini menunjukkan komitmen bersama dalam meningkatkan keselamatan masyarakat terkait risiko kebakaran.
Pelatihan ini menghadirkan instruktur dari Bidang Pemadam Kebakaran Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Purbalingga.
Materi yang diberikan terdiri dari kombinasi antara teori dan praktik langsung di lapangan, sehingga peserta tidak hanya mendapatkan pengetahuan tetapi juga pengalaman nyata dalam penanganan kebakaran sesuai dengan jenis dan tingkat bahayanya.
Petugas Damkar Purbalingga, Teguh Rame, menjelaskan bahwa kebakaran dibedakan menjadi beberapa kelas berdasarkan sumber apinya.
“Kelas A berasal dari bahan padat, kelas B dari benda cair, kelas C dari listrik, dan kelas D berasal dari bahan dasar logam,” jelasnya.
Pemahaman tentang klasifikasi ini sangat penting agar peserta dapat mengambil langkah-langkah yang tepat saat menghadapi berbagai situasi kebakaran.
Selain itu, peserta juga dikenalkan dengan berbagai metode pemadaman.
Mereka diajarkan menggunakan alat sederhana seperti karung dan ember hingga penggunaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR).
Dalam sesi praktik, peserta melakukan simulasi pemadaman pada berbagai skenario kebakaran yang mungkin terjadi di kehidupan sehari-hari, mulai dari kebocoran tabung gas, kebakaran peralatan memasak, hingga api yang sudah membesar.
Setiap peserta diberikan kesempatan untuk melakukan pemadaman secara langsung di bawah pengawasan instruktur Damkar.
Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa teknik yang digunakan sesuai dengan prosedur keselamatan yang berlaku.
Dengan cara ini, para peserta dilatih untuk tidak hanya tahu teori tetapi juga mampu menerapkannya dalam situasi mendesak. (tya/stch/dda)














