Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Desa Dawuhan Banjarnegara Sukses Ubah Lereng Longsor Jadi Kebun Kopi Arabika

Ubah lereng longsor jadi lahan produktifUbah lereng longsor jadi lahan produktif
PANEN: Petani kopi Dawuhan saat memanen kopi di wilayah lereng

BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Desa Dawuhan, yang terletak di Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Banjarnegara, telah mengalami transformasi luar biasa.

Dulu, daerah ini terkenal sebagai wilayah yang sering dilanda longsor akibat curah hujan tinggi dan tanah yang tidak stabil.

Namun, kini desa tersebut telah beralih menjadi sentra kopi arabika yang produktif dan menjadi contoh sukses adaptasi lingkungan untuk kesejahteraan ekonomi.

Transformasi ini dimulai pada tahun 2012 saat warga Desa Dawuhan memutuskan untuk beralih dari menanam jagung ke kopi arabika.

Keputusan ini dipicu oleh keprihatinan terhadap kondisi tanah di lereng-lereng yang semakin parah akibat penanaman jagung.

Menurut Tuhri, perangkat Desa Dawuhan, tanaman jagung yang dibudidayakan di lahan miring justru mempercepat erosi tanah.

“Dulunya di lereng-lereng warga menanam jagung, tapi tanahnya cepat tergerus air. Saat musim hujan sering longsor karena minim pohon besar,” ungkap Tuhri kepada awak media pada Rabu (5/11).

Upaya mengatasi masalah ini dilakukan dengan menanam kopi arabika yang memiliki akar kuat dan mampu menahan struktur tanah lebih baik.

Seiring waktu, perubahan tersebut mulai menunjukkan hasil positif. Setelah lebih dari satu dekade, daerah yang dulunya rawan longsor sekarang jarang mengalami bencana serupa.

“Sekarang jarang sekali terjadi longsor dan tanah juga lebih kuat. Alhamdulillah, kopi justru memberi hasil ekonomi yang lebih baik,” lanjut Tuhri.

Banyak dari mereka merasa ragu karena pada waktu itu nilai jual kopi belum tinggi dan belum ada jaminan keuntungan ekonomi jangka pendek seperti halnya jagung atau sayuran musiman.

“Awalnya susah, banyak yang enggan beralih. Tapi setelah tahu nilai ekonominya dan kopi Dawuhan makin dikenal, sekarang semua semangat menanam kopi,” jelas Tuhri.

Saat ini, Desa Dawuhan memiliki sekitar 25 hektare lahan kopi arabika dengan sekitar 5 hektare sudah dalam tahap produktif penuh.

Hasil panen dari tanaman kopi kini menjadi sumber penghidupan utama bagi masyarakat setempat yang dulunya bergantung pada tanaman semusim seperti jagung.

Salah satu petani kopi setempat, Nur Kodar, mengakui bahwa beralih ke tanaman kopi memberikan keuntungan ekonomi yang jauh lebih besar dibandingkan dengan tanaman semusim lainnya.

“Kalau dihitung-hitung, kopi lebih optimal. Dulu banyak lahan kosong berbatu yang tidak menghasilkan, sekarang bisa ditanami dan jadi sumber penghasilan,” ujarnya.

Selain memberikan manfaat ekonomi, penanaman kopi juga membawa keuntungan ekologis bagi desa tersebut.

Menurut Nur Kodar lagi, tanaman kopi membantu menjaga lingkungan sekitar dengan mengurangi risiko erosi dan longsor.

“Selain bisa dijual, kopi juga menjaga lingkungan. Sekarang hampir tidak ada erosi atau longsor seperti dulu,” tambahnya.

Keberhasilan Desa Dawuhan dalam mengubah tantangan lingkungan menjadi peluang ekonomi menunjukkan bahwa adaptasi terhadap kondisi alam dapat menyelamatkan lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal.

Transformasi ini tidak hanya mengubah wajah Desa Dawuhan tetapi juga memberikan inspirasi bagi daerah lain yang menghadapi masalah serupa.

Kini aroma khas kopi arabika dari pegunungan Banjarnegara menjadi ciri khas baru desa ini.

Dengan tekad kuat dan kerja keras warganya, Dawuhan berhasil bangkit dari keterpurukan menjadi desa produktif melalui inovasi pertanian berkelanjutan. (jud/dda)

Berita Sebelumnya
Sisa satu paket lelang, perbaikan jalan dikebut

Pemkab Purbalingga Percepat Pengerjaan 130 Ruas Jalan, Hanya Satu Paket Masih Lelang

Berita Selanjutnya
Pemutihan tunggakan iuran bpjs kesehatan akan segera dilaksanakan

Cek Syarat Pemutihan Tunggakan Iuran BPJS Kesehatan 2025, Dimulai Akhir Tahun